Puasa dan Pembangunan Peradaban

Puasa dan Pembangunan Peradaban

122
BERBAGI
Dani Hamdani
DR H Dani Hamdani, M.Pd

SESUNGGUHNYA peradaban yang dikehendaki Islam bukanlah peradaban yang lebih memperhatikan aspek materi, jasmani dan instink manusia atau kenikmatan dunia lainnya yang bersifat fana. Peradaban dalam Islam menghubungkan manusia dengan tuhannya, bumi dengan langit. Dunia dijadikan sarana untuk menuju akhirat; menggabungkan unsur spiritual dengan material, menyeimbangkan antara akal dengan hati, menyatukan ilmu dan iman dan meningkatkan moral seiring dengan peningkatan material.

Dalam rangka mewujudkan peradaban yang dikehendaki Islam tersebut Allah Swt dengan Rahmat-Nya mengutus seorang Rasul dengan membawa ajaran yang memperhatikan aspek spiritual dan material, idealis dan realis, rabbani dan insani, moralis dan konstruktif, yang memperhatikan aspek individu dan sosial, agar menjadi peradaban yang seimbang dan moderat yang menjadi dasar munculnya umatan washatan yang menuntun umat manusia menuju hidup berkeadilan.

Karenanya, Allah turunkan Al-Quran, sebuah pedoman hidup, kitab rujukan bagi peradaban manusia. Dua peristiwa besar tersebut (bi’tsah dan turunnya Al-Quran) justru terjadi di bulan Ramadhan, sebagaimana penjelasan Allah Swt dalam Al-Quran:
“Bulan Ramadan, dimana diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk hidup dan penerang bagi petunjuk dan furqan”. (QS. Al-Baqarah: 185).

Untuk mengemban amanat peradaban yang dikehendaki Islam memerlukan manusia-manusia berdaya dan berkualitas, yaitu insan mukmin seutuhnya; Merekalah yang menjunjung tinggi dan memberikan keharuman semerbak bagi peradaban rabbani tersebut. Mereka itulah yang disebut-sebut dalam Al-Quran orang-orang bertakwa (al-muttaqin) yaitu manusia mukmin multazim (komitmen) terhadap Islam secara utuh: akidah, ibadah dan muamalah. Orang yang takwa juga berarti mereka yang memiliki kehati-hatian dalam sikap dan berprilaku, sebagaimana definisi yang dikatakan Umar bin Khaththab (Takwa ialah: berjalan ditengah hutan dengan hati-hati). Berarti sikap takwa tersebut tercermin dalam semua dimensi kehidupan, akidah, ideologi, sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.

Allah mensyariatkan shaum (puasa) selama satu bulan di bulan Ramadhan menghendaki maksud tertentu, yakni agar orang beriman yang melaksanakan kewajiban shaum menjadi orang-orang bertakwa. Karenanya berbagai aktifitas Ramadhan mengarah kepada pembentukan manusia yang memiliki kualifikasi kemampuan mengemban misi peradaban ilahiah, kepribadian utuh dalam aspek ruhiah, akliah dan jasadiah. Dari aspek ruhiah, kita dapati berbagai aktivitas Ramadan yang membimbing seorang mukmin memelihara dan meningkatkan ruhiahnya. Sebut saja sholat taraweh atau qiyamullail (shalat malam), tilawah Al-Quran, I’tikaf dan sebagainya.

Dalam memenuhi kebutuhan aqliah setiap mukmin dapat merasakan nikmat mendengarkan kuliah shubuh lewat berbagai media massa atau di masjid-masjid, Ia pun dapat menghadiri kuliah dzuhur atau ceramah taraweh, semuanya dilakukan dalam rangka menambah wawasan keislamannya, agar ia dapat melaksanakan ibadah kepada Allah dengan dasar ilmu bukan sekedar taklid buta. Demikian pula arahan-arahan yang berorientasi jasadiah, antara lain: arahan untuk menikmati keberkahan makan sahur.

Jika makna “manusia beradab” adalah ia yang memiliki moralitas agama yang mulia, dalam bulan Ramadhan ini setiap mukmin ditempa untuk menjadi manusia seperti itu, karena ia dilatih selama sebulan untuk memelihara lisan, bersikap dan berprilaku moralis yang jujur, ikhlas, disiplin ta’at aturan,kepedulian serta mengendalikan hawa nafsunya.

Masyarakat berperadaban yakni masyarakat ideal yang dicitakan Islam, yaitu sosok masyarakat yang diwarnai oleh jalinan solidaritas sosial yang tinggi, rasa persaudaraan yang solid antar manusia. Masyarakat tersebut bukan suatu utopis, karena masyarakat seperti ini pernah eksis dalam masyarakat madani yang dibina Rasulullah Saw .

Ramadhan merupakan peluang besar untuk melakukan training menjadi manusia yang adil dan beradab, yakni manusia yang memiliki jiwa sosial dan peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. Pada saat itu setiap mukmin dilatih melakukan sedekah, infak atau zakat, sebagai indikasi kepedulian sosialnya. Ia pun dilatih untuk dapat merasakan rasa letih dan lapar, agar ia memiliki rasa belas kasih kepada si miskin papa, tidak bersikap beringas, keras tanpa ada sedikit rasa kemanusiaan.

Sudahkah kriteria manusia muttaqin itu kita raih? Sudahkah sifat dan sikap beradab tersebut kita miliki. Sudahkah nilai-nilai Ramadhan tersebut tercermin pada kehidupan masyarakat dan bangsa kita.

Tentunya masing-masing yakin, bahwa manusia-manusia yang menjiwai Ramadan dalam diri mereka dan shaum yang dilakukan telah mampu menjadikan dirinya manusia yang adil dan beradab, niscaya jiwa dan hati mereka akan terpanggil untuk membantu saudara-saudaranya yang tengah mengalami kesulitan dan kesempitan moril dan materil. Sebagaimana kita yakin, manusia semacam itu tidak akan tega membiarkan umat Islam di belahan bumi Indonesia dan tempat lainnya dalam kesengsaraan yang tiada henti, mereka tidak akan menginginkan bangsa ini terpecah belah. Sebab ukhuwwah (persaudaraan) dan wihdah (persatuan) adalah motto masyarakat berperadaban, menuju bangsa yang beriman kepada Allah Swt.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

8 − five =