PMI Latih Pasukan Elit Tanggap Darurat Bencana

PMI Latih Pasukan Elit Tanggap Darurat Bencana

BERBAGI
Topher/RBO: Pasukan Elit PMI saat prosesi pelatihan Tanggap Darurat Bencana

RBO, BENGKULU – Sebanyak 45 anggota Palang Merah Indonesia (PMI) mengikuti pelatihan manajeman tanggap darurat bencana tingkat provinsi di lapangan Jenggalu Adventure Camp.

Pelatihan yang  berlangsung dari tanggal 11 sampai 16 september 2017 diikuti oleh anggota PMI dari berbagai bupaten, diantaranya Rejang Lebong, Kaur, Mukomuko, Bengkulu Tengah, Lebong dan Bengkulu Utara.

“Ada tiga kabupaten yang tidak ikut yakni Seluma, Bengkulu Selatan dan Kepahiang,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Bengkulu, Vice Elese, Jumat (15/09).

Dikatakan dia, materi yang diberikan kepada peserta lebih kepada tentang tanggap darurat bencana mulai dari persiapan posko, administrasi posko, pertolongan psikis (trauma healing), logistik dan komunikasi eksternal.

“45 peserta ini merupakan anggota satuan tanggap bencana (Satgana). Meraka adalah pasukan elitnya PMI. Jadi kalau ada bencana mereka yang terlebih dahulu bergerak sebelum relawan datang,” kata Vice.

Satgana dilatih untuk tanggap bencana secara keseluruhan dari awal hingga selesai. Pelatihan tanggap darurat bencana merupakan kerjasama antara PMI dan Japanese Cross Society (JRCS). “Jadi mereka dilatih untuk selalu siaga dan siap dalam berbagai peristiwa bencana,” ujar dia.

Disisi lain Vice juga mengatakan selain kebencanaan Satgana tersebut juga dilatih mengenai ketahanan fisik dan baris berbaris yang dilatih langsung oleh Pihak Korem. “Sejak saya bergabung di PMI sejak tahun 1986, tidak pernah ada yang namanya pelatihan khusus mengenai baris berbaris, makanya kami minta bantuan Korem untuk ikut melatih bagaimana nanti Satgana ini juga memahami mengenai barus berbaris,” sampai dia.

Simulasi Penanganan Gempa 7,5 SR
Pada pelatihan ini juga, anggota Satgana melakukan simulasi penanggulangan bencana. Skenarionya, disuatu daerah terjadi bencana alam gempa bumi. Musibah tersebut terjadi pada pukul 17.00 WIB. Dimana saat itu masyarakat baru saja usai melaksanakan ibadah solat maghrib. Saat bersiap-siap untuk makan malam dengan anggota keluarga seperti biasa.
Masyarakat desa sebagian adalah bermata pencarian sebagai nelayan. Sumber pandapatan lain ada yang berprofesi sebagai buruh di pelelangan ikan yang dikelola oleh Dinas Perikanan Kota Madya.

Tiba-tiba kehidupan masyarakat yang tenang dikejutkan dengan terjadinya guncangan yang sangat kuat dan terasa sampai di keselurahan Kabupaten yang ada di Provinsi tersebut dan 3 Provinsi tetangga.

Situasi masyarakat desa pada menit awal terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,5 SR  terjadi hiruk pikuk, anak-anak menangis dan semua anggota keluarga atau keseleruhan warga masyarakat berhamburan keluar rumah dan memenuhi badan jalan desa untuk menyelamatkan diri.

“Anggota Satganas ditantang untuk mengambil langkah-langkah respons terhadap kejadian gempa bumi 7,5 SR dan mereka harus memahami apa yang harus dilakukan,” singkat dia. (hcr)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

two × one =