Pengurangan Kuota BPP-DN dan BUDI-DN 2017 Diprotes

Pengurangan Kuota BPP-DN dan BUDI-DN 2017 Diprotes

248
BERBAGI
Beasiswa

RBO, BENGKULU – Adanya pengurangan kuota penerimaan dosen dalam program beasiswa S3 Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN) dan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Dalam Negeri (BUDI-DN) oleh Pemerintahan Jokowi diprotes sejumlah dosen dari seluruh Indonesia. Tak terkecuali dosen di Bengkulu.

Para dosen ini menuntut adanya penambahan kuota penerimaan dosen dalam program beasiswa S3 Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN) dan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Dalam Negeri (BUDI-DN).

Tuntutan itu muncul setelah para dosen tersebut melihat pengumuman daftar penerima beasiswa BPP-DN dan BUDI-DN 2017 beberapa hari lalu. Ternyata yang dinyatakan lolos jauh lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Para dosen yang dinyatakan tidak lolos itu membuat petisi di laman change.org, dengan judul “tambahkan kuota BPPDN dan BUDIDN”. Petisi yang dibuat itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Dikti, dan Komisi X.

“Kami sebagai dosen yang menjadi mahasiswa S-3 se-Indonesia, pendaftar beasiswa BPPDN dan BUDI DN tahun 2017 dan dinyatakan tidak lolos merasa tersakiti dan terdiskriminasi dengan jumlah kuota ini. Seakan-akan pendidikan Indonesia bergerak mundur dan tidak menjadi perhatian Pemerintah. Di satu sisi dosen dituntut untuk menempuh pendidikan S-3, namun di sisi lain Pemerintah memangkas anggaran dan fasilitas pendidikan dosen yang sudah berlaku seperti tahun-tahun sebelumnya. Itu yang di tulis perwakilan kawan-kawan dosen dalam petisi itu,” terang Catur Wulandari, S.Pd, M.Pd, dosen Universitas Bengkulu yang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, kemarin (9/10).

Diterangkan, kebutuhan dosen S-3 di beberapa universitas sangat dibutuhkan sehingga diperlukan adanya beasiswa tersebut. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit di satu Program Studi belum ada dosen dengan kualifikasi S-3.

“Bagi kami, kuliah dengan biaya mandiri tidak semua mampu. Berbagai faktor penyebabnya. Salah satu diantaranya, gaji yang masih dibawah standar sebagai lulusan S-2 yang mengajar di berbagai Perguruan Tinggi. Belum lagi tuntutan kuliah yang membutuhkan biaya besar. Sebagian besar dari kami berasal dari daerah, meninggalkan keluarga demi menempuh jalur pendidian S-3. Bahkan, di antara kami juga banyak yang terpaksa berutang guna membayar UKT terlebih dahulu dengan harapan akan mendapatkan beasiswa nantinya,” terangnya.

Namun, kenyataannya, lanjutnya, pahit yang dirasakan sebagian penerima beasiswa yang dinyatakan tidak lolos memperoleh beasiswa.

“Oleh karena itu, kami menyatakan sikap dan menuntut adanya penambahan kuota beasiswa BPPDN dan BUDI DN tahun 2017 bagi semua mahasiswa S-3 tahun ini yang sudah dinyatakan tidak lolos sebagai penerima,” pungkasnya. (ags)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

three × 3 =