RM-Lily Pelaku Utama, di Tuntut 10 Tahun Penjara

RM-Lily Pelaku Utama, di Tuntut 10 Tahun Penjara

101
BERBAGI
Dedi/RBO - RM dan Lily Martiani Maddari seusai dituntut JPU 10 tahun penjara dipersidangan kemarin

Tidak Menyesal dan Pejabat pula serta Hak Politik RM Dicabut

RBO, BENGKULU – Nasib Gubernur Bengkulu (nonaktif), Dr H Ridwan Mukti, MH dan Istrinya Hj.Lely Maddari bakal tragis. Orang kaya dan pejabat penting itu bakal menghabiskan masa tuanya di penjara. Sebab Jaksa Penuntut Umum KPK menuntut pidana penjara masing-masing selama 10 tahun penjara dalam sidang yang digelar Kamis sore (07/12).
Selain itu, JPU pun meminta majelis hakim agar mencabut hak politik Ridwan Mukti selama 5 tahun, seusai menjalani hukuman pokok nantinya. Tuntutan ini menurut JPU sudah sesuai dengan dakwaan pasal 12 a yang didakwakan kepada Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti yang merupakan pejabat negara. Dimana dalam isi tuntutan tersebut, Ridwan Mukti sebagai penyelenggara negara sudah terbukti melalui keterangan 21 orang saksi-saksi di persidangan, yang telah bersaksi di bawah sumpah.
Banyak hal yang memberatkan ke dua orang terdakwa. Diantaranya Ridwan Mukti merupakan penyelenggara Negara, tidak mengakui perbuatannya, dan tidak menyesali perbuatan yang sudah dilakukan.
“Kepada majelis hakim, agar menghukum pidana kepada ke 2 orang terdakwa masing-masing selama 10 tahun penjara. Serta pencabutan hak politik selama 5 tahun setelah menjalani hukuman pokok,” kata Haerudin, juru bicara JPU KPK.

Haerudin: 10 Tahun Itu Masih Ada Pertimbangan
Semedntara itu H Ridwan Mukti, MH terlihat murung dan merah mendapat tuntutan 10 tahun itu. Sedangkan sang istri Lily Martiani Maddari tertunduk dan enggan melihat kiri kanan seusai tuntutan dibacakan. Dalam persidangan itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) komisi Pembrantasan Korupsi (KPK) Haerudin menyatakan terdakwa Ridwan Mukti dan istri Lily Martiani Maddari terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah menerima suap fee proyek 1 Miliar. Dan menuntut masing-masing terdakwa 10 tahun penjara dan pidana denda Rp 400 Juta subsidair 4 Bulan, kemudian khusus untuk terdakwa Ridwan Mukti juga pidana tambahan yaitu mencabut hak politik dan tidak boleh mengikuti pencalonan lagi. Sidang dengan agenda pembacaan surat tuntutan itu diketuai oleh Majelis hakim Admiral SH, MH, didampingi hakim anggota Gabriel Sialagan SH, MH, dan Nic Samara SH,MH.
Haerudin dalam surat tuntutannya menyampaikan, bahwa sesuai dengan fakta, keterangan saksi, dan barang bukti yang terungkap dimuka persidangan terdakwa Ridwan Mukti dan Lily Martiani Maddari terbukti bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. Oleh karena itu JPU berkesimpulan dan menyatakan terdakwa Ridwan Mukti terbukti bersalah menggunakan kekuasaan dan melibatkan istri Lily Martiani Maddari untuk menerima suap fee Proyek Rp 1 Miliar dari Napi Joni Wijaya melalui perantara Rico Can. Adapun hal yang memberatkan terdakwa khusus untuk terdakwa Ridwan Mukti pertama tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, menyalahgunakan kekuasaannya sebagai penyelenggara negara dan melibatkan Istri Lily Martiani Maddari. Kemudian hal yang memberatkan terdakwa Lily Martiani Maddari, pertama tidak mengakui perbuatannya dan perbuatannya memperkaya diri sendiri dengan menggunakan kekuasaan Ridwan Mukti.
“Perbuatan terdakwa Ridwan Mukti dan Lily Martiani Maddari sebagaimana diatur dalam Pasal 12 huruf a UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dan menuntut masing-masing terdakwa dengan pidana sebagaimana disebut diatas,” pungkasnya.
Rucipto selaku Penasihat Hukum (PH) terdakwa saat dikonfirmasi terkait dengan tuntutan JPU itu mengatakan, tuntutan yang disampaikan oleh JPU itu berdasarkan pemahaman dan persepsi.
“Ridwan Mukti tidak ada keterkaitan dalam pemberian uang Rp 1 Miliar itu. Kemudian untuk pencabutan hak politik itu kami sangat merasa keberatan karena itu adalah pekerjaan seseorang nanti semua keberatan ini akan kita tuangkan dipembelaan nantinya. Yang jelas tuntutan yang disampaikan JPU itu nanti kami tuangkan semua di pembelaan saya kira demikian,” singkatnya.
Sementara itu Fitroh Roh Cahyanto selaku ketua tim JPU saat dikonfirmasi mengatakan, tuntutan yang disampaikannya itu sesuai dengan pertimbangan dan sesuai dengan pembuktian dan keterangan saksi yang menguat yang terungkap di persidangan.
“Tuntutan 10 tahun ini belum maksimal. Masih ada pertimbangan, kita juga mengajukan permohonan dengan Majelis hakim untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya. Nanti kita lihat saja berapa putusan dari majelis hakim. Kalau menurut pandangan kita pelaku utama dalam perkara ini adalah Ridwan Mukti dan Lily Martiani,” ucapnya. (ide)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

10 − two =