Ikan Gelodok, Diantara Akar Mangrove Sungai Jenggalu

Ikan Gelodok, Diantara Akar Mangrove Sungai Jenggalu

1523
BERBAGI
TOPHER/RBO: Ikan Gelodok sedang berjalan-jalan di akar pohon Mangrove

Ikan Berjalan saja sudah aneh. Apalagi ikan yang berjalan di antara akar-akaran pohon mangrove ini lebih aneh lagi. Ikan berjalan tersebut adalah ikan Gelodok atau ikan Belacak (Melayu), atau ikan Ceti (Bengkulu) atau “Mudskipper” atau si peloncat lumpur (Inggris), sedangkan nama latin dari spesies tersebut adalah Periophthalmus sp, sedangkan nama lokalnya biasa disebut dengan ikan Gelodok.

Oleh H. Christopher – Kota Bengkulu

Ikan ini sangat banyak di aliran sungai Muara Jenggalu karena memang ekosistemnya yang berlumpur dan payau, serta masih banyak pohon mangrove di kanan kiri sungai. Ikan gelodok ini hampir 90 persen hidupnya di daratan di pinggiran sunggai dengan berjalan-jalan di lumpur dan di sela-sela akar pohon mangrove.

Pemerhati ikan dan burung Provinsi Bengkulu, Riki Rahmansyah menyebutkan ikan gelodok ini termasuk ikan yang endemis sehingga tidak dapat dijumpai disembarang tempat.

“Ikan Gelodok ini hidup di daerah yang berlumpur (muara sungai dan terpengaruh oleh pasang surut air laut) dan juga di daerah yang ada ekosistem mangrove,” kata dia kepada jurnalis.

Riki menjelaskan mengapa ikan ini hanya ditemukan di daerah yang berlumpur dan ada ekosistem mangrove-nya? Spesies ikan ini memiliki adaptasi khusus yaitu adaptasi respiratorik dan adaptasi morfologis yang sangat mendukung untuk dapat bertahan hidup di lingkungan khas dan sangat labil sebab terpengaruh pasang surut air laut.

“Organ pernapasan ikan gelodok ini adalah insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat. Ini dilakukan dengan memerangkap air di rongga insang dengan cara menutup rapat mulut dan tutup insang. Ikan ini bisa berada di darat selama air yang di bawahnya masih mengandung oksigen kalau oksigenya habis, ikan ini harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang kembali,” sampai dia.

Oleh karena itu, agar ikan Gelodok ini tetap berjalan pada akar-akar pohon mangrove sangat diharapkan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan tidak merusak garis sempadan sungai. Dan jangan sekali-sekali merusak ekosistem mangrove karena pada ekosistem mangrove tersebut sangat banyak hewan yang mengantungkan hidupnya.

“Jaga lingkungan, lestarikan ekosistem mangrove, agar ikan Gelodok dan ikan-ikan lainnya tetap bertahan untuk anak cucu kita,” sampai dia.

Sementara itu, Iwan warga Kelurahan Jalan Gedang mengatakan ikan Gelodok tersebut dalam bahasa lokalnya (Bengkulu) adalah ikan “Ceti”. “Ikan gelodok, kalau kami sini bilang adalah ikan Ceti,” sampai dia.

Selain warga sekitar, para nelayan juga sering menyebutnya ikan Ceti. “Biasanya anak-anak sangat suka menangkap ikan ceti ini, saat liburan sekolah, dan bermain dipinggir pantai yang berlumpur, setelah dapat ditangkap, ikan Ceti ini dibakar, lalu dimakan bersama, itu pada zaman tahun 90an lalu,” kenang dia.

Bagi warga Bengkulu yang penasaran dengan ikan Gelodok ini, silakan saja kunjungi muara Sungai Jenggalu dan silakan saksikan di pinggiran sungai yang masih memiliki ekosistem mangrove.

Disarankan untuk masuk melalui Rumah Makan Muara Jenggalu dan parkirkan kendaraan disana, lalu silakan untuk menyaksikan ikan Gelodok, saksikan Uca SPP (Kepiting Piano) dan burung-burung bangau, ikan belanak dan sebagainya yang kesemuanya akan lestari disana jika semua pihak berkomitmen untuk menjaga sungai dan lingkungan sekitarnya.

Setelah puas anda bisa pesan makanan dan minuman di rumah makan Muara Jenggalu tersebut sesuai dengan selera anda, soal harga bersahabat. (***)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY