Ani Tri Ratnawati Choirul Hudaو Fokus Dampingi Suami dan Mendidik Anak

Ani Tri Ratnawati Choirul Hudaو Fokus Dampingi Suami dan Mendidik Anak

508
BERBAGI
SENO/RBO: Ani Tri Ratnawati Choirul Huda. Istri Bupati Mukomuko

Istri Bupati Mukomuko, Tak Minat Berpolitik 

RBO, MUKOMUKO – Bestatus sebagai keluarga dekat dari Kepala Daerah, tentu akan memudahkan langkah seseorang jika ingin berlenggang di dunia politik. Untuk menjadi politikus, banyak syarat yang sudah dipenuhi, terkenal, kerap bersosialisasi dengan publik dan bahkan kemungkinan akan didukung dengan modal finansial yang kuat. Tidak aneh, banyak Partai Politik yang melirik anggota keluarga dari Kepala Daerah untuk menjadi salah satu unggulan di panggung politik.

Gerbang politik yang sudah terbuka lebar ini, tidak membuat perempuan 44 tahun ini gegabah. Bahkan dari benaknya sama sekali tidak terpikir untuk terjun ke dunia politik meskipun sejumlah petinggi Partai di tingkat kabupaten pernah ‘merayu’ dirinya untuk ikut dalam ajang pemilihan umum yang akan datang.

Ani Tri Ratnawati merupakan anak bungsu dari Bapak Solanan dan Ibu Siti Muawanah, dilahirkan di Bojonegoro 44 tahun silam tepatnya 3 Maret 1973. Kalau mendengar sapaan akrabnya, tentu pembaca RBI dapat menebak siapa perempuan behijab satu ini. Ya.. dia akrab disapa Nana Huda, tidak lain ialah ‘Bidadari’ yang menghiasi hati Bupati Mukomuko Periode 2016-2021, Choirul Huda, SH.

Berstatus sebagai istri dari Bupati Mukomuko, seperti yang sudah ditulis diatas tadi, terdapat sejumlah Partai yang meliriknya untuk diajak bertarung di Pemilu 2019 mendatang. Namun dengan ramah ia menolak tawaran tersebut. Diceritakannya, penolakan itu bukan tanpa alasan.

Saat RBI mewawancarainya ia mengatakan mungkin bagi sebagian orang alasan ini terlihat sederhana yakni hanya ingin fokus mendampingi suami dan ingin fokus mendidik ketiga anak-anaknya. Namun baginya hal tersebut tidak sesederhana itu.

“Buat saya keluarga adalah segala-galanya. Anak-anak saya masih kecil, yang Pertama kelas 3 SMA, kedua kelas 3 SMP dan sibungsu masih SD, ketiganya masih butuh bimbingan orang tuanya khusunya seorang Ibu,” ujarnya.

Sekalipun demikian, ia tidak pernah menolak jika harus bekerja sosial. Dengan statusnya sebagai istri dari Bupati, tentu menuntutnya berperan ganda. Menjadi istri dari Choirul Huda dan Ibu dari Anak-anaknya serta menjadi Istri Bupati dan menjadi Ibu bagi seluruh anak-anak Kabupaten Mukomuko. Peran itupun dijalaninya dengan rasa suka cita.

Sekarang ini ia dipercaya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Mukomuko dan Bunda PAUD Kabupaten Mukomuko serta sejumlah organisasi perempuan lainnya. Melaui lembaga itu, iapun memiliki cita-cita yang ingin dicapai yakni mengurangi angka KDRT dan kekerasan terhadap anak serta mendongkrak peran perempuan dalam pembangunan di Kabupaten Mukomuko.

Dari Waktu ke Waktu

Bagaimana kehidupan Nana Huda dari waktu kewaktu? Ayo kita intip.

Masa kecilnya dihabiskan di tanah kelahirannya Bojonegoro, termasuk pendidikannya pun ditempuh di daerah itu. Pendidikan dasar ia tempuh di SDN 01 Kedaton, kemudian masa SMP ia memilih SMPN 01 Bojonegoro dan jenjang selanjutnya ia teruskan di SMAN 02 Bojonegoro.

Mungkin untuk yang satu ini tidak banyak yang tahu, karena Ibu dari Bimo ini jarang mengungkapkan ke publik. Selepas SMA, Nana Huda memutuskan menimba ilmu di Universitas Airlangga, ia memilih jurusan D III Perpajakan, bahkan setelah menyelesaikan D III, Nana sempat melanjutkan untuk meraih Sarjana, namun tidak sampai selesai. Apa penyebabnya?

Dilempar ‘Geranat’ Oleh Seorang Tentara Tidak banyak yang bisa ia ceritakan kepada RBI untuk menggambarkan seperti apa awal pertemuannya dengan lelaki yang bernama Choirul Huda. Ia mengatakan, pertemuannya dengan pak Huda berawal dari keisengan kakak ipar Huda dan kakak iparnya yang sudah lama berkawan. Tidak tahu pasalnya kakak ipar Nana dan Huda berusaha mengenalkan kedua insan ini.

Singkat cerita. Suatu malam, Choirul Huda bujang mendatangi rumah Nana gadis. Kedatangan Huda pertamakali itu tidak langsung menjalin komunikasi pajang dengan Nana. Sebagai anak perempuan ia hanya diminta membuatkan minum untuk tamu kemudian menyajikan, hanya waktu hitungan menit itulah kedua cucu adam ini saling bertatap mata.

Keesokan hari, perasaan Nana gadis bak dilempar ‘geranat’ cinta oleh seorang Tentara. Huda yang masa itu masih aktif sebagai seorang TNI dan sedang bertugas di Timor-timor, langsung memanfaatkan masa libur yang singkat untuk mengungkapkan keseriusannya. Tidak tangung-tangung, keberanian Huda sebagai seorang Tentara ditunjukannya hari itu, Huda langsung mengutarakan keinginannya meminang Nana kepada orang tuanya.

Percobaan pertama itu, Huda belum mendapatkan kepastian dari ‘bidadari’ yang ia inginkan. Huda sedikit merasa lega karena sang bapak (orang tua Nana) setuju-setuju saja dan keputusan kembali ke yang bersangkutan (Nana). Tiga bulan kemudian, setelah menjalin komunikasi beberapa kali, akhirnya Nana menyerah dalam pertempuran hati itu dan pada 26 September 1999 Huda dan Nana melangsungkan pernikahan. Nana tidak menapik pak Huda muda merupakan golongan lelaki yang tampan, bahkan sampai saat ini ia masih mengakui suaminya merupakan lelaki paling ganteng sedunia.

Hubungannya dengan Choirul Huda tidak melalui proses pacaran. Justru pak Huda ‘PDKT’ dengan bu Nana pasca pernikahan. “Kalau pacaranya setelah menikah, saya gak bisa PHP in bapak,” canda Ketua TP PKK Kabupaten Mukomuko ini.

Sejak pernikahan itu, ia memutuskan meningalkan bangku kuliah untuk menjadi pendamping setia suaminya, dimanapun, seperti apapun dan sampai kapanpun serta siap menjadi ibu yang baik dari anak-anaknya.

Hanya beberapa bulan dari hari pernikahan, sebagai seorang TNI, Choirul Huda siap ditempatkan dimana saja dan Mukomuko lah menjadi wilayah tugas Huda. Sampai PakHuda Pensiun dari TNI dan terjun ke Politik dan Februari 2016 lalu Huda resmi dilantik menjadi Bupati Mukomuko, Nana Huda tetap setia menjadi pendamping yang baik bagi Choirul Huda. (sam)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

14 − 8 =