Pelayanan Publik Jelek, Korupsi Tak Berhenti

Pelayanan Publik Jelek, Korupsi Tak Berhenti

76
BERBAGI
IST/RBO: Kunjungan Ombusman RI ke Bengkulu

Ketua Ombudsman: Tidak Sungguh-Sungguh Menjadi Manusia

RBO, BENGKULU –  Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Prof. Amzulian Rifai SH, LL.M, Ph.D mengatakan korupsi di negeri ini masih terus terjadi. Salah satu penyebabnya adalah karena pelayanan publik jelek. Selain itu sebagian warga di negeri ini tidak bersungguh-sungguh menjadi manusia.

      “Kita harus memperbaiki pelayanan publik. Contohnya Kereta Api kini pelayanannya sudah bagus. Kita nyaman dan enak naik spur. Kan tak ada lagi calo tiket dan preman yang antre beli tiket. Artinya kalau pelayanan public bagus maka korupsi bisa hilang,” ujar Guru Besar Unsri itu saat berkunjung ke RB Media Grup kemarin sore.

      Belum lagi kalau kita bicara pertanahan, lanjutnya. Pembuatan sertifikat itu perlu proses yang jelimet dan rumit. Kadang-kadang dipersulit. “Mau minta tanah kita diukur saja kita harus mengemis-ngemis. Inilah peluang terjadinya praktik yang tidak benar. Kapan kita bisa membuat sertifikat seperti pelayanan kereta api tadi,” tanyanya.

      Soal tidak sungguh-sungguh jadi manusia mantan Dekan FH Unsri ini mencontohkan tukang sapu. “Mau ngepel lantai satu hotel hanya pakai air sebotol air mineral. Mana cukup dan tak akan bersih. Lihat orang luar kalau dia sebagai tukang bersih lantai maka dia gunakan mesin dan kerja sungguh-sungguh. Sehingga lantai jadi bersih. Begitu  juga seorang sopir dia akan bersungguh-sungguh dan mengemudi yang baik. Coba kalau di daerah kita, sopir ikut bosnya nanti ada kesempatan dia ngerumpi dan ngobrol yang tak perlu. Lalu jam kerja yang seharusnya 8 jam malah diisi dengan istirahat, merokok, ngobrol. Ini bukti kita tidak sungguh-sungguh jadi manusia,” ujarnya setengah berseloroh.

      Ketua Ombudsman ini juga berharap pemerintah punya target. Maksudnya sampai kapan korupsi di negeri ini bisa dikikis. Sampai kapan pelayanan publik yang  jeleh itu bisa diubah jadi bagus. Buktinya kita bisa merubah itu.

       Kehadiran Ketua Ombudsman ke Provinsi Bengkulu berlangsung akrab dan santai.  Sang Profesor yang cerdas dan homoris ini mampu menghidupkan suasana ruang rapat RB penuh gelak dan tawa. Apalagi dia pakai logat dan gaya wong kito Palembang dan Dio memang Wong Kito.

      Pertemuan itu juga dihadiri oleh Ketua PWI Zacki Antoni, GM Rakyat Bengkulu Pihan Pino, GM RADAR BENGKULU Syah Bandar, Ketua Ombudsman Provinsi Bengkulu, Herdi Purwanto dan Asisten I Pemprov DR Iskandar ZO.

Dalam diskusi itu Ketua Ombudsman Prof. Amzulian Rifai sebelum menyampaikan maksud dan tujuannya ke media grup Jawa Pos ini ia juga menceritakan sedikit kebiasaan dirinya sehari-hari dan menceritakan perjuangan dan karya miliknya. Dimana sebelumnya dirinya pernah menjadi penulis di Sriwijaya Pos dan di Sumatra Ekspres dan juga pernah memimpin Majalah Sekolah.

      “Saya dulu juga pernah di media dan juga hobi menulis. Pada tahun 1989 Saya pernah menulis di Sumatera Ekspress dan di Sriwijaya Pos,” pungkasnya.

Kemudian dirinya menjelaskan Ombudsman ini adalah lembaga negara menjadi pengawasan negara dalam pelayanan publik tentu saja media memegang peranan penting dalam setiap aktivitas dalam lembaga manapun seperti BUMN, BUMD dan lain sebagainya.

      “Maksud pertama kita berkunjung ke kelompok Jawa Pos ini, yaitu meningkatkan kerjasama dan mendapat support yang lebih dari Media. Ya selama ini saya yakin sudah memberi support begitu luar biasa. Namun tidak ada salahnya jika kita mempererat hubungan sesama kita, dan ingin mendapat suport yang lebih dari media,” imbuhnya sesusai pertemuan kemarin, (15/3).

      “Hakekat Ombudsman ini sama dengan media, kenapa seorang wartawan mengangkat suatu permasalahan. Umumnya yang diangkat teman-teman media adalah yang menyangkut pelayanan publik apapun bentuknya. Itukan sudah menunjukkan bahwa rekan-rekan media juga konsen dengan pelayanan publik persis sama dengan yang dilakukan oleh Ombudsman,” imbuhnya.

Media inikan sangat penting bagi publik jika misi ombudsman dan Media ini sama dan saling bekerja sama itukan akan menjadi lebih baik lagi karena kedua-duanya kepentingan bagi publik.

      “Saya rasa sangat penting sekali untuk menguatkan. Media tentu saja juga ingin mencapai idealisme mereka. Semua profesi pasti mempuyai idealisme. Kami jujur ombudsman ini masih perlu upaya yang lebih kuat dan lebih keras untuk memperkenalkan kepada publik,” pungkasnya.(cw5).  

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

three × 3 =