DPRD Diminta Jangan Hambat Peningkatan Status IAIN jadi UIN

DPRD Diminta Jangan Hambat Peningkatan Status IAIN jadi UIN

BERBAGI
Prof. Dr. H. Sirajuddin. M, M

Soal Penyerahan Aset STQ yang Tak Kunjung Selesai

RBO, BENGKULU – Syarat IAIN Bengkulu beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) masih terganjal akibat DPRD Provinsi Bengkulu yang belum juga menyetujui peralihan aset STQ kepada IAIN Bengkulu. Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag, MH meminta dengan hati terbuka agar DPRD jangan menambah ketertinggalan Bengkulu dari sisi pendidikan. Peralihan aset tersebut sangat diperlukan sebagai syarat dari sisi sarana dan prasarana menjadi UIN.

“Sudah jelas, janji Gubernur terdahulu, Agusrin M. Najamudin yang dibuktikan dengan SK bahwa ketika STAIN menjadi IAIN secara otomatis akan menyerahkan semua aset STQ/MTQ ini ke IAIN Bengkulu. Begitu juga dengan Gubernur H. Junaidi Hamsyah sudah setuju. Tapi semuanya berhenti di DPRD provinsi. Tidak ada alasan dan argumentasi yang jelas kenapa aset ini tidak diberikan,” ujarnya.

Prof. H. Sirajudin heran dan mempertanyakan cara berfikir dewan yang terhormat. Di Manado saja Gubernurnya non muslim mau berikan bantuan kepada IAIN nya, mau berikan tanah 10 Ha dan bantuan lain untuk pengembangan pendidikan.

“Ini saja, kita acara wisuda, kita sewa gedung ini, kita bayar sewanya. Padahal ini berada diatas tanah kami sendiri. Coba anda bayangkan. Kalau kita mau seperti anak kecil, diluar koridor pendidikan, bisa saja kita bertindak. Ambil saja gedung kamu, kami mau bangun, angkat aset gedung itu, ini tanah kami. Tapi kami tidak mau seperti itu,”ujarnya.

H. Sirajuddin meminta dewan untuk turun dan melihat kondisi langsung bagaimana aset yang dibangun dengan uang negara puluhan miliar ini terbengkalai dan jadi tempat maksiat. “Ini dibangun diatas tanah kita loh, tanah IAIN. Bila ini diserahkan ke kita, kita bisa pelihara gedung lama ini. Sekarang ngapain kami mau rawat aset ini, karena ini buka punya kami. Kalu kami paksa pun memilihara gedung ini pastinya akan jadi temuan. Sejauh ini selama tujuh tahun kami heran dan tidak habis pikir, kenapa di Pemda Irwasnya kenapa tidak jadi temuan, bahwa ada bangunan Pemda berada diatas tanah IAIN. Mestinya harus diproses. Inilah yang jadi ga jelas,” cetusnya.

H. Sirajuddin tegas mengatakan, IAIN Bengkulu masih memohon pada batas koridor pendidikan dan penuh etika. Sebenarnya urusan ini adalah urusan antara Pemda provinsi dan DPRD provinsi.

“Mari sama – sama membangun daerah ini. Jangan dihambat lagi. Perlu Anda ketahui bahwa diwilayah sumatera ini hanya Bengkulu dan Bangka Belitung saja yang belum menjadi UIN. Kenapa UIN itu perlu? Karena, bila jadi UIN nantinya akan lebih banyak pengembangan keilmuan yang ada melalui fakultas – fakultas umum. Bila jadi UIN, ini yang kuliah putra-putri Bengkulu ini kok. Bukan orang dari Amerika atau Arab sana. Kita cerdaskan anak-anak Bengkulu kita sendiri,” tegasnya. (ae2)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

two × three =