Pembobol Kas RS Bhayangkara Jalani Sidang Perdana

Pembobol Kas RS Bhayangkara Jalani Sidang Perdana

BERBAGI
Ronal/RBO: Sidang perdana Terdakwa Kasus Pembobolan Kas RS Bhyangkara.

RBO, BENGKULU – Sidang dakwaan perkara pembobolan kas RS Bhayangkara dimulai Kamis kemarin (30/03) di PN Tipikor Bengkulu Jalan Sungai Rupat, Kelurahan Pagar Dewa, Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Persidangan menghadirkan terdakwa anggota Polri Sunoto (37) warga Kelurahan Pasar Pedati RT 10 Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah yang menjadi tersangka kasus dugaan pembobolan kas dengan jumlah Rp 7,9 miliar.

Dalam pembacaan dakwaan oleh kedua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novi, SH dan Noveri, SH menyampaikan jika uang miliaran tersebut, digunakan untuk membeli batu giok berbentuk majapahit dan pedang.

Diketahui dari keterangan penyidik, Sunoto memberikan keterangan jika uang tersebut habis dibelikan giok. Kendati demikian, penyidik pun tak mempercayainya. Giok itu sendiri berguna untuk melancarkan usaha terdakwa untuk mencalon Pemilu Kepala Daerah di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.

Selain giok, pembayaran uang muka mobil Mitsubishi Pajero dan Mobil Avanza. Pembelian dua unit ambulance L-300. Dalam rincian surat dakwaan, jumlah transaksi uang dalam Rumkit tersebut terhitung dari awal Juli hingga September tahun 2016 berjumlah Rp 14 miliar lebih.

Dari uang tersebut diambil oleh terdakwa sebesar Rp 7,9 miliar digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Akibat perihal tersebut, penyidik Polda Bengkulu menetapkan tersangka dengan sanksi Pasal 2 dan 3, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor junto Pasal 55 KUHP dan Pasal 3, UU Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Akhir persidangan terdakwa dan penasehat hukum terdakwa Erwin, SH bersama rekan- rekan, tidak mengajukan eksepsi.

Hakim Ketua Persidangan DR Jonner Manik melanjutkan persidangan dengan mendatangkan saksi pada Kamis (06/04) mendatang.
Diketahui, selain Sunoto, dua rekan lainnya Joni (42), warga Jalan

Muara Karang, Komplek Pluit Karang Indah Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta dan Joko (36), warga Komplek Perbanas Block C Pondok Ranji Ciputat Timur Kota Tanggerang Provinsi Banten ikut terlibat dalam kasus ini. Namun Joni telah menyerahkan kerugian, hingga penyidik Tipikor Polda Bengkulu menilai untuk tidak ditahan. (run)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

12 − six =