Harga Cabe Anjlok, Petani Belum Balik Modal

Harga Cabe Anjlok, Petani Belum Balik Modal

BERBAGI:

RBO, MUKOMUKO – Sudah dua minggu berturut-turut harga cabai atau cabe merah dan rawit terpantau anjlok diangka RP 20.000/kg.

Yanto (41), salah seorang pedagang eceran cabe di Pasar Minggu Koto Jaya mengungkapkan, sudah berjalan dua minggu ini harga cabe ditingkat eceran bertahan di harga Rp 20.000. Bahkan, kemarin (Minggu, 2/4) tidak sedikit pedagang yang jual Rp 18.000.

Katanya, disinyalir, anjloknya harga cabe di Kabupaten Mukomuko karena banyaknya cabe dari luar yang masuk daerah.

“Kalau info yang kami dengar, ada cabe dari luar negeri yang masuk. Katanya juga sudah sampai ke Mukomuko,” ujarnya.

Secara langsung,paparnya, turunnya harga cabe ini tidak berimbas langsung dengan pedagang. Bahkan dengan harga murah, cabe lebih cepat laku.

“Kalau imbas buruk tidak terlalu. Soalnya kita masih ada ring harga untung. Kecuali kalau pedagangnya terlanjur beli mahal di tingkat petani,” terang Yanto.

Kendati di pedagang tidak terlalu pengaruh, namun, imbasnya para petani mulai kelabakan. Seperti yang dialami Edo (30) petani cabe Kelurahan Koto Jaya Kota Mukomuko. Ia mengatakan, sampai dengan panen ketujuh, ia belum memperoleh balik modal.

“Saya udah tujuh kali panen. Kalau digabung dari seribu batang cabe saya itu saya sudah dapat sekitar 100 kg. Harga yang paling mahal saya jual waktu penen pertama dulu di harga Rp 28.000,” ungkap Edo.

Urainya, sekitar 60 kg cabe yang sudah ia panen dijualnya dengan harga Rp 18.000 – 20.000 per kg. Diakuinya, dengan harga tersebut, ia belum kembali modal.

“Cabe ini banyak perawatannya. Modal setiap batang sekitar Rp 5.000. Kalau harga murah kayak gini, gimana mau untung. Balik modal aja syukur,” ungkapnya lesu.

Dari pantauan RBI yang langsung ke lahan cabe milik Edo, tanaman cabenya terlihat kurang terawat. Edo mengakui memang tidak lagi merawat cabenya dengan baik. Pasalnya ia takut merugi lebih dalam.

“Karena harga sedang tidak menguntungkan petani seperti sekarang ini, saya memilih membiarkan cabe saya tidak dirawat. Biaya perawatan gak murah. Obat semprot aja Rp 50.000 sekali pakai. Belum yang lain. Saya takut tambah rugi,” tukasnya.

Ia berharap dengan kondisi ini ada tindakan pengendalian dari pemerintah. Apalagi, katanya, ada kabar masuknya cabe asing ke Indonesia.

“Kalau memang benar kabar itu, mau gak mau harus ada campur tangan pemerintah,” pungkasnya. (sam)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

thirteen − 11 =