Air Terjun Kroya, Indah Dimusim Penghujan

Air Terjun Kroya, Indah Dimusim Penghujan

160
BERBAGI

RBO, SELUMA – Air terjun Kroya yang berada di Desa Talang Sebaris Kecamatan Sukaraja, ternyata masih banyak belum diketahui oleh sejumlah wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah. Nuansa asri, dengan udara segar membuat pengunjung membuat perjalanan letih pengunjung dapat terbayarkan, setelah melihat percikan dan gemuruh air terjun tiga tingkat dengan bebatuan besar, ditambah kicauan burung yang membangkitkan semangat wisata libur pengunjung. Kabid Pariswisata Seluma, Tomi Abhas S. Hut mengakui, keberadan air terjun Kroya merupakan salah satu objek wisata yang tercantum dalam Surat Keputusan Bupati Seluma tertanggal 10 Desember 2005.

“Air Tejun Kroya dijadikan salah satu icon wisata dari 8 wisata air terjun yang ada di Seluma berdasarkan SK Bupati tahun 2005,” sampai Kabid Pariwisata, Tomi Abhas S. Hut, kemarin.

Untuk berkunjung ke lokasi Kroya, dari pusat ibukota kabupaten dapat ditempuh dengan jarak sekitar 40 Kilo Meter. Kunjungan ke tempat itu, lebih dekat dari Ibukota Provinsi Bengkulu yang hanya berjarak sekitar 25 Kilo Meter.

“Dahulu, air terjun Kroya masuk di wilayah desa Sukamaju, Kecamatan Sukaraja. Namun, saat ini setelah adanya pemekaran desa, Air Terjun Kroya masuk di wilayah Desa Talang Sebaris,” ujar Tomi.

Diakui Tomi, Air Terjun ini akan semakin tampak indah dilihat, jika memasuki musim penghujan. Hal ini dikarenakan adanya ketergantungan dengan debit air dari hulu sungai.
“Kalau musim kemarau, debit air kecil. Namun disaat musim penghujan, akan lebih indah karena debit air besar dan kencang,” katanya.
Diakui Tomi, hampir mayoritas keberadaan air terjun di kabupaten Seluma debit airnya dipengaruhi dan ketergantungan oleh cuaca. Hal inilah yang mengakibatkan, sejumlah kawasan air terjun, hanya ramai di saat musim penghujan.

“Untuk air terjun Kroya, jaraknya dekat dengan pemukiman dan dapat dijangkau dengan mudah,” ujarnya.

Keberadaan air terjun Kroya yang berada di lokasi perkebunan warga, membuat keberadaannya kurang sentuhan pembanguan sarana dan prasarana dari pemerintah daerah.

“Inilah yang menjadi persoalan icon wisata di Seluma. Mayoritas terkendala dengan status tanah milik warga dan perusahaan perkebunan. Jika di hibahkan, tentunya pemerintah dapat leluasa mengembangkan potensi wisata yang ada,” demikian Tomi. (One)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

12 − 1 =