Pasca Kasus Bayi Aspin, Gubernur RM Revisi Pergub dan Sidak RSUD

Pasca Kasus Bayi Aspin, Gubernur RM Revisi Pergub dan Sidak RSUD

BERBAGI
AGUS/RBO: Gubernur saat sidak ke RSUD M.Yunus Bengkulu, kemarin (17/4).

Gub:  Ini Kesalahan Saya

RBO, BENGKULU – Gubernur Bengkulu Dr.H.Ridwan Mukti, MH berjiwa besar dan sangat bertanggung jawab. Gub mengaku dialah yang bersalah atas kasus RSUD M Yunus. Karena itu Gub akan melakukan langkah-langkah strategis untuk perbaikan RSUD M Yunus.

Senin siang (17/4) mantan anggota DPR RI itu menggelar sidak ke RSUD M.Yunus Bengkulu. Sidak ini terkait dengan kasus meninggalnya bayi Puti Putri, buah hati pasangan suami-istri (pasutri) Aspin Ekwadi dan Sri Sulismi, warga Desa Sinar Bulan, Kecamatan Lungkang Kule Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu belum lama ini yang sempat menghebohkan pemberitaan di media nasional. Sebab Aspin memasukkan jenazah anaknya ke tas pakaian untuk dibawa ke kampung halaman.
Sementara itu, Aspin sendiri mengaku terpaksa memasukkan jenazah anaknya ke tas pakaian untuk kemudian menumpang jasa angkutan umum lantaran tidak mampu membayar biaya jasa ambulans dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu sebesar Rp 3,2 juta. Dengan menggunakan angkutan umum, bersama kakak perempuannya, Septi Asturida, Aspin membawa jenazah putrinya itu ke Kaur.
Disisi lain, dalam sidak kemarin Gubernur mengunjungi sejumlah tempat bagian pelayanan di RSUD M.Yunus Bengkulu. Diantaranya, bagian ambulans service, bagian sistem informasi, dll. Bahkan, saat berbincang-bincang dengan bagian sistem informasi RSUD M.Yunus Bengkulu Gubernur sempat menanyakan teknis bagaimana kalau ada peristiwa bayi Aspin kembali terjadi kepada petugas. Namun sayang para petugas tidak bisa menjawabnya, hingga Gubernur meminta pejabat yang berwenang agar segera memperbaiki bagian sistem informasi RSUD.M.Yunus tersebut.
“Hasil peninjauan ini saya ingin memastikan bahwa kelalaian yang terjadi dalam menyikapi kematian anak Aspin Putih Putri beberapa waktu yang lalu tentunya itu menjadi sebuah catatan, dan ini adalah kesalahan saya,” ungkapnya, kemarin.
“Peninjauan ini juga dalam rangka untuk memberikan pengarahan-pengarahan yang mampu untuk mengedukasi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik khususnya bagi orang miskin,” tambahnya.
Sementara itu, Gub meminta pihak RSUD M.Yunus dapat memperbaiki layanan terhadap masyarakat.
“Tadi dikatakan bahwa jenazah boleh dibawa langsung dari kamar perawatan. Jadi ini harus diperbaiki jadi tidak boleh ada lagi kalau ada pasien yang meninggal di RSUD ini dibawa langsung dari rumah perawatan, harus melalui kamar jenazah, dari kamar jenazah itu nanti akan memanggil bantuan kesehatan Bankes untuk bantuan ambulans dan sekaligus surat-surat berita kematian, disana juga nanti ada advokasi dari pihak RSUD ke pada keluarganya, misal apabila tidak memiliki biaya,” tegasnya.
Dijelaskan Gub, lebih lanjut, pihaknya dalam waktu dekat segera melakukan revisi Pergub Nomor 18 Tahun 2018 yang salah satunya berisi tentang aturan tarif pelayanan kesehatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD M.Yunus Bengkulu.
“Hari ini sudah disiapkan oleh tim, nanti tentunya akan segera ditandatangani oleh Gubernur dan mudah-mudahan aturan yang direvisi ini diharapkan mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kelalaian-kelalaian,” jelasnya.
“Melalui kasus bayi Aspin Putih Putri ini menjadi sebuah momentum untuk melakukan perubahan dari azaz legalitas yang ada di RSUD M.Yunus,” tambahnya.
Sementara itu, ia meminta masyarakat tidak mampu yang ingin mendapatkan bantuan khusus agar tidak sungkan menemui kepala Rumah Sakit, pejabat-pejabat yang ada di ruang perawatan tersebut.
“Saya ingin menginformasikan ke masyarakat di Provinsi Bengkulu yang khususnya kepada masyarakat tidak mampu apabila mendapatkan pelayanan kesehatan yang kurang pas atau pun memerlukan informasi-informasi tambahan bantuan-bantuan khusus jangan sungkan-sungkan untuk menemui kepala Rumah Sakit, pejabat-pejabat yang ada di ruang perawatan tersebut, sampaikan bahwa memerlukan bantuan karena tidak memiliki uang atau finansial untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka dihadapi,” jelasnya.
“Pihak Rumah Sakit juga akan mencoba menghubungi pihak-pihak atau yayasan-yayasan yang ingin berbuat baik untuk hal ini, nanti juga di Rumah Sakit juga akan memiliki kewenangan deskresi untuk melakukan hal-hal yang khusus seperti ini, sehingga biaya-biaya yang diperlukan untuk penanganan-penanganan seperti ini tetap mengedepankan aspek legalitas,” tambahnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi apakah bakal ada sanksi yang diberikan kepada petugas RSUD M.Yunus yang melakukan kelalaian?
“Kalau ya ada sanksi, sanksi kan saya saja supaya dipecat dari Gubernur. Saya rasa ini harus kita jadikan introspeksi bagi kita semua. Saya juga nggak bisa marah bila melihat prosedurnya, mereka telah melaksanakan prosedurnya dengan benar, cuma masalah tadi adalah masalah empatinya yang belum tergerak,” tegasnya.
“Kalau ditanya Aspin beliau juga mengatakan bahwa beliau menyesali juga kenapa kok nggak ngomong, kenapa kejadian yang demikian. Kasus bayi Aspin ini menyelamatkan 320 ribu orang miskin di Bengkulu, jadi ini bisa jadi pelajaran dan introspeksi,” pungkasnya.
Sementara itu, Aspin menjelaskan, saat itu dirinya bersama kakak perempuannya menanyakan biaya jasa mobil ambulans untuk membawa jenazah anaknya ke Desa Sinar Bulan. Sayangnya, saat ditanyakan kepada pihak RSUD M Yunus biaya jasa mobil ambulans mencapai Rp 3,2 juta.
Karena biaya terlalu besar, Aspin sempat meminta keringanan biaya. Namun, pihak RSUD M Yunus tidak bisa memberikan keringanan biaya.
Disisi lain, lantaran biaya jasa mobil ambulans mencapai jutaan rupiah, ia menjadi panik lantaran anaknya tidak bisa dibawa pulang ke kampung halamannya yang berjarak tempuh sekitar enam jam dari Kota Bengkulu. Karena panik bercampur sedih, ia mencari akal agar anaknya bisa dibawa pulang dan dimakamkan pada hari itu. Ia pun memutuskan menggunakan jasa angkutan umum atau jasa travel.
Namun, Aspin berpikir, pihak jasa angkutan tak ingin mengizinkan untuk membawa jenazah. Dengan terpaksa, ia memasukkan anaknya ke tas pakaian plastik agar sopir angkutan tidak curiga.
“Saya juga nggak sempat nanya terlalu detil terkait mobil jenazahnya. Saya berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak terulang kembali kepada masyarakat yang lain,” tutupnya. (ags)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

twenty + 16 =