Porno dan Maksiat Harus Ditutup

Porno dan Maksiat Harus Ditutup

221
BERBAGI
ARI/RBO: Sekretaris Daerah Kota Bengkulu, Marjon, M.Pd didampingi Kadis Kominfo saat memberikan penjelasan terkait polemik surat imbauan bersama.

Marjon: Jangan Salah Kaprah

RBO, BENGKULU – Imbauan bersama untuk aktivitas hiburan malam menjadi gunjingan dan polemik. Sebab pada poin ke lima disebutkan agar selama Ramadan 2017 ini semua tempat hiburan ditutup penuh. Sontak saja, surat imbauan yang sudah ditandatangani Walikota H Helmi Hasan, SE, Kepala Kemenag Kota dan Ketua MUI itu membuat resah sejumlah pemilik usaha hiburan malam.

“Tidak seperti tahun lalu (2016,red) saat itu kami tetap boleh membuka tempat usaha karoke ini setelah salat tarawih atau setelah tidak ada lagi tadarusan malam. Tetapi tahun ini diimbau untuk tutup penuh, tentu kami kecewa,” kata pemilik karoke yang minta namanya dirahasiakan.

Terkait hal itu, Waka 1 DPRD Kota Yudi Darmawansyah telah menyampaikan kritikan, dikatakan Yudi baiknya pemkot juga menimbang sisi ekonomi masyarakat kota.

“Tertibkan saja jika ada yang berbau maksiad. Jka hanya tempat nyanyi nyanyi dan mereka buka setelah tarawih saya kira tidak jadi masalah. Sebab bisa jadi karyawan yang kerja disitu menghidupi anak istrinya, atau malah orang tuanya. Kan kasihan jika harus diliburkan selama sebulan, pikirnya kesana dong pemerintah,” kritik Yudi.

Mendapati kritikan itu, Sekretaris Daerah Kota Bengkulu Marjon, M.Pd menjelaskan bahwa masyarakat jangan salah kaprah. Yang dimaksud dalam poin kelima dalam surat edaran itu ditutup jika ada spanduk yang tidak senonoh, jika ada ajakan untuk masuk.

“Misal warung makan atau restoran, tutup kaca tempat makanan itu jangan sampai terlihat dari luar. Nantikan kalau terlihat akan mengundang orang untuk masuk. Jadi bukan tutup usahanya, ya silakan kalau mau karoke atau buka usaha rumah makan. Namun tentu jangan ganggu umat Islam yang sedang beribadah, yang ditutup itu kalau ada iklan iklan berbau porno,” sampai Marjon.

Terpisah anggota Komisi 3 DPRD Kota Suimi Fales, MH juga angkat bicara, dikatakan Suimi harusnya Pemkot sebelum mengeluarkan keputusan mesti dikaji terlebih dahulu. Masukan dari berbagai tokoh harus didengar, kajian dari sisi agama, sosial dan ekonomi serta tradisi harus diramu menjadi satu keputusan.

“Kalau sudah beginikan repot, banyak yang salah paham. Surat edaranya sudah beredar, dan masyarakat memahaminya disitu pemkot minta tutup penuh selama Ramadan. Dalam surat imbauan bersama poin lima itu jelas berbunyi tempat hiburan malam semisal cafe cafe, karoke dan semacamnya tutup penuh selama Ramadan. Itu jelas suruh tutup, harusnya jangan seperti itu. Tahun lalu pakai batas waktu,” kritik Suimi.

Selain itu, Suimi menyarankan pula setiap ada keputusan atau surat edaran dari Pemkot yang ditujukan ke masyarakat, usahakan kalimat yang digunakan dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat. (lay)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

one × 1 =