Bertaqwa Itu Indah

Bertaqwa Itu Indah

234
BERBAGI
Ahmad Farhan, SS., M.S.I (Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Bengkulu)

Sudah mafhum bagi kita bahwa Allah menjelaskan dalam QS. Al-Baqarah/2: 183 tentang kewajiban puasa di bulan Ramadan. Kewajiban ini juga telah diberlakukan bagi umat sebelum kita (min qablikum). Puasa yang secara etimologi memiliki arti “menahan” ini tentu memiliki manfaat yang luar biasa bagi pelakunya (miracles).

Bahwa puasa itu menyehatkan fisik, psikis, sosial dan spiritual menjadi keniscayaan. Secara fisik, bagi orang yang berpuasa sejatinya telah melakukan detoksifikasi terhadap racun-racun yang ada dalam tubuh akibat makanan yang dikonsumsi. Dengan pola makan yang teratur, ditambah dengan memperhatikan apa yang dimakan saat sahur dan berbuka, menjadikan kita yang berpuasa akan menjadi sehat.

Dari segi psikis, puasa mengajarkan kita untuk lebih cerdas mengontrol emosi. Bukankah berpuasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri dari berkata dusta, tidak mudah marah, iri, dengki, dendam dan berbagai sikap negatif lainnya yang merupakan penyakit hati.

Sementara dari sisi sosial, puasa mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kesulitan, merasakan kondisi lapar yang selama ini mungkin orang miskin yang hampir tiap hari merasakan kelaparan karena kondisi kekurangan. Dengan demikian muncullah sikap empati, rela berbagi dengan sesama. Begitujuga secara spiritual, bahwa puasa menjadikan kita semakin yakin akan kemurahan Allah. Dihadirkannya puasa di bulan Ramadhan sesungguhnya untuk kebaikan kita. Allah menyediakan seabrek pahala yang dilipatgandakan, kesempatan mendapatkan lailatul qadardan berbagai keutamaan lainnya.

Puasa yang diwajibkan ini juga diorientasikan kepada orang-orang beriman saja. Sehingga bagi mereka yang merasa berimanakan terpanggil untuk melaksanakannya. Sedangkan orang Islam yang dalam kondisi tidak beriman, tentunya mengabaikan panggilan ini. Padahal puasa Ramadan ini bertujuan agar supaya kita menjadi orang-orang yang senaniasa berbuat taqwa (La’allakum tattaqun).

Kalimat “La’allakum tattaqun” (agar kalian senantiasa berbuat takwa) bukan “La’alla an takunal muttaqun” (agar kalian menjadi orang yang bertakwa). Ketakwaan itu merupakan perbuatan yang seharusnya ditunaikan secara terus-menerus, tanpa mengenal istilah akhir. Bukan setelah seseorang meraih gelar Muttaqun (orang bertakwa), lalu dia meninggalkan perbuatan takwa. Seperti seseorang yang terus belajar tanpa henti, tidak mengenal istilah tamat dalam belajar. Tetapi ada juga para sarjana yang seketika berhenti belajar, setelah meraih gelar sarjana.

Takwa yang kita fahami salami ini adalah “Mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.” Kata“la’allakum” merupakan garansi bahwa puasa yang kita tunaikan di bulan Ramadhan benar-benar akan menghasilkan karakter takwa. Pertanyaannya, mengapa setelah Umat Islam banyak berpuasa, mereka tidak kunjung bertakwa? Tentunya, puasa yang berkualitas yang akan menuntun ke arah terbentuknya karakter takwa itu. Ia seperti riwayat yang disebutkan.

 “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Puasa yang didasari iman dan kesungguhan itulah yang diharapkan akan membentuk karakter insan bertakwa.

Lalu mengapa penting dan terlihat indah menjadi orang yang senantiasa bertaqwa? Pertama, bahwa menjadi Taqwa itu merupakan perintah Allah yang berlaku bagi setiap manusia. Artinya selain kewajiban puasa bagi orang beriman, Allah juga memerintahkan manusia secara umum untuk bertaqwa.

Diantaranya disebutkan dalam QS. Al-Baqarah/2: 21 yang artinya “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” Begitu juga dalam QS.Luqman/31: 33: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Dengan demikian, perintah menjadi orang bertaqwa menjadi perhatian Allah kepada manusia dan mesti diperhatikan dandilakukan bagi manusia itu sendiri. Harusnya, siapapun yang merasa manusia, akan terpanggil dengan seruan Allah ini.

Kedua, bahwa Taqwa itu merupakan sebaik-baik pakaian. Allah menegaskan dalam QS. Al-A’raf/7: 26 yang artinya:” …Dan pakaiantakwa itulah yang paling baik..” Kata Taqwa pada konteks ini kita posisikan sebagai pakaian batin. Sedangkan pakaian lahir adalah apa yang kita kenakan sehari-hari seperti baju dan celana.

Dalam Islam, fungsi pakaian paling tidak meliputi 3 fungsi. a). Sebagai identitas diri. Jika memperhatikan sesorang yang menggunakan pakaian tertentu (uniform, maka kita dengan mudah bisa mengenalinya. Seorang Polisi bisa dikenal dengan pakaian yang digunakannya, sebagaimana anggota TNI, PNS, anak sekolah SD, SMP hingga SMA. Kesemuanya dapat dikenal dan diketahui dengan pakaian yang masing-masing mereka gunakan. b). Untuk menutup aurat. Bahwa pakaian berfungsi untuk menutup aurat manusia baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan aurat adalah setiap sesuatu yang jika tampak maka akan seseorang akan merasa malu.

Oleh karenanya, Islam telah memberikan batasan aurat laki-laki dan perempuan yang membedakannya dengan hewan. c). Memberikan rasa aman. Dengan berpakaian, seseorang akan terlindungi dari bahaya, panasnya sinar matahari, dinginnya angin malam dan air hujan.

Dengan demikian, menjadi taqwa dan berbuat taqwa menjadikan dirinya bisa dikenali orang lain. Ketika seseorang yang taat beribadah, sholeh juga secara social menjadi identitas pribadi bertaqwa. Begitu juga, pribadi taqwa akan menjadikan seseorang akan malu dalam berbuat dosa, karena dosa adalah aib dan harus ditutupi. Kitpun akan merasa aman jika berada di sekitaran orang-orang yang bertaqwa. Kenyamanan dan keamanan itu merupakan implikasi dari pribadi taqwa itu sendiri.

Ketiga, bahwa menjadi taqwa merupakan asas diterimanya amal ibadah. Hal ini digambarkan Allah dalam kisah pembunuhan Habil putera Adam AS yang dilakukan Qabil. Bahwa Allah hanya menerima kurban yang dilakukan oleh Habil dan tidak untuk Qabil. Karena apa yang dilakukan Qabil tidak berdasarkan ketaqwaan kepada Allah. Sehingga membuat iri dan sakit hati Qabil terhadap Habil. Allah menjelaskan pada QS. Al-Maidah/5: 27 : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterimadari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Keempat, taqwa merupakan kunci kemuliaan di sisi Allah. Bahwa Allah telah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan wanita, dijadikan juga mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Nabi pun menegaskan bahwa Allah tidak melihat warna kulit, bentuk tubuh kita. Karena kemuliaan manusia tidak disebabkan oleh harta kekayaan, jabatan yang diberikan ataupun ketampanan rupa dan kecantikan. Bagi Allah, manusia yang paling mulia adalah yang baik perangainya, baik akhlaknya dan paling bertawqa.

Sehingga menjadi pribadi taqwa akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Dalam QS. Al-Hujurat/49: 13 yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kamimenciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantarakamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Semoga Ramadan yang dihadirkan Allah bagi orang-orang beriman dapat dimaksimalkan guna meraih semua keutamaan dan kebaikannya. Kiranya menjadi pribadi taqwa bukan hanya ingin dicapai pada bulan ini, akan tetapi berimplikasi dan adanya kontinu itu pada bulan-bulan berikutnya. Sehingga ketaqwaan itu terpancar dan menyinari aktivitas kehidupan sepanjang waktu. Wallahu a’lam bi al-Showab. (**)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

five × 5 =