Zul Dali, Sesalkan Sikap Sepihak Anggota DPD RI

Zul Dali, Sesalkan Sikap Sepihak Anggota DPD RI

BERBAGI

Bang Ken: Saya Hanya Menjalankan Tugas Kontitusi

RBO, BENGKULU – Plt. Wakil Rektor III IAIN Bengkulu yang juga Plt. Dekan FUAD (Fakultas Ushuludin Adab & Dakwah) IAIN Bengkulu, Dr. KH. Zulkarnain Dali, M.Pd menyesalkan dan menyayangkan adanya penilian sepihak dari Anggota DPD RI, H. Ahmad Kanedi, MH  terkait kondisi IAIN Bengkulu pasca demo tuntutan mundur Rektor.
Beberapa hari lalu, anggota DPD RI, Bang Ken mengakomodir dan meneruskan aspirasi Forum Dosen & Karyawan dengan menyurati Menteri Agama RI.
“Saya menyayangkan sekali sikap sepihak yang diambil oleh Bang Ken (Ahmad Kanedi) untuk mengakomodir dan meneruskan  tuntutan aspirasi forum dosen dan karyawan itu. Untuk diketahui bahwa forum dosen & karyawan IAIN Bengkulu tidak ada. Mereka itu ilegal. Karena di IAIN tidak ada forum itu. Dan kalau sesuai aturan itu harus ada legalitas berupa SK dari Rektor. Mereka itu tidak jelas kapan terbentuknya dan lainya. Harusnya Bang Ken sebelum menyurati Menteri Agama itu bisa cross check dulu kebenarannya. Jangan dengar sepihak saja. Minimal tanya atau cross check dulu ke kita (IAIN) apakah benar sesuai dengan fitnah & hoax yang mereka sampaikan ke Bang Ken itu?” tanya Zul Dali yang tokoh masyarakat Kota Bengkulu ini.
Zul Dali mengatakan, secara logika, karyawan IAIN Bengkulu ini hampir 300 orang dan mahasiswanya 7 ribu. Masa hanya ada beberapa dosen & karyawan saja yang gabung ke forum itu?
Menurut Zul Dali, sebaiknya Bang Ken tak usah urusi dan menanggapi permintaan Forum Dosen & Karyawan itu. Urusi saja atau perjuangkan saja bagaimana agar Air Bengkulu ini tidak tercemar, masalah narkoba, bagaimana jalan listrik di Bengkulu ini rata dan baik dan lainnya.
“Pemilihan Rektor sudah ada aturannya, sudah ada mekanismenya dan itu sudah dijalankan  sesuai aturan. Jadi untuk apa lagi? Kita serahkan saja semua keputasannya kepada Allah SWT melalui Menteri Agama RI,” jelasnya.
Dan juga,  rasanya Bang Ken salah langkah & alamat untuk menyurati Menteri Agama. “Saya pertanyakan pada Bang Ken, menyurati Menag itu atas nama personal atau kelembagaan? Bila atas nama kelembagaan DPD RI, harusnya Bang Ken panggil itu Menteri Agama ke kantor,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPD RI Dapil Bengkulu, H. Ahmad Kanedi, SH, MH ketika dikonfimasi melalui telepon (22/6) mengatakan bahwa ia sebagai wakil rakyat dan menjalankan tugas konstitusi untuk menampung dan meneruskan aspirasi rakyat.
“Memang benar saya menyurati Menteri Agama RI. Surat yang dibuat tanggal 19 Juni 2017 itu dibuat berdasarkan keterangan dari delapan orang anggota forum dosen & karyawan IAIN Bengkulu yang datang ke kantor saya (kantor DPD). Sebagai wakil rakyat, apalagi ini dari Dapil saya, ya pasti dan tentunya saya menerima usulan, aspirasi dan meneruskan aspirasi mereka. Berapapun orangnya,  siapapun orangnya pasti saya terima,” katanya.
Lanjutnya, surat yang dia kirim ke Menag itu  berdasarkan cerita dan surat permohonan dukungan N0.09/FDK-1B/VI/2017 dari forum dosen Karyawan dan mahasiswa IAIN Bengkulu terkait dukungan penolakan Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag, MH untuk menjadi Rektor. Dikarenakan sudah 14 tahun kepemimpinan beliau banyak dugaan ketidakadilan. Sering terjadi kezaliman, kekerasan verbal dan KKN (Nepotisme), sehingga iklim antara dosen dan karyawan tidak baik.
Menindaklanjuti itu, H. Ahmad Kanedi Anggota DPD RI Dapil Provinsi Bengkulu mendukung agar Kementerian Agama dapat mengambil kebijakan strategis, sehingga kehidupan kampus Bengkulu dapat membaik. Dan Kemenag RI dapat menunjuk pejabat dari pusat untuk menjadi Rektor IAIN Bengkulu sampai dengan terciptanya suasana yang kondusif di lingkungan kampus IAIN.
“Saya tidak perlu lagi cross check ke lapangan, karena saya sebagai wakil rakyat haruslah menjalankan tugas konstitusi untuk menampung dan meneruskan aspirasi rakyat. Dan masalah cek mengecek itu tugasnya Menteri Agama dan jajarannya. Dari surat inilah Kemenag bisa turun ke lapangan langsung,” katanya.
Bang Ken juga mengatakan, dengan tegas bahwa tidak berpihak kepada siapapun.
“Saya tidak berpihak kemana –mana. Saya hanya mendukung untuk kebaikan IAIN Bengkulu. Saya dukung penuh percepatan alih status IAIN Bengkulu untuk menjadi UIN,” katanya.
Disisi lain, ketika ratusan karyawan dan dosen berdiskusi dengan Plt. Rektor IAIN Bengkulu terungkap bahwa demo penuntutan Prof. H. Sirajuddin mundur sebagai Rektor tersebut memaksa para dosen, karyawan & mengintimidasi mahasiswa FUAD.
Plt. Rektor IAIN Bengkulu, Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag, MH saat berdiskusi dengan ratusan karyawan dan dosen IAIN (22/6) mengatakan, PLT Dekan FUAD diambil alih oleh Warek III untuk sterilkan dan semangati mahasiswa- mahasiswa yang terkontimasi dengan hal buruk. Karena yang diajak mahasiswa ini adalah mahsiswa semester 2 yang ikut demo.
Sudah banyak rencana jahat untuk menjatuhkan Prof Siraj. Mulai dari propaganda yang dilakukan oknum dosen yang dapat membahayakan persatuan, kemajemukan, kebangsaan. Mereka harus sadar bahwa dunia  kampus ini cermin miniatur Indonsia mini. Kalau dibiarkan bahaya sekelompok orang yang tergabung dan mengatasnamakan forum  dosen, karyawan dan mahasiswa IAIN ini.
“Hari ini (22/6) saya beri penjelasan, komunikasi kepada semua karyawan & dosen. Dari hasil diskusi kita, tidak ada dosen, karyawan yang protes seperti dalam tuntutan sekelompok kecil orang  yang mengataskan saya KKN, Zolim, melakukan kekerasan verbal dan lainnya. Bahkan mereka tidak hadir dalam diskusi tadi.”
Kalau Rektor zolim, KKN  terkuak lah disini.  Tadipun saya sampaikan, kalau memang benar tuduhan mereka itu, buktikan.  Kalau saya mau bangun dinasti ataupun KKN itu  mudah sekali. Contohnya bisa saja saya tempatkan istri saya sebagai Wakil Rektor atau Kepala Biro, tapikan saya tidak seperti itu. Misalkan saja tuduhan KKN (Nepotisme) membangun dinasti, saya bersedia mengganti orang-orang yang mereka anggap andil KKN itu dengan orang mereka. Silakan mereka usulkan orang baru yang lebih berkompten, kita tes dulu. Bila orang baru mereka itu lebih hebat dari yang lama, maka akan kita ganti. Tidak benar mereka itu. Kita ini bekerja untuk kemajuan lembaga. Kita perlu orang baik, tulus dan memiliki keahlian untuk membangun lembaga ini. Bila banyak tuduhan jahat, pencemaran nama baik  seperti ini sayalah yang terzolimi,” katanya.

Salah satu dosen yang mengungkapkan kebenaran tersebut yakni Nurniswah, M.Ag. “Saya tidak tahu isi surat yang saya tanda tangani itu ternyata berdampak pada IAIN Bengkulu. Karena teman saya tanda tangan, maka saya tanda tangan saja. Saya  tidak tahu ada demo. Dan waktu demo itu pun saya sengaja tidak absen pagi untuk menghindari ajakan beberapa orang dosen yang teman saya,” katanya. (ae2)