Mendikbud: Bukan Full Day Schooll, Tapi PPK

Mendikbud: Bukan Full Day Schooll, Tapi PPK

BERBAGI
Agus/RBO: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof.Dr.H.Muhadjir Effendy,MPA

5 Hari di Sekolah Hanya Untuk Guru

RBO, BENGKULU – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof.Muhadjir Effendy menjelaskan, rencana penerapan delapan jam kerja sehari dan lima hari kerja sepekan ditujukan untuk para guru sekolah, bukan untuk siswa.

Sebab, guru tidak hanya bertugas mengajar di kelas, tetapi juga mengevaluasi atau menilai hasil belajar siswa.

“Penerapan 8 jam kerja dalam sehari dan 5 hari kerja itu menjadi tugas dan tanggung jawab guru, berdasarkan beban kerja guru,” terangnya saat kunjungan kerja ke Bengkulu.

Dijelaskan dia, lebih lanjut, salah satu latar belakang utama penerapan delapan jam dalam sehari serta lima hari kerja selama sepekan adalah masalah beban kerja guru yang menjadi persoalan selama ini. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yang sekarang telah direvisi menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017 menyebutkan beban kerja guru paling sedikit 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka sepekan.

“Pada praktiknya, sejak 2008, ternyata banyak guru yang tidak bisa memenuhi ketentuan itu sehingga ada yang harus ikhlas tidak mendapat tunjangan profesi dan selebihnya justru banyak yang memilih mengajar di sekolah lain untuk memenuhi beban jam kerja itu. Ada sekitar 162 ribu guru yang mencari tambahan dengan mengajar di sekolah lain,” terangnya.

“Untuk di kota besar mungkin tidak ada persoalan, tetapi di daerah-daerah ada yang harus menempuh puluhan kilometer untuk mengajar di sekolah lain,” tambahnya.

Hal itulah, menurutnya, yang membuat pemerintah mengubah PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru itu menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, dengan mengalihkan beban kerja guru menjadi sama dengan beban kerja Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ditambahkan, guru tidak hanya bertugas mengajar di kelas, tetapi juga membimbing dan melatih peserta didik, mengevaluasi atau menilai hasil belajar dan pembimbingan siswa, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat dengan beban kerja guru. Jadi, lanjut dia, guru harus delapan jam sehari berada di sekolah dan masuk lima hari kerja dalam sepekan.

“Siswa tidak harus delapan jam di sekolah, bisa belajar di mana saja, dan itu nanti akan masuk dalam penilaian oleh gurunya,” ulasnya.

Sementara itu, terkait lima hari sekolah tersebut, ia menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak memiliki program yang bernama full day school.

“Bukan fullday school tapi program,  Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), program ini berasal dari implementasi Nawacita di bidang pendidikan sesuai dengan program pemerintah,”  jelasnya.

“Kalau siswa kurikulumnya tetap mengacu pada kurikulum 2013 ditambah kegiatan ekstra, dimulai dengan dalam rangka penguatan karakter yang itu anak bisa berada di sekolah bisa juga di luar sekolah, terutama di lembaga-lembaga pendidikan di luar sekolah yang sudah bekerja sama dengan sekolah termasuk Madrasah Diniyah. Jadi ketika anak sore hari belajar di Madrasah Diniyah itu bisa menjadi bagian dari kegiatan penguatan karakter yang nanti kegiatan belajarnya di Madrasah itu bisa dikonversi menjadi hasil belajar siswa di sekolah,” pungkasnya. (ags)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

4 × 5 =