RM Ngamuk, Jangan Main – Main, Nanti Saya Tempeleng

RM Ngamuk, Jangan Main – Main, Nanti Saya Tempeleng

24
BERBAGI
Dedi/RBO: 4 orang saksi yang memberatkan terdakwa Joni Wijaya di persidangan kemarin

Lanjutan Sidang Kasus OTT KPK Soal Fee Proyek Miliaran Rupiah

RBO, BENGKULU – Joni Wijaya terdakwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI kemarin Selasa kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu. Sidang agenda keterangan saksi itu diketuai oleh Admiral SH, MH. Di muka persidangan itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan 4 orang saksi. Yakni, Kuntadi, Mantan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Bengkulu, Saifudin selaku Kabid Bina Marga PUPR Provinsi Bengkulu, Ahmad Irfansyah, Direktur PT Sumber Alam Makmur Sejati selaku pemenang proyek di PUPR Provinsi Bengkulu dan Aryanto, Direktur PT Group Putra Agung juga selaku pemenang proyek di PUPR Provinsi Bengkulu itu.
Saksi Kuntadi di muka persidangan itu mengaku bahwa pernah pada saat pelelangan proyek di PUPR Provinsi Bengkulu, sebelum kejadian OTT itu memang dirinyalah sebagai Plt Kadisnya. Pada saat proses pelelangan, setiap paket proyek Pak Ridwan Mukti, Gubernur Bengkulu nonaktif itu sempat melihat dan mengecek semua list paket proyek yang ada di PUPR Provinsi Bengkulu itu. Pada saat pengecekan yang bersangkutan juga terdapat beberapa paket proyek yang belum dibuat listnya. Pada saat itu yang bersangkutan memerintahkannya untuk segera membuat listnya.
“Ya sesuai dengan perintah, saya langsung membuat list paket proyek tersebut sesuai dengan permintaan beliau,” ujarnya di muka persidangan itu kemarin.
Kemudian dia juga mengatakan, setelah beberapa paket proyek itu  dilelangkan dan sudah ada nama pemenangnya, kemudian Pak Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti langsung memanggilnya untuk menghadapnya di rumah pribadinya di Jalan Hibrida Bengkulu itu. Pada saat itu yang bersangkutan sempat melihat orang yang memenangkan proyek tersebut tidak dikenalnya. Oleh karena itu dia sempat marah dan memerintahkan dirinya untuk memanggil semua pemenang proyek tersebut untuk menghadap dia.
“Ya pada saat dia (Ridwan Mukti red) mengetahui kontraktor yang memenangkan proyek tersebut tidak dikenal, dia langsung marah. Padahal pemenang proyek tersebut sudah ditentukannya. Oleh karena itu dia memerintahkan saya untuk memanggil pemenang proyek tersebut, yaitu  Ahmad Irfansyah dan Aryanto untuk menghadap dirinya,” terangnya.
Di muka persidangan itu dia juga mengaku menjalankan perintah Gubernur Bengkulu itu untuk memanggil pemenang proyek itu. Namun pada saat dipanggil, Ahmad Irfansyah dan Aryanto tidak memenuhi panggilan Gubernur Bengkulu pada saat itu. Sehingga membuat amarahnya memuncak dan marah besar kepada Aryanto dan Ahmad Irfansyah lantaran tidak memenuhi panggilannya.
“Ya dia marah besar dengan kontraktor yang menangkan proyek itu saat dipanggil tidak datang. Bahkan dia marah sambil melontarkan kata-kata, jangan main-main dengan saya, nanti saya tempeleng. Bahkan saya dipecat setelah pertemuan dengan dia di Jakarta pada 1 Juni lalu,” ujar Kuntadi menirukan perkataan Ridwan Mukti pada saat itu.
Kemudian saksi Saifudin, di muka persidangan itu juga mengaku bahwa dirinya pernah mengenalkan semua pemenang proyek di Bina Marga itu dengan Pak Ridwan Mukti. Diantaranya Pak Joni Wijaya dan Pak Ahmad Irfansyah. Namun yang berhasil bertemu dengan Pak Ridwan Mukti hanya Pak Joni dan Pak Ahmad Irfansyah belum sempat bertemu. Tetapi pada saat itu dirinya dan Pak Ahmad Irfansyah sempat ke Jakarta dengan tujuan bertemu dengan Pak Ridwan Mukti, namun pada saat itu pertemuan yang direncanakan itu belum berhasil.
“Ya, memang saya dan Pak Ahmad Irfansyah sempat pergi ke Jakarta sesuai dengan permintaan Pak Ridwan Mukti untuk membawa pemenang proyek itu menghadap dengan dia. Namun pertemuan yang direncanakan itu tidak berhasil,” terangnya.
Sementara itu Ahmad Irfansyah, di muka persidangan itu juga mengatakan, memang dirinya setelah menangkan paket proyek di PUPR Provinsi Bengkulu itu tidak pernah bertemu dengan Pak Ridwan Mukti. Sebab pada saat Pak Ridwan Mukti minta untuk menghadap dengan dia, setelah ditelaah sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa terkait dengan pemenangan proyek itu.
“Saya sebenarnya sempat mikir, proyek itu saya menangkan sesuai dengan proses pelelangan yang dilakukan oleh pihak PUPR. Tidak ada urusan dengan dia. Jadi pada saat itu saya kurang mau bertemu dengan dia. Namun dipaksa oleh Pak Kabid Bina Marga, saya juga berangkat ke Jakarta. Tetapi saya tidak berhasil bertemu dengan beliau,” pungkasnya.
Setelah mendengar keterangan 4 orang saksi di muka persidangan itu, Ketua Majelis Hakim kembali menunda persidangan dan dilanjutkan Selasa depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh JPU KPK. (ide)

BERBAGI:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

six + nine =