Belasan Petani Desa Talang Buai Kering & Gagal Tanam

Belasan Petani Desa Talang Buai Kering & Gagal Tanam

12
BERBAGI
RADAR BENGKULU

Muharamin: Kok Tanggul Petani Diroboh? Izin Siapa?

RBO, BENGKULU – Sedih. Sungguh miris nasib belasan petani di Desa Talang Buai, Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko. Sawah mereka kering kerontang dan gagal turun ke sawah sudah 2 kali musim tanam. Penyebabnya bendungan yang mereka bangun swadaya malah rusak parah dan rata dengan dasar air. Semua itu akibat dari pembuatan proyek pelapis tebing Sumatera VII.

Kini petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Maju, Desa Talang Buai di Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko sudah meminta tolong dengan berbagai pihak. Mulai dari Bupati Mukomuko, DPRD Provinsi asal Mukomuko, hingga Balai Sumatera VII. Nanti juga minta bantuan ke Gubernur Bengkulu.

Bencana bagi petani itu akibat dampak dari dibongkarnya bendungan swadaya masyarakat di Sungai Payang oleh PT. Dores Ortusa Jaya tahun 2017 ini. “Musim tanam lalu kami gagal ke sawah. Kali ini kami terancam gagal lagi ke sawah. Ada 10,40 hektare lahan sawah milik 17 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Maju tidak teraliri lagi air dari Sungai Payang akibat batu yang selama ini kami jadikan tanggul telah diambil untuk pembangunan bronjong pelapis tebing air Payang oleh PT. Dores Ortusa Jaya,” ungkap perwakilan petani Desa Talang Buai mewakili kelompok tani Harapan Maju, Sumatri saat menemui anggota dewan Provinsi Bengkulu dari Dapil Mukomuko Ir Muharamin, Jumat (22/9).

Oleh sebab itu lanjut Sumatri, karena musim tanam kedua tahun 2017 tidak lama lagi dimulai, rombongan petani Harapan Maju berharap lahan pertanian sawah mereka bisa kembali diolah. “Sebab itu kami mohon agar bisa dibuatkan tanggul atau memasang bronjong yang panjangnya sekitar 100 meter dengan ketinggian 5 meter serta lebar 4 meter sebagai penahan air, agar air Sungai Payang bisa mengairi sawah kami,” terangnya.

Mendengarkan keluhan dan aspirasi dari perwakilan kelompok Tani Harapan Maju itu, Ir Muharamin selaku wakil rakyat dari Kabupaten Mukomuko. Dia ikut merasa terpanggil, akan tetapi menurutnya dalam persoalan hingga PT. Dores Ortusa Jaya berani mengambil batu hasil swadaya masyarakat Desa Talang Buai itu tentu ada dasarnya.

“Tentu itu ada izin, hingga kenapa PT Dores berani mengambil batu penahan air untuk mengaliri sawah selama ini. Ini pasti ada izin dari perangkat desa. Dan setelah saya pahami atas laporan ini, persoalan galian C ini cukup rumit, lantaran banyak melibatkan perangkat desa, sementara pengelola mereka mengatasnamakan perusahaan. Untuk itu satu-satunya jalan, persoalan ini harus diselesaikan tingkat desa bersama perangkat desa. Kenapa sampai air tidak mengalir kesawah lagi? Kemudian dibahas soal untuk pembuatan tanggul kembali,” terangnya.

Dan dari Provinsi Bengkulu sendiri, lanjut Muharamin, itu ada syarat dan ketentuannya, untuk lahan yang dibawah 100 hektare itu adalah kewenangan Pemda tingkat II, jika diatas 100 hektare bisa diselesaikan oleh provinsi.

“Jika memang itu adalah kewenangan provinsi, maka bidang pengairan yang akan menindaklanjutinya. Jika tidak kita limpahkan ke Balai Wilayah Sungai. Untuk itu, saya akan tanyakan pada Kabid Pengairan Provinsi Bengkulu nanti. Dan memang Kabupaten Mukomuko saat ini, sedang menggalakkan swasembada pangan beras. Kalau untuk sawit sudah tumbang contohnya di Lubuk Pinang, tapi kalau beras itu di Sungai Ipuh contohnya dimana irigasinya dibangun untuk swasembada pangan,” pungkasnya. (idn)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

9 + 20 =