RM Ajak Rapat, Lily Sebut Mau Lebaran

RM Ajak Rapat, Lily Sebut Mau Lebaran

37
BERBAGI
Radar bengkulu

Rico Dian Sari: Saya Yang Antar Uang Rp 1 M ke Ibu Lily

RBO, BENGKULU – Terdakwa Joni Wijaya kemarin Selasa, (26/9) kembali didudukkan di Kursi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu. Sidang lanjutan agenda pemeriksaan saksi yang memberatkan itu diketuai oleh Majelis Hakim Admiral SH, MH, dalam persidangan itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan 5 orang saksi yang memberatkan terdakwa yaitu Rico Dian Sari selaku Direktur PT Rico Putra Selatan (RPS), Rico Kadafi alias Rico Maddari adik kandung dari Lily Martiani Maddari, Teza Selaku Dirut PT Pilar Jaya Kontruksi, Rahmadani dari pihak Swasta dan Rian Hidayat selaku Ajudan Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti.

Di muka persidangan itu saksi Rico Dian Sari yang juga Tsk dalam kasus OTT itu mengaku bahwa terdakwa Joni Wijaya memang ada mendapat paket proyek di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bengkulu. Namun dirinya mengaku tidak mengetahui nama paket proyek yang didapatkan oleh terdakwa Joni Wijaya yang jelas dirinya memang mengetahui terdakwa mendapatkan paket proyek.

“Saya jujur saja di persidangan ini. Saya memang mengetahui bahwa terdakwa Joni Wijaya ini ada mendapatkan beberapa proyek di PUPR Provinsi Bengkulu ini. Tetapi saya tidak tahu paket proyek yang mana, saya bukan lupa tetapi memang tidak tahu,” terangnya di muka persidangan itu kemarin.

Kemudian di muka persidangan itu dia juga mengaku, bahwa dirinya tidak pernah membicarakan masalah proyek dengan Pak Ridwan Mukti, namun pembicaan masalah proyek itu dibahas dengan ibuk Lily Martiani Maddari.

“Saya memang pernah ketemu dengan ibuk Lily di Jakarta. Dalam pertemuan itu membahas masalah proyek di Bengkulu pada tahun 2017 lalu, di pertemuan itu ibuk Lily mengatakan dengan saya.

“Dek di Bengkulu nilai proyeknya besar-besar ya. Jadi tolong dibantu ya dek, dan sampaikan dengan teman-teman yang lain saya minta fee dari pemenang proyek tersebut 10 persen. Tetapi saya tidak melaksanakan perintahnya. Saya tidak menyampaikan dengan kontraktor yang ada di Bengkulu ini,” ujar Rico Can di muka persidangan itu.

Kemudian dia juga mengaku bahwa dirinya juga mendapatkan proyek di dinas PUPR Provinsi Bengkulu 3 paket dengan jumlah anggaran Rp 60 Miliar. Pada 31 Mei dirinya pernah ditelepon oleh Rico Maddari bahwa Pak Ridwan Mukti ingin bertemu dengan para kontraktor yang ada di Bengkulu ini. Permintaan pertemuan itupun terjadi di Jakarta.

“Di pertemuan itu yang hadir Rico Kadafi, Teza, Rahmadani dan saya sendiri. Dalam pertemuan itu Pak Ridwan Mukti mengatakan agar bekerja dengan baik dan bekerja sesuai dengan sfeksipikasi,” ucapnya di muka persidangan itu.

Setelah itu lanjutnya, dirinya kembali menemukan ibuk Lily dengan tujuan untuk pamit mau pulang ke Bengkulu. Pertemuan itu berlangsung di salah satu Kafe di Jakarta, waktu itu pada bulan puasa, diamana dirinya datang ke kafe tersebut sebelum buka puasa. Memang di pertemuan itu ibuk Lily kembali mengobrol dengan dirinya dan menanyakan siapa saja yang datang di waktu pertemuan dengan pak Ridwan Mukti.

“Ibuk Lily saat itu mengatakan, kenapa yang datang menemui om Ridwan Mukti hanya empat orang? Kemudian dia juga mengatakan dengan saya, dek orang mau lebaran waktu itu saya spontan saja jawab ya, memang saat itu saya sempat berpikir bahwa ibuk Lily ini mau minta fee proyek yang saya menangkan ini. Saya langsung saja jawab bahwa saya baru selesai tanda tangan kontrak dan uang mukanya belum cair. Saat itu memang faktanya demikian,” ucapnya.

Kemudian di Bengkulu pertemuan kembali diadakan di kantor Gubernur Bengkulu waktu itu yang hadir Joni Wijaya, Lolak, dirinya sendiri, Syaifudin dan ada yang lain, di pertemuan itu Pak Ridwan Mukti hanya ingin kenal dengan para pekerja di Bengkulu ini.

“Dipertemuan itu memang Pak Ridwan Mukti tidak pernah mengatakan komitmen fee. Di pertemuan di ruang kerjanya itu Pak Ridwan Mukti menceritakan keakrabannya dengan saya. Bahwa dia kenal dengan saya ini sejak waktu kecil, namun di pertemuan itu Pak Ridwan Mukti hanya mengatakan dengan yang hadir di situ kalau ada apa-apa hubungi saja Rico Dian Sari,” pungkasnya.

Setelah itu dirinya kembali dipanggil oleh Syaifudin untuk menandatangani kontrak proyek yang dimenangi, di pertamuan khusus itu Pak Syaifudin mengatakan komitmen fee 15 persen mendengar perkataan Syaifudin demikian dirinya langsung menemui ibuk Lily kembali di Jakarta.

“Di pertemuan saya dengan Ibuk Lily itu saya mengatakan bawah Sayifudin mengatakan ada komitmen fee 15 persen. Waktu itu ibuk Lily mengatakan ah tidak ada itu,” ujarnya sembil meniru perkataan Lily Martiani Maddari di muka persidangan itu.

Setelah itu dia juga mengaku bahwa uang sebesar Rp 1 Miliar yang diamankan KPK saat OTT itu dirinya yang menerima dari Joni Wijaya dan mengantarkan ke rumah Ridwan Mukti di Kelurahan Sidomulyo.

“Yang mengantarkan uang itu ke kantor saya di Jalan Bhakti Husada Pak Joni Wijaya Sediri. Di pertemuan itu Joni Wijaya mengatakan mereka minta berapa? Saya langsung jawab mereka minta komitmen fee 10 persen. Memang pada saat itu Joni Wijaya mengatakan bisa nawar? Saya langsung jawab kalau mau nawar langsung ke Rico Maddari saja. Namun Pak Joni lebih percaya dengan saya. Lusanya Pak Joni kembali mendatangi kantor PT RPS untuk menyerahkan uang Rp 1 Miliar itu. Saat itu saya bilang dengan Pak Joni, ini uang kita buat saja tanda terima sebagai pembelian material padahal tidak ada. Setelah serah terima uang itu dilakukan saya langsung mengantarkan uang tersebut dan terjadilah OTT oleh petugas KPK,” bebernya.

Kemudian saksi Rico Maddari, di muka persidangan itu mengatakan, memang dirinya pernah menelepon Rico Dian Sari dan yang lainya untuk menyampaikan bahwa ada permintaan pertemuan dari Pak Ridwan Mukti, perintah itupun berdasarkan instruksi ibuk Lily.

“Ya saya yang menelepon Rico Dian Sari itu untuk ke Jakarta beretemu dengan Gubernur Bengkulu Pak Rdiwan Mukti. Sesuai dengan perintah ibuk Lily sebelumnya dengan saya,” pungkasnya.
Setelah mendengar pengakuan 5 orang saksi itu ketua Majelis Hakim kembali menunda persidangan dan dilanjutkan minggu depan dengan agenda yang sama yaitu keterangan saksi yang memberatkan terdakwa. (ide)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

twelve − eight =