RM Bela Diri dan Menyesali OTT KPK

Featured Hukum & Kriminal KORUPSI Pemda Provinsi

Lily Ngaku Minta THR

RBO, BENGKULU – Gubernur Bengkulu nonaktif, Dr H Ridwan Mukti, MH beserta istri Lily Martiani Maddari, akhirnya duduk di kursi panas. Sebelum duduk pasangan suami istri ini sempat memandang dan memandang kursinya dengan serius. Hal ini menjadi pemandangan menarik seakan-akan mereka tak sanggup duduk di sana.
Selain RM dan Lily, saksi lain yang di hadirkan ke sidang korupsi kemarin adalah Soehinto Sadikin, selaku Direktur Utama (Dirut) PT Statika Mitra Sarana (SMS) pusat di Padang Sumatera Barat. Sedangkan Joni Wijaya sebagai terdakwa kasus OTT oleh KPK RI kemarin Selasa, (3/10). Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi itu diketuai oleh Majelis hakim Admiral SH, M.Hum, dimana persidangan itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan 3 orang saksi yang memberatkan terdakwa.
Tiga orang saksi yang dihadirkan oleh JPU KPK itu memberi keterangan di muka persidangan tidak bersamaan. Pertama yang memberi keterangan di muka persidangan itu istri Gubernur Bengkulu nonaktif Lily Martiani Maddari. Di muka persidangan itu dia banyak membantah terkait dengan pengakuan Rico Dian Sari alias Rico Can saat menjadi saksi di muka persidangan sebelumnya. Yang dibantah Lily dalam persidangan itu, dia tidak mengakui bahwa dirinya pernah menerima uang Rp 100 Juta dari Rico Can untuk pergi ke Amerika. Namun dia mengakui ada pergi ke Amerika tetapi tidak ada menerima uang dari Rico Can. Namun dia mengakui bahwa Rico Can itu sudah dianggap sebagai adik angkat demikian juga dengan Rico Can sudah menganggap dirinya sebagai kakak angkat. Namun dia mengakui meminta uang THR dengan Rico Can ketepatan saat itu bulan puasa dan hampir mau lebaran. Dia juga membantah tidak ada menyebut nominal permintaan THR itu.
“Memang pernah saya minta THR dengan Rico Can. Saat itu saya mengatakan dengan Rico Can THR ya ayuk mau lebaran! Tetapi saat itu Rico Can mengatakan kalau Rp 500 Juta mau yuk? Saya jawab kalau lebih juga tidak apa-apa,” jelasnya di muka persidangan itu.
Pertanyaan Majelis hakim selanjutnya dimana lokasi permintaan THR itu disampaikan kepada Rico Can? Permintaan THR itu kata Lily, disampaikan di salah satu cafe di Senayan Jakarta. Saat obrolan itu berlangsung yang ada di lokasi Rico Kadafi Maddari, tetapi pembicaraan dirinya dengan Rico Can tidak diketahui oleh Rico Kadafi Maddari adik kandungnya itu. Sebelum pertemuan itu Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti juga mengadakan pertemuan dengan beberapa Kontraktor di Hotel Mulyadi di Jakarta setelah pertemuan itu dirinya kembali mengadakan pertemuan dengan Rico Can dan meminta THR.
“Memang sebelum saya ketemu dengan Rico Can dan permintaan THR itu disampaikan Pak Ridwan Mukti suami saya juga pernah ketemu dengan mereka para kontraktor yang hadir saat pemanggilan ke Jakarta itu. Saat saya menyampaikan permintaan THR itu. Adik saya (Rico Kadafi Maddari red) tidak mengetahuinya. Pembicaraan itu hanya saya dengan Rico Can, memang saat itu adik saya ada di lokasi,” terangnya.
Kemudian majelis hakim menanyakan apakah dia mengetahui asal usul uang Rp 1 Miliar yang disita KPK itu adalah uang fee proyek? Dia kembali membantah bahwa dia tidak mengetahui uang itu dari terdakwa Joni Wijaya pada saat diantar oleh Rico Can ke Rumahnya di Kelurahan Sidomulyo Kota Bengkulu saat itu. Tetapi pada saat itu Rico Can mengatakan dengan dia ini uang THR untuk ayuk, sementara Rico Can juga tidak memberitahukan asal usul uang itu dari mana. Selain dari dia juga mengaku tidak kenal dengan terdakwa Joni Wijaya sebelumnya. Dia kenal dengan Joni Wijaya saat dirinya diangkut ke Jakarta oleh Penyidik KPK setelah OTT itu berlangsung.
“Waktu uang Rp 1 Miliar itu diserahkan oleh Rico Can saya langsung ambil, dan langsung menyimpannya di brangkas pribadi saya di kamar. Selang beberapa menit Penyidik KPK datang untuk menanyakan uang itu dan saya kasih sekaligus saya juga ikut diangkut oleh KPK ke Jakarta setelah menjalani pemeriksaan di Mapolda Bengkulu,” ucapnya.
Pada 1 Juni 2017 dia mengakui pernah berkominikasi dengan Rico Maddari bercerita bahwa dirinya dipanggil Pak Ridwan Mukti masalah banyak pekerjaan kontraktor di Bengkulu ini yang belum selesai, oleh karena itu Pak Ridwan Mukti minta pertemuan dengan para kontraktor pemenang lelang di PUPR Provinsi Bengkulu untuk menghadapnya di Jakarta.
“Bertepatan pad 2 Juni saya telepon Rico Kadafi dan saya mengatakan dengan dia kalau mereka mau berangkat ketemu dengan Pak Ridwan Mukti kamu ikut saja ya dek. Kata saya saat itu, sehingga adik saya ikut ke Jakarta bersama para kontraktor yang hadir saat itu,” ucapnya. (ide)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *