Kepahiang = Kapal Dewa

Kepahiang = Kapal Dewa

Ikrok/RBO: Ketua tim Ekspedisi Sejarah nama Kepahiang, Emong Soewandi saat menjelaskan hipotesanya
BERBAGI:

Sejarah Nama Kepahiang

PENELUSURAN asal usul nama Kepahiang masih belum ditemukan secara akurat sampai saat ini. Tetapi sekarang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kepahiang melalui Bidang Kebudayaan mencoba melakukan ekspedisi dan menyelami sejarah Tanah Sehasen ini. Berikut Penjelasannya.

IKROK – KEPAHIANG

Sebagai Ketua tim ekspedisi, Emong Soewandi menelusuri data-data primer dan skunder untuk mengetahui asal-usul nama Kepahiang dan masyarakat Rejang Kepahiang ini.

Emong Soewandi yang biasa disapa Emong mengemukan, ada dua hipotesa tentang nama Kepahiang. Hipotesa pertama, Kepahiang berasal dari pohon dan buah Kepahiang. Dan hipotesa kedua, Kepahiang berasal dari kata Kepah dan Yang. Artinya, Kepah (kapal) Yang (dewa). Kalau digabungkan menjadi Kepahyang atau Kapal Dewa.

“Kami kemukakan dua hipotesa dalam menelurusi nama Kepahiang. Pertama berasal dari nama buah Kepayang dan kedua berasal dari Kepah dan Yang,” ujar Emong, Rabu (11/10) siang.

Tetapi kuat dugaan nama Kepahyang ini bukan diberikan oleh masyarakat Rejang Kepahiang atau masyarakat Rejang Musi Tengah. Nama Kepahiang diduga diberikan oleh masyarakat pendatang.

“Dugaan sementara nama Kepahyang ini bukan diberikan oleh masyarakat Rejang. Tetapi diberikan oleh masyarakat pendatang,” ungkapnya.

Dari catatan sejarah yang didapatkan pada ekspedisi pertama bangsa Eropa ke tanah Kepahiang pada tahun 1770 bernama Carles Miller. Dia menyebutkan singgah di suatu daerah bernama Kapiong Kalubar dan Palmu. Dugaannya Kapiong Kalubar dan Palmu sebutan yang salah dalam bahasa Carles untuk menyebutkan Kepahiang, Kelobak dan Permu.

“Tetapi Carles tidak membuat catatan perjalanannya. Melainkan sebatas ingatan saja. Dan sangat lemah,” tuturnya.

Dalam catatan lain dikemukan oleh bangsa Eropa lainnya bernama Bastian. Dia mengatakan, pernah mendatangi daerah perbukitan bernama Kapihiong. Hal tersebut diduga sebutan untuk Kepahiang.

“Itu tercatat dalam buku Bastian. Nah, terkait kelanjutnya akan disampaikan dilain hari,” singkat Emong. (***)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

18 − 10 =