PWI & Unihaz Sukses Adakan Dialog Kebangsaan

PWI & Unihaz Sukses Adakan Dialog Kebangsaan

BERBAGI
RIO/RBO Foto bersama Ketua PWI Bengkulu RektorUnihaz Ketua PW NU Bengkulu serta insan pers yang hadir dalam Dialog Kebangsaan.
BERBAGI:

RBO >>  BENGKULU >>  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Unihaz Bengkulu sukses mengadakan dialog kebangsaan bertemakan optimalisasi peran pers dan generasi muda dalam menangkal radikalisme dan menyikapi tragedi Rohingya di Aula Gedung Rektorat Unihaz Bengkulu kemarin.

Dalam acara yang menghadirkan narasumber Ketua PWI Zacky Anthoni, SH, MH, Rektor Unihaz, Dr. Ir. Yulfiperius, M.Si, Ketua PWNU Provinsi Bengkulu, Prof. Dr. Sirajuddin, M.Ag.MH diikuti pengurus PWI Provinsi Bengkulu, Direktur LSISI Jakarta, Darem 041 Gamas yang diwakili Kasi intel, perwakilan beberapa SLTA Kota Bengkulu, insan pers dari beberapa media cetak maupun elektronik.
Dalam membuka acara ini Zacky Antony, SH, MH menyampaikan bahwa tema yang diusung dalam dialog publik ini dilandasi sejarah NKRI yang butuh perjuangan dan kerjasama.

“Sekarang ini melihat perkembangan di tengah masyarakat bahwa banyak isu-isu yang bisa mengancam bangsa ini, sementara NKRI ini berdiri sudah kita nikmati sendiri, dimana semua ini butuh perjuangan sebelumnya oleh pejuang bangsa kita. Oleh karena itu, insan pers dan generasi muda tidak boleh melupakan sejarah. Sesuai dengan bidang kita, bisa memberikan kontribusi bagi bangsa. Pers melalui fungsinya yang diatur oleh undang-undang bisa menjalankan fungsinya secara maksimal dengan memberikan informasi, kontrol sosial, hiburan masyarakat. Jika pers mengkritik, artinya pers memberikan kontribusi bagi bangsa. Seperti kritik, ini merupakan kontribusi bagi bangsa. PWI sangat konsen melakukan dialog-dialog seperti ini supaya tumbuh pemahaman kalangan praktisi pers dan generasi muda bahwa sama-sama menjaga bangsa ini dengan menjalankan fungsinya yang diamanatkan undang-undang jangan disalahgunakan, “ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Rektor Unihaz, Dr. Ir. Yulfiperius, M.Si. Bahwa apa yang dirasakan sekarang ini merupakan perjuangan dari para pendiri bangsa Indonesia dengan bersatu dari 5 agama dalam merebut kemerdekaan, sehingga dengan adanya isu Rohingya jangan menjadi perpecahan bagi bangsa.

“Dalam menyanyikan lagu Indonesia Raga tercantum makna menggalang persatuan dan kesatuan yang tercermin dalam pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu kita semua harus menjaga jangan terpancing isu-isu yang intinya akan memecahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan darah dan keringat oleh pendiri bangsa kita, “sampai Rektor.

Dalam dialog publik ini menjadi masukan dalam satu pemahaman yang seragam dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan berkontribusi positif dan membangun dan menjalankan profesi pers yang diamanahkan undang-undang demi memberikan kontrol kepada pemerintahan. Dimana kemerdekaan pers adalah demokrasi, keadilan dan supremasi hukum yang mana kesemuanya ini menjadikan pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, control sosial dan melindungi kaum tertindas. Sedangkan generasi muda dapat berkontribusi dengan menyelesaikan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dengan serius dan penuh tanggung jawab kepada keluarganya maupun kepada negara secara tidak langsung.(Ae4)