Tangis Icon Bengkulu Bunga Rafflesia

Tangis Icon Bengkulu Bunga Rafflesia

bunga raflesia
BERBAGI:

Hampir Punah, Pemerintah Tak Pernah Hadir Ketika Rafflesia Mekar

Bila diilustrasikan, Bunga Rafflesia saat ini sedang mengalami kesedihan. Ia “Menangis.” Ketika Ia menjadi icon daerah dan namanya terkenal seantero dunia, namun ia tak diurus oleh pemiliknya. Miris sekali. Pemerintah terkesan hanya mencaplok Bunga Rafflesia sebagai icon Bengkulu semata, namun bunga Rafflesia sama sekali tidak dapat sentuhan dari pemerintah. Entah sadar atau sengaja, Pemerintah provinsi dan Kabupaten Benteng tidak pernah hadir di saat Bunga Rafflesia itu mekar. Berikut pantauan langsung jurnalis RADAR BENGKULU terhadap perhatian pemerintah terhadap Bunga Rafflesia.

  RADITYA FAROSTA, BENTENG  

Siang itu, Jurnalis RADAR BENGKULU melintasi di jalan Bengkulu – Kepahiang. Terlihat dengan tanda sederhana, spanduk seadanya yang telah lusuh dan robek bertuliskan “Bunga Rafflesia Mekar.” Dari tampilan yang jauh dari kata menarik itu tersimpan Bunga Rafflesia yang terkenal itu, Bengkulu disebut sebagai Bumi Rafflesia. Namun sebutan nama itu tampaknya hanya identitas saja. Saat ini bunga yang diprediksi 10 tahun lagi akan punah itu belum juga tersentuh oleh pemerintah. Meskipun Bengkulu akan menghelat event besar Visit 2020 Wonderfull Bengkulu dengan sejumlah destinasi wisata baru, pasti orang akan bertanya mana Bunga Rafflesia?

Untungnya sikap pemerintah yang acuh tak acuh, seolah tak peduli terhadap puspa langka tersebut ditutupi dengan Kelompok Pemuda Peduli Rafflesia Benteng (KPPR). Mereka secara ikhlas mencari dan menjaga keberadaan puspa langka ini tetap ada dan mekar. Hal yang mereka lakukan semata hanya untuk masyarakat dan wisatawan agar bisa melihat bunga terbesar di dunia.

Ketua Kelompok Pemuda Peduli Rafflesia Benteng, Zulkifli bersama beberapa orang anggota KPPR saat dilokasi Rafflesia mekar KM 45 Jalan Lintas Bengkulu – Kepahiang mengatakan, bisa dibuktikan ketidakpedulian pemerintah kepada bunga ini. Ambil saja contoh kecil dari promosi atau pemberitahuan kepada masyarakat luas akan adanya Rafflesia mekar.

“Tidak pernah ada dari pemerintah atau Dinas Pariwisata yang datang ke kami untuk berkoordinasi atau apa untuk promosi bunga ini. Lihat saja sangat sulit rasanya masyarakat atau wisatawan untuk mendapatkan informasi untuk sekadar mengetahui adanya bunga yang mekar. Paling mereka tahu ketika melintasi jalan ini. Saya berpendapat, padahal ini adalah perannya Pemda untuk membantu kami mempromosikan bunga. Bila dinilai sudah cukup, KPPR Benteng melakukan suatu tindakan konkrit untuk melestarikan Bunga Rafflesia ini. Kami mencari cikal bakal Bunga Rafflesia di dalam hutan lindung ini, kami pantau perkembangannya. Kami buka jalan menuju kesana. Kami jaga dan rawat bunganya tanpa dibayar, tanpa adanya instruksi dari manapun.’’ Perlu diketahui juga, proses dari pencarian hingga mekarnya Rafflesia ini bukan satu dua hari, namun berbulan- bulan. Karena dari bongkol Bunga Rafflesia ini hingga mekar memerlukan waktu hampir satu tahun.

‘’Hal yang kami lakukan ini adalah panggilan jiwa dan tanggung jawab kami sebagai putra daerah untuk mempertahankan Bunga Rafflesia ini,” katanya.

Kata Zulkifli, lihat saja upaya yang kami lakukan, sedih rasanya melihat sajian informasi Rafflesia mekar.

“Kami ambil spanduk bekas, lalu kemudian kami beli spidol. Terkadang kalau tak ada duit, kami coret dari arang dan kami tulis sendiri di atas spanduk lusuh itu. Ada satu spanduk yang sempat kami cetak sendiri, itupun sudah lama sekali, termakan usia jadi lapuk bahannya, luntur tulisannya.’’

Dan lebih miris lagi, tak ada satupun pejabat daerah ini yang tersentuh hatinya melihat kondisi seperti ini. Gubernur dan Bupati pasti lewat sini dan melihat, terlebih Bupati sini (Benteng) sudah lebih dari 4 kali berkunjung namun tak tersentuh hatinya untuk memperbaiki kondisi yang ada. Padahal ini daerah tanggung jawabnya. Bukan itu saja, banyak pejabat – pejabat daerah yang datang bawa tamu melihat Bunga ini, namun mereka tak sadar juga. Tidak ada alasan untuk Pemerintah untuk tidak ambil peran kalau Rafflesia ini mekar. Karena apa? Meskipun bunga ini hidup ditengah hutan, namun jadwal mekarnya bisa kita prediksi dan kita hitung. Jadi kalau Pemerintah mau melakukan sesuatu untuk kelestarian Bunga Rafflesia ini pasti bisa. Sebab kita selalu masuk ke dalam hutan, mencari dan memantau setiap bongkol Bunga Rafflesia. Sejak kelompok ini terbentuk tahun 2.000 lalu belum pernah ada sakalipun pemerintah yang datang ke kami,” ungkap Zulkifli yang kecewa.

Zulkifli dan anggota KPPR yang berpanas di jalan lintas dan berisiko tinggi tertabrak kendaraan yang lewat ini tak pernah memikirkan dampak buruk yang menimpa dirinya. Zulkifli mengatakan bahwa pemerintah telah rugi sekali mengabaikan Rafflesia.

“Dibulan Oktober ini saja sudah lima kali Rafflesia mekar. Dan terbaru ini ada tiga bunga yang mekar. Salah satunya ada bunga langka yang kelopak Bunga Rafflesianya dengan enam kelopak. Biasanya hanya lima kelopak saja. Bunga dengan enam kelopak ini terakhir pernah mekar pada tahun 2011 lalu. Dan masih ada 7 bongkol bunga lagi dilokasi yang sama akan mekar. Paling tidak mekar dibulan yang sama ditahun 2018. Nah ini bila diinformasikan dengan baik, maka akan berdampak positif pula bagi kami. Sadar atau tidak adanya Refflesia mekar disini ada roda putaran ekonomi yang berputar,” katanya.

Zulkifli mengatakan, KPPR terpaksa meminta keikhlasan hati wisatawan yang ingin lihat bunga. “Setiap orang yang ingin lihat bunga kami kenakan tarif Rp 10 ribu. Akan ada anggota kami yang menemani dan memberikan informasi seputar Bunga Rafflesia kepada setiap pengunjung. Ini kalau ada pengunjung, kalu tidak ya kami tak dapat lakukan apa-apa,” jelasnya.

Sementara itu, pemerhati dan ahli konsep Pariwisata Bengkulu, Suparhim, SE saat ditemui mengatakan, ketika pemerintah didalamnya ada porsi pengambil kebijakan, harusnya mereka lebih responsif dan peduli terhadap kekuatan yang mereka miliki. “Nah salah satu kekuatan kita adalah ada di Bunga Rafflesia ini. Bunga ini sudah dikenal nasional, bahkan internasional. Ketika icon ini tumbuh dengan baik dan subur dihabitatnya, lalu kenapa pemerintah diam saja? Ini daya tarik kita loh, dari bunga ini ada kunjungan wisatawan yang bisa hasilkan devisa, bisa juga Bengkulu sebagai tempat penelitian, ini kekuatan kita yang harus segera dibangun.

‘’Ini gawat kalau pemerintah tak ambil bagian disini. Sebagai contoh, sudah ada kejadian puspa langka ini dipotong kelopaknya, di cat pilok bunganya dan ada yang coba dipindahkan dari habitat aslinya”. (***)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

nine − 8 =