Mengungkap Sejarah dan Legenda Rejang

Mengungkap Sejarah dan Legenda Rejang

Ikrok/RBO Emong Soewandi
BERBAGI:

 

Rejang Be’ikuak Fenomena Nyata

ADA Fenomena kontroversial yang terjadi di kalangan suku Rejang di daerah pegunungan Provinsi Bengkulu. Khususnya berkenaan dengan legenda Rejang berekor atau dalam bahasa setempat Rejang Be’ikuak. Legenda masa lalu tersebut dianggap oleh masyarakat Rejang sebagai kebohongan sejarah dan tidak layak dilekatkan pada suku terbesar di Pulau Sumatera ini.

Tetapi berdasarkan fakta dan data yang terhimpun dari Tim Ekspedisi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kepahiang, ternyata Rejang Be’ikuak itu fenomena nyata. Berikut penelusuran tim ekspedisi budaya yang dipimpin oleh Emong Soewandi tersebut kepada RADAR BENGKULU kemarin.

IKROK USMAN- KEPAHIANG

Pembicaraan kami dengan tim ekspedisi di salah satu warung kopi yang ada di komplek perkantoran Pemkab Kepahiang semakin hangat. Banyak yang kami obrolkan tentang manusia masa lalu. Khususnya berkaitan dengan manusia taneak jang atau tanah Rejang. Terkhusus lagi berkaitan dengan taneak Kepahiang.  Kami berdiskusi terkait asal usul nama- nama Kepahiang sampai dengan orang yang pertama hidup di tanah  Bumei Sehasen ini. Akhirnya kami berbicara tentang sosok manusia berekor yang konon disebut sebagai manusia suku Rejang.

Menurut catatan penelurusan tim ekspedisi budaya yang dipimpin Emong Soewandi, Rejang Be’ikuak semacam fenomena yang kontroversi dalam cerita rakyat. Tetapi tim ekspedisi menganggap Rejang Be’ikuak adalah fakta dan fenomena nyata.

“Jadi kesimpulan kami, Rejang Be’ikuak itu fenomena fakta dan nyata,” ujar Emong sambil menghirup Kawo (kopi) pahit Kepahiang kemarin.

Diselangi dengan tarikan nafas Emong melanjutkan hasil temuan timnya mengungkap fakta sejarah penduduk Bumie Sehasen ini. Dia mengatakan, berdasarkan catatan Belanda sebagaimana diungkapkan oleh kontrolir DG Hoyen tahun 1935 M saat berkunjung ke Desa Embong Ijuk, Kecamatan Bermani Ilir Kepahiang mendapatkan laporan dari Kepala Kutei Embong Ijuk, yang menyatakan di desa tempat tinggal mereka ada seorang pekerja ladang yang memiliki ekor bernama XXXX.

“Kepala Kutei Embong Ijuk ini mengatakan kepada DG Hoyen; Rejang Be’ikuak ini berasal dari Desa Tebo Remas, tepatnya dalam hutan berbukitan yang mirip dengan Kuto (benteng) yang berada di perbatasan Desa Embong Ijuk dan Kabupaten Seluma,” sampainya.

Pada cerita rakyat  dan hasil penelitian terdahulu banyak yang mengatakan Rejang Be’ikuak, sebutan terhadap Rejang Bekoe atau orang Rejang yang mengikuti atau keturunan biku dan ada juga mengatakan Rejang Be’ikuak tersebut bukan ekor, tetapi keris yang terselip di pinggang, tidak bisa dipertahankan kebenarannya. Karena hasil temuan mereka berkesimpulan Rejang Be’ikuak itu benar-benar ada.

“Bila kebanyakan orang mengatakan Rejang Be’ikuak itu berasal dari bahasa Rejang Bekoe dan keris di pinggang, dapat kita bantah dan bahkan sangat kita bantah,” sampainya.

Emong mempertegaskan ucapannya dengan beberapa catatan yang berhasil mereka kumpulkan. Dalam catatan tersebut memiliki kesamaan dan menyebutkan adanya manusia berekor yang menghuni dataran tinggi di Provinsi Bengkulu. Jadi tekannya, bila 10 orang yang melihat dengan mata kepala lalu mencatatkannya, tim bisa berkesimpulan adanya hal tersebut.

“Kalu ado 10 orang yang melihat, masa 10 orang itu salah lihat galo, pasti ada yang benar,” terangnya.

Bahkan dalam catatan kontrolir Lais, JLM Suap yang berkunjung ke tanah Kepahiang pada tahun 1920 M, menuliskan tentang temuan. Dimana dalam perjalanan dia menemukan dua orang ibu dan anak yang sedang mandi di pancoran Taba Penanjung. Dan dua orang tersebut memiliki ekor sepanjang satu jengkal.

“Jadi kesimpulan sementara kami Rejang Be’ikuak itu ada. Bahkan kami telah menemukan kuburan yang dianggap masyarakat setempat kuburan orang Rejang Be’ikuak. Nanti akan kami tampilkan pada kesempatan lainnya,” tutup Emong. (***)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

10 + 11 =