Ribuan Masyarakat Bengkulu Ikuti Semnas Ust.Abdul Somad

Ribuan Masyarakat Bengkulu Ikuti Semnas Ust.Abdul Somad

BERBAGI:

Kumpulkan Rp 39 Juta untuk Muslim Rohingya

RBO >>  BENGKULU >> Sekitar 3 ribu lebih masyarakat di Provinsi Bengkulu Minggu kemarin (29/10) mengikuti agenda seminar nasional (Semnas-red) yang diisi oleh Ustad Abdul Somad,LC,MA di gedung auditorium Universitas Bengkulu (Unib-red).

      Agenda seminar nasional yang digelar oleh UKM Kerohanian Unib itu dihadiri langsung Rektor Unib, Dr.Ridwan Nurazi,M.Sc dan masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Bengkulu. Seperti dari Kabupaten Bengkulu Tengah, Mukomuko, Kota Bengkulu. Para peserta semnas sangat membludak dan didominasi oleh para kawula muda, anak-anak dan orang tua.

      Sekadar informasi, ustad Abdul Somad merupakan ustad asal Provinsi Riau yang lagi ngehitz di sosial media (sosmed-red) berkat ceramahnya yang cetar membahana.

      Seperti, akhir-akhir ini timeline media sosial ramai dipenuhi oleh video-video ceramah ustadz Abdul Somad. Banyak netizen yang melakukan aktifitas LCS (Like, Comment, Share) terhadap konten video ceramah Ust. Abdul Somad ini.

Mulai dari Facebook Fan Page Kitab Kuning Aswaja, Fodamara TV, Tafaqquh Video, hingga Fan page resmi Ust. Abdul Somad sendiri. Tak ayal videonya tembus hingga ratusan ribu bahkan jutaan views.

Video ceramah Ust.Somad begitu digemari oleh netizen. Beberapa netizen berkomentar bahwa ceramah yang disampaikan Ust.Somad sangat berisi dengan ilmu-ilmu dan landasan syar’i. Wajar saja karena memang kapasitas ust.Somad yang merupakan alumni dari Al-Azhar Mesir dan Darul Hadits Maroko. Walaupun ceramahnya begitu ilmiah, cara pemyampaian Ust. Somad diselingi dengan humor, sehingga ceramahnya menjadi semakin menarik dan tidak membuat jemaah merasa bosan.

Seperti pernyataannya terkait dengan masalah khilafiah yang ada sekarang ini. Ia meminta umat Islam tidak berpecah karena khilafiah.

“Saya tidak ingin menggiring umat hanya pada madzhab tertentu. Tapi saya juga tidak ingin ada yang setelah mendengar ceramah dan membaca buku saya kemudian mencukur jenggot atau menyesal memotong celana. Saya ingin semua saling menghormati, sebagaimana dulu kalangan salaf menghormati ulama lain yang berbeda pendapat,” tegasnya.

      Bagaimana lebih banyak perkara-perkara yang kita sepakati bersama, dibandingkan soal ikhtilaf (perbedaan pendapat-red). Lalu mengapa kita harus pecah karena soal ikhtilaf? Padahal ada persoalan besar lain yang perlu kita rebut. Misalnya soal ekonomi Islam dan politik Islam yang mesti berjalan.

Sementara itu, salah seorang peserta seminar nasional Gusti (28) menyambut positif kehadiran Ust. Somad, terutama dakwah di dunia maya.

      Menurutnya, media sosial adalah salah satu perangkat dalam belajar.

      “Kajian 1 jam di depan ustadz dalam sebuah mesjid hampir sama dengan rekaman visual 1 jam yang anda tonton di youtube. Tidak perlu terlalu sinis dengan pengajian melalui medsos dan perangkat virtual. Karena ia adalah bagian dari manhaj dakwah Quran. Billatii hiya ahsan, dengan cara lebih baik,” terangnya.

Ditambahkan, sarana bukanlah jadi masalah. Yang terpenting adalah kredibilitas konten yang disajikan dalam sarana tersebut.

“Dalam pengamatan saya, ustadz Somad sangat mumpuni sebagai ulama di Indonesia, menguasai sumber-sumber utama (quran dan sunnah). Bahkan mereka mutqin (profesional) dalam penyampaian tersebut,” tutupnya.

Agenda seminar nasional kemarin berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 39 juta lebih yang akan disumbangkan untuk membantu muslim Rohingya di Myanmar.(ags)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

20 − 11 =