Bisnis Manis Lestarikan Batik Besurek Bengkulu

Bisnis Manis Lestarikan Batik Besurek Bengkulu

45
BERBAGI
RBO/DOK Anak Paskibra Bengkulu nampak gagah dengan baju batik besurek yang diadakan RADAR BENGKULU bersama Pemprov Bengkulu, Lanal, UMB, Bank Bengkulu, PPI Bengkulu di Lampus UMB 11 November 2017

RBO – BENGKULU – SETIAP daerah punya pakaian batik. Termasuk Bengkulu. Batik Bengkulu ini dinamakan Batik Besurek. Batik Besurek ini artinya batik betulis. Yaitu, pembuatannya dilakukan secara ditulis tangan oleh para pengrajin Bengkulu. Supaya Batik Besurek ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik ke depannya, inilah kiat yang perlu dilakukan.

AZMALIAR ZAROS – KOTA BENGKULU

Batik Besurek merupakan batik khas Bengkulu. Batik yang bermotif kaligrafi Arab ini sudah tidak asing lagi bagi warga Bengkulu. Karena, ini memang sudah jadi ikon Bengkulu sejak zaman dahulu. Siapa orang pertama yang membuat motif Batik (kain) besurek (bertulis-red) itu, sampai kini memang tidak ada yang tahu sejarahnya itu. Karena bukti otentik itu tidak ada ditemukan seiring dengan hilangnya generasi yang terdahulu yang tidak menuliskan sejarahnya dalam bentuk buku atau tulisan, maupun prasasti.

Namun kerajinan batik besurek itu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16. Yaitu, bersamaan dengan masuknya Islam ke wilayah Bengkulu. Konon, kabarnya batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India.

Selain itu, sebagian orang yang beranggapan bahwa batik besurek awalnya dikenalkan pada masa pengasingan Pangeran Sentot Ali Basa dan keluarganya di Bengkulu pada masa Kolonial Belanda. Pada saat pengasingan itu, keluarga Sentot Ali Basa ini membawa bahan dan peralatan membuat batik dari Jawa. Tujuannya, untuk mengisi kesibukan selama di pengasingan. Pada saat keluarga Sentot Ali Basa melakukan pekerjaan membatik, warga Bengkulu tertarik dan ikut belajar. Walaupun memakan waktu yang lama, tak jadi soal bagi mereka.

Kemudian, budaya membatik ini digeluti warga Bengkulu dengan merubah polanya dengan motif flora, fauna, Arab gundul.
Karena pengaruh agama Islam sangat kental sekali pada waktu itu, maka motifnya lebih banyak mengarah kepada huruf Arab gundul atau lebih dikenal dengan batik Besurek Bengkulu.

Warna yang mendominasi kain Besurek Bengkulu umumnya adalah warna hitam atau biru, warna merah, merah hati, coklat, kuning atau kekuningan. Kain Besurek dengan warna hitam atau biru biasanya digunakan untuk menutup mayat dan menutup keranda. Sementara itu, kain Besurek dengan warna merah, merah hati, coklat, kuning dan kekuningan biasanya digunakan untuk keperluan upacara adat seperti untuk penganten dan pernikahan.

Seni kerajinan membuat batik Besurek di kalangan masyarakat Bengkulu itu sangat monoton sekali. Yang memakai juga tidak banyak. Hanya orang tertentu saja. Saat itu juga pemasarannya daru mulut ke mulut. Tidak ada dijual di toko. Mereka bagai kerakap tumbuh di batu. Hidup segan mati tak mau.

Sewaktu Suprapto menjadi Gubernur Bengkulu, maka dia coba mengangkat budaya batik besurek ini. Ia menggalakkan seni kerajinan kain Besurek dengan membangkitkan kembali motif-motif lama kepada para pengrajin batik besurek.

Kevakuman batik besurek itu adalah hal yang wajar. Karena, ekonomi warga saat itu terpuruk, harganya yang mahal dan pembuatannya yang begitu lama. Selain itu, motifnya memang tidak sesuai dengan akar budaya Bengkulu. Sebab, motifnya itu adalah dari Arab. Sedangkan orang Bengkulu sendiri bukan berasal dari keturunan Arab.

Campur tangan pemerintah
Melihat batik besurek jalan ditempat, maka waktu Bengkulu dipimpin Gubernur Razie Jachya, maka dia pun melakukan hal yang sama. Dia mencoba mengangkat batik besurek. Walaupun motifnya tidak sesuai dengan akar budaya Bengkulu, tak soal. Karena, batik besurek itu sudah milik Bengkulu. Ia menggerakkan pengrajin di daerah ini agar menghidupkan kembali kerajinan batik khas Bengkulu itu.

Disamping itu, dia juga mengarahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk membina perajin yang ada di daerah ini. Mereka itu diberikan pendidikan dan pelatihan agar bisa membuat batik besurek yang lebih berkualitas.

Tak hanya itu, mereka juga diberikan modal usaha. Walaupun bantuannya tidak seberapa, tetapi ini cukup berarti bagi para perajin. Lambat lain akhirnya muncullah perajin batik baru. Mereka mulai bersaing dan menciptakan motif-motif baru yang menarik. Seperti motif bunga Rafflesia.

Karena itu, Gubernur Razie Jachya menganjurkan para PNS di daerah ini untuk mendukung dan melestarikan batik besurek itu. Bahkan, pemerintah daerah sudah mulai mewajibkan PNS memakai batik besurek ke kantor. Pemda juga menganggarkan dana untuk membeli batik besurek untuk dipakai oleh para PNS.

Dengan adanya support dan dukungan dari pemerintah daerah ini, maka para perajin batik kebanjiran order. Tukang jahitpun kecipratan. Mereka kewalahan menerima order membuat baju. Sehingga ekonomi Bengkulu jadi bergairah. Toko kerajinan bermunculan dimana-mana. Bahkan, kemudian dibuat Pusat Kerajinan Khas Bengkulu di Anggut Atas.

Tak hanya sampai disitu, untuk melestarikan batik besurek ini, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga melakukan terobosan baru untuk membuat seragam wajib untuk pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Dengan adanya campur tangan pemerintah daerah itu, sampai sekarang batik Besurek sudah dipakai dan dikenal oleh semua orang dan semua kalangan. Bahkan, sudah ada juga muncul batik printing atau pabrikan. Batik Besurek pun sudah sering ditampilkan dalam berbagai acara didaerah, acara nasional maupun internasional.

Batik Besurek yang sudah ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya tak benda hasil sidang penetapan warisan budaya tak benda Indonesia Tahun 2015 yang dilaksanakan pada 20-23 September 2015 di Jakarta itu pun kini semakin dikenal orang. Presiden, Gubernur, pengusaha sudah pakai batik Bengkulu. Batik besurek kini taka sing lagi.

Kain Batik Besurek sekarang sudah diproduksi atau dibuat secara manual maupun secara massal. Untuk kebutuhan perorangan atau pun untuk kebutuhan masyarakat umum. Dijadikan pakaian seragam untuk sekolahan, dan kantoran. Desain bajunya pun sudah banyak mengalami perubahan dan variasi, sehingga batik Besurek sangat elegan jika dipakai dalam setiap kegiatan, terutama pada kegiatan formal.

Saat ini batik besurek dapat dibeli dimana-mana. Di kota Bengkulu, kain batik besurek sangat mudah ditemukan dan dibeli di berbagai toko dan sentra kerajinan Bengkulu di kawasan Anggut. Baik dalam bentuk bahan, maupun dalam bentuk bahan jadi. Harga jualnya pun bervariasi dan sangat terjangkau.

Untuk melestarikan batik besurek ini, pemerintah daerah juga mengadakan kegiatan karnaval batik besurek. Memberikan batik besurek sebagai oleh-oleh kepada para tamu yang berkunjung ke Bengkulu, mengadakan pameran batik besurek diberbagai iven nasional di Jakarta.

Ikuti Era Digitalisasi

Masa depan batik besurek ini, nampaknya sangat bagus. Karena Batik Besurek itu sudah punya nama besar. Karena, petinggi negeri ini sudah banyak yang mengenakan dan mengenalnya. Bahkan mereka ikut membelinya saat diadakan pameran di Jakarta.

Seperti ibu Presiden RI, Iriana Jokowi, Istri Wapres, Mufida JK, Menteri Perindustrian, Air Langga Hartono bersama istrinya, Menteri PU PR Basuki Hadi Mulyono bersama istrinya ikut membeli batik besurek Bengkulu pada acara pagelaran Karya Kreatif Indonesia yang diadakan Bank Indonensia di Jakarta Convention Center Jakarta tanggal 18-20 Agustus 2017 lalu. Kalau kualitasnya buruk, tak mungkinlah mereka mau membeli.

Dengan modal ini, maka Batik besurek Bengkulu sudah berada di atas angin dan kini tinggal bagaimana mengemasnya agar batik besurek agar semakin disukai orang dan akhirnya tetap bisa lestari.

Untuk bisa lestari, seiring dengan kemajuan zaman, maka batik besurek, baik itu yang dibuat manual, maupun yang dibuat dalam bentuk printing atau pabrik juga harus terus ikuti perkembangan. Motif-motifnya juga harus dimodifikasi secara baik dan kualitasnya juga harus tetap dijaga.

Yang harus dipahami bersama, perajin batik besurek manual dan printing memiliki tujuan yang sama. Yaitu, melestarikan batik besurek. Kalau itu sudah dipahami secara baik dan benar, maka ke depan tidak ada timbul rasa iri. Perajin batik manual jangan merasa minder dengan batik printing. Sebab, bagaimanapun juga mereka ikut mendukung dan melestarikan batik besurek tersebut.

Harga batik juga, terutama batik printing harus diupayakan tidak jauh beda dengan batik lain atau baju bukan batik dengan tetap menjaga mutu dan kualitasnya. Sedangkan batik manual, harus menyesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan.

Untuk pemasarannya juga, harus diubah. Selain menjual ditoko-toko, juga harus ikuti era kekinian. Harus melakukannya dengan promosi lewat internet dan penjualannya juga hendaknya ikuti era digitalisasi juga. Sehingga orang di Jakarta, di Papua, Aceh, Padang, bisa membelinya secara gampang. Tidak harus ke Bengkulu dulu.

Untuk promosi ini juga, pemerintah harus ikut andil dengan membuat atau memasukannya di situs tersendiri, disamping situs resmi pemerintah daerah. Tempat penjualnya juga hendaknya diperbanyak, seperti di mall, pusat perbelanjaan, di anjungan Indonesia TMII.

Sedangkan promosi batik itu juga harus terus dilakukan dan ditingkatkan. Lomba fashion show batik besurek harus terus digalakkan, pameran-pameran, karnaval batik itu juga harus dilakukan.

Kantor-kantor dinas insntasi pemerintah, swasta, bahkan pribadi-pribadi warga Bengkulu juga dianjurkan untuk memakai batik besurek pada hari tertentu. Bila perlu, harus dibuat dan ditetapkan sebagai hari batik besurek.

Sedangkan bingkisan atau oleh-oleh untuk tamu yang berkunjung ke daerah juga harus terus dilakukan. Tentunya itu diberikan khusus kepada orang yang belum pernah diberikan.

Yang perlu dipikirkan juga, adalah pengrajinnya. Mereka yang jadi ujung tombaknya ini perlu diberikan penghargaan setiap tahun. Bila perlu adakan penilaian setiap tahun terhadap pengrajin batik ini. Mereka yang punya motif baru juga, beri penghargaan khusus.

Dengan adanya perhatian yang bagus ini, akan muncul motif –motif baru. Sehingga batik Bengkulu akan semakin bagus dan dicintai masyarakat Bengkulu dan masyarakat umum. Kalau semua orang sudah senang dengan batik, maka otomatis batik Bengkulu akan lestari. Jadi, yang bisa melestarikan batik besurek ini adalah melalui bisnis batik inilah. Sebab, semua pihak punya kepentingan dan mereka saling membutuhkan. (**)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

17 − 10 =