Bengkulu Membaik, Kemiskinan Turun, Inflasi Bawah Nasional

Bengkulu Membaik, Kemiskinan Turun, Inflasi Bawah Nasional

BERBAGI
Ronal/RBO Plt Gubernur Bengkulu didampingi , Kepala BPS, Kepala BI sedang memberikan keterangan pers

RBO >>  BENGKULU >>  Plt Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah, MMA menyatakan optimis terhadap perkembangan investasi dan pertumbuhan perekonomian masyarakat Bumi Rafflesia. Hal ini lantaran beberapa indikator. Yaitu, angka inflasi Bengkulu di bawah rata-rata nasional, angka kemiskinan turun yang cukup signifikan serta perkembangan ekspor-impor di atas 50 persen dari tahun sebelumnya.

“Saya kira indikator-indikator seperti ini jelas mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Dan hal ini akan menimbulkan sentimen pasar yang positif terhadap Bengkulu. Dimana ini harus menciptakan bagaimana mengundang investor yang lebih banyak dan memperbaiki neraca ekspor kita,” jelas Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah pada Konferensi Pers bersama Kepala BI dan BPS kemarin.

Lanjut Rohidin Mersyah, selain indikator pendukung tersebut untuk memacu pertumbuhan ekonomi, Pemprov Bengkulu juga akan segera merealisasi APBD yang telah disahkan. Termasuk penambahan jalur penerbangan baru ke beberapa daerah maju dan berkembang serta optimalisasi mobilitas arus angkutan hasil pertanian.

“Ini pondasi yang cukup baik untuk membuat kita nyaman bekerja. Namun tentu kita tidak boleh lalai. Sinergi antara Bank Indonesia, BPS (Badan Pusat Statistik) dengan Bulog dan Direktorat Perbendaharaan yang akan mengontrol realisasi anggaran ini betul-betul tepat waktu. Saya yakin kolaborasi ini pasti menghasilkan sebuah kinerja ekonomi yang lebih baik untuk Bengkulu,” pungkasnya.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga, tekanan inflasi pada Januari 2018 akan menurun. Terlebih pada awal 2018 hingga akhir semester I, Bengkulu diperkirakan akan mengalami inflasi sebesar 0,64 persen atau secara tahunan inflasi sebesar 3,17 persen (yoy).

“Menurunnya tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari kelompok volatile foods dan administered prices, seiring berkurangnya espektasi konsumsi, kondisi cuaca semakin membaik serta berakhirnya periode high season penerbangan. Dengan perkembangan tersebut, inflasi pada triwulan I 2018 diperkirakan akan berada pada rentang 2,42 hingga 3,92 persen,” papar Endang Kurnia Saputra.

Kendatipun demikian, jelas Endang Kurnia, juga perlu dicermati beberapa faktor risiko. Diantaranya: potensi penyesuaian harga BBM dan tarif dasar listrik, kenaikan tarif cukai rokok, peningkatan daya beli masyarakat akibat bertambahnya pendapatan (UMP dan TPP PNS) dan potensi depresiasi Rupiah terhada USD akibat kebijakan suku bunga AS.

“Ini senantiasa menjadi isu yang sangat meresahkan dan ekonomi Indonesia seakan dikelola oleh pasar dunia. Namun ini bisa kita minimalisir dengan kerjasama yang solid,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani menyebutkan, penurunan angka kemiskinan Bengkulu yang cukup signifikan (hampir 1 persen) juga disebabkan stabilnya harga dan pendistribusian bahan makanan pokok yaitu beras.

“Ini ternyata sangat signifikan dalam penurunan angka kemiskinan. Karena beras itu 25 persen sumbangannya terhadap garis kemiskinan di pedesaan dan 16 persen di perkotaan. Oleh karena itu, selain angka inflasi dari TPID dan Tim Rastra juga harus selalu mengawal. Karena ini ya langsung pada lapisan masyarakat bawah,” terang Dyah Anugrah Kuswardani. (run)