Misterius! Tikar dan Bercak Darah Meninggalnya Siswi SMAN 4 Kota Bengkulu

Misterius! Tikar dan Bercak Darah Meninggalnya Siswi SMAN 4 Kota Bengkulu

Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Drs Coki Manurung, SH. M.Hum
Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Drs Coki Manurung, SH. M.Hum
BERBAGI:

RBO >>  BENGKULU >>  Tikar dan bercak darah ditemukan  sebagai petunjuk pihak kepolisian untuk mengungkap pelaku dan kronologis meninggalnya Auzia Umi Detra (17) Siswi SMAN 4 Kota Bengkulu masih misterius. Sebab, pelaku DN (18) warga Lebong yang berhasil ditangkap tim Opsnal Polda Bengkulu itu mengaku tidak membawa tikar ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan. Ia hanya mengaku membawa dan menyiapkan palu, Lakban, dan gunting sebelum berangkat ke Lentera Merah Pulau Baai, TKP pembunuhan tersebut. Alat tersebut dipinjam di salah satu rumah temannya, dengan alasan mau dekor kelas.

      “Saat aku pergi dengan dia (korban red) aku tidak membawa tikar. Dan pulang setelah kejadian itu aku juga tidak membawa tikar dan darah. Tetapi tikar yang ada bercak darah itu ada dan ditemukan di kosan aku. Aku tidak tahu ada tikar yang ada bercak darah itu ada di Kos,” ujarnya ke RADAR BENGKULU Jumat(9/2).

      Dijelaskan DN, pada Kamis 1 Februari 2018, ia menghubungi korban, dan mengajak korban bertemu dengan cara bujuk rayu memberikan hadiah ulang tahun. Setelah ada jawabanya dari korban, pelaku DN langsung mempersiapkan palu, gunting, dan lakban untuk dibawa saat pergi dengan korban itu nantinya. Namun ia ungkap dan mengaku tidak pernah membawa tikar dan bercak darah yang ditemukan misterius di kosannya itu.

      Kemudian dia mengakui bahwa setibanya di jembatan luncur sebelum simpang masuk ke RT 8 eks lokalisasi kawasan Pulau Baai itu, ia menutup mata korban dengan masker warna hitam dan tidak mengizinkan korban untuk melihat jalan menuju Lentera Merah itu, dengan alasan bahwa ia akan memberi kejutan kepada korban. Diperjalanan masuk ke arah Lentera Merah itu, korban sempat bertanya kenapa jalannya terasa buruk. Pelaku tetap tidak boleh membuka matanya, hingga sampai di TKP.

      “Ya, aku tutup mata dia (koreban red) dari Jembatan Luncur itu, hingga sampai ke TKP,” ujarnya.

      Kemudian ia mengungkapkan, cara menghabisi korban. Setibanya di TKP tangan korban langsung diikat, dan mulutnya dilakban. Kemudian ia langsung memukul kepala korban bagian belakang sebanyak dua kali. Dan menujah leher korban menggunakan gunting sebanyak dua kali. Darahpun langsung keluar mengalir begitu deras, sehingga korban langsung terjatuh tak berdaya.

      Diakuinya, pada saat menghabisi nyawa korban, korban sempat memberikan perlawanan. Sehingga di leher pelaku terdapat luka cakar. “Saat itu dia (korban red) memang ada berupaya melawan dengan cara mencakar saya,” ungkapnya.

Kemudian ia juga mengakui, setelah korban tidak berdaya, ia langsung mengambil handphon, tas, dan dompet korban beserta uang Rp 160.000. Uang hasil penjualan HP itu Rp 900.000, semuanya digunakan untuk bayar kosan. Sementara uang Rp 160.000, itu digunakan untuk main futsal Rp 20.000. Sisanya digunakan untuk beli kartu paket kuota, dan makan sehari-hari.

 Sementara itu, semua alat yang digunakan pelaku membunuh korban dibuang secara terpisah. Palu, tas, dan dompet, korban dibuang di kawasan Sukarami Padang Kemiling. Yang sekarang sudah ditemukan Penyidik Polda Bengkulu. Sementara sepeda motor korban, diakuinya tidak berani menjual. Memang niat untuk menjualnya juga sudah ada. Karena takut, sehingga motor itu dibuang di kawasan Lapangan golf, dan biar lebih dekat jalan kaki pulang ke kosannya.

      “Ya, uang Rp 160.000 di dompetnya itu juga aku ambil. Motor itu tarok di lapangan golf. Kemudian aku Jalan kaki pulang ke kostan,” demikian ungkapnya.(ide)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

eight + eleven =