Elusan si Kucing Kancil Memompa Gairah Hidup Burman

Elusan si Kucing Kancil Memompa Gairah Hidup Burman

BERBAGI
SALAMUN/rbo Kucing Kancil sedang dibelai Bapak Burman yang saat itu didampingi istrinya, Hartati
BERBAGI:

Kucing Kancil yang Membalas Budi

RBO >>  BENGKULU >>  Meskipun anak-anak banyak yang berlaku kasar dengan orangtuannya, namun Kucing Kancil milik Burman ini tidak mau ikut-ikutan. Malahan, kucing yang merupakan binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW tersebut berbuat sebaliknya. Dia selalu hormat dan patuh dengan tuannya. Bahkan, kucing zaman now tersebut membalas budi atas kebaikan tuannya yang telah memberinya makan pagi, petang dan malam hari. Bagaimana ceritanya, baca saja liputan RADAR BENGKULU berikut ini.

SALAMUN, AZMALIAR ZAROS – KOTA BENGKULU

KUCING  merupakan hewan peliharaan yang selalu memiliki tingkah polah yang menggemaskan orang disekelilingnya. Terkadang rasa keingintahuannya yang tinggi menjadikan tingkah polahnya semakin lucu dan menarik hati. Seperti kucing warna hitam dan putih yang memiliki tubuh ideal ini.

  Kucing yang selalu diberikan makan 3 kali dan selalu dirawat, dimandikan oleh tuannya itu dengan baik itu juga melakukan hal yang sama untuk tuannya.

  Saat pemiliknya masih terlelap tidur,  ia sengaja membangunkan tuannya dengan caranya yang unik. Ia membangunkan tuannya itu dengan cara halus dan penuh kasih sayang. Yaitu, dengan cara mengelus- elus pipi tuannya sebelah kiri dan sebelah kanan dengan tangannya secara berulang-ulang.

‘’Ia membangunkan saya kalau terlelap tidur bukan mengeong dengan keras sehingga mengganggu orang yang sedang tertidur. Kucing ini justru membangunkan saya dengan cara yang lembut. Ia mengulurkan tangannya dan mengelus pipi saya yang saat itu benar-benar pulas tertidur,’’ ujar Burman (70), sang pemilik kucing yang tinggal di RT 2 RW 2 Kelurahan Pengantungan Kota Bengkulu saat ditemui RADAR BENGKULU di rumahnya kemarin.

  Ia mengelus pipinya itu, lanjut bapak yang berasal dari Pariaman, Sumbar yanbg berprofesi sebagai tukang permak pakaian di Pasar Minggu bertingkat itu tak hanya sekali. Tapi berulang-ulang.  Tampaknya kucing yang sudah dipeliharanya selama 6 bulan tersebut tak mudah menyerah untuk membangunkan pemiliknya .

  ‘’Kucing saya ini  kebiasaannya suka bermain dengan anak- anak kecil. Seolah olah seperti anak- anak lagi geli tulang,’’tutur si pemilik kucing  yang memberi nama panggilan  Kancil untuk kucing kesayangannya. Ia memberi nama kucing itu dengan nama Kancil, karena disaat pemberian nama itu, tubuhnya masih kecil mungil.

  Menariknya lagi, kalau tuannya pergi ke Pasar, kucing tersebut ikut mengantarkan tuannya kerja. Minimal dia mengantarkan dengan jarak 3 rumah. Setelah itu, dia kembali ke rumah tuannya tadi.

  Tidur si kancil ini juga unik. Yaitu, tangannya lurus ke depan. Sedangkan kakinya terbujur lurus ke belakang dengan posisi tertelungkup.

  Keunikan lainnya, lanjut Pak Bur—begitu dia biasa dipanggil–ketika dia terlambat dikasih makan, kucing ini  menarik- narik kaki celana tuannya sambil menoleh ke arah dapurnya atau ke arah piring yang dilihatnya.

Pantang Menyerah

  Meskipun usia Burman ini sudah lanjut, dia masih tekun bekerja untuk menghidupi istrinya, Hartati (64) dan 2 orang anak yatim yang butuh kasih sayang dan penghidupan. Apalagi dengan adanya kucing ini, dia semakin termotivasi untuk terus giat bekerja. Setiap hari dia membuka usaha permak pakaian di Pasar Minggu Bertingkat.

  Dengan bermodal mesin jahit milik sendiri dan tempat usaha masih menumpang di kios milik orang, dia selalu menunggu orang yang mau  mempermak pakaian mereka. ‘’Saya hanya bermodalkan satu buah mesin jahit dan tempat usaha ini juga masih numpang mangkal di auning atau kios milik tetangga. Saya hanya dibebankan biaya listrik dan uang sampah saja,’’ tutur bapak yang terpaksa mengontrak di rumah yang kurang layak huni karena atapnya banyak bocor karena ketiadaan uang.

  Karena, lanjutnya, usaha yang dia tekuni selama 5 tahun berada di Kota Bengkulu sepi sekali. Dalam sehari kadang ada yang mempermak pakaian kepadanya. Kadang tidak ada sama sekali. ‘’Ya, harus bagaimana lagi, kepandaian saya cuma menjahit itulah. Kalau membuka usaha lain, kan butuh modal juga. Sementara, ya saya jalami saja dulu apa adanya,’’ ujar bapak yang sudah 35 tahun merantau di Binjai, Sumatera Utara, 10 tahun di Pekanbaru, dan 3 tahun di Jakarta dengan profesi tetap sebagai tukang permak pakaian itu.

  Lebih lanjut dikatakannya, bahwa dia bisa mempermak semua pakaian. Seperti jaket, celana, baju, kain. Biaya yang dipatok untuk satu pakaian itu tergantung dengan tingkat pekerjaannya. ‘’Untuk upah permak itu berkisar Rp 15.000- Rp 25.000 saja,’’ paparnya.(*)