Tangkal Radikalisme, NU Benteng Latih Imam dan Khotib

Tangkal Radikalisme, NU Benteng Latih Imam dan Khotib

BERBAGI
Prof.DR_.Rohimin-M.Ag-saat-menyanpaikan-materi-pada-pelatihan-iman-dan-khotib-yang-digelar-NU-Benteng
BERBAGI:

RBO, BENTENG- Sebagai upaya menangkal timbulnya gerakan radikalisme di lingkungan masyarakat, kemarin (28/2) Pengurus Cabang NU Benteng menggelar pelatihan pada imam mesjid dan khotib se kecamatan Pondok Kelapa. Hadir sebagai narasumber Prof. DR. Rohimin, M.Ag dari MUI Provinsi Bengkulu dan DR. Zubaedi, M.Ag, M.Pd mewakili PWNU Bengkulu yang juga menjabat dekan fakultas Tarbiyah IAIN dan tergabung dalam forum koordinasi pencegahan terorisme.
Ketua NU Benteng, KH. Tarmizi menjelaskan imam mesjid dan khotib memiliki peran sangat strategis dalam mencegah tindakan radikalisme dan gerakan fundamentalisme. Apalagi imam mesjid merupakan pemimpin informal di lingkungan masyarakat yang selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan kemasyarakatan.
“Imam dan khotib mesti memiliki pengetahuan yang luas, melalui pelatihan ini diharapkan kualitas SDM imam dan khotib bertambah, mereka juga bisa memberikan pencerahan dengan bahasa yang santun, dengan demikian maka gerakan-gerakan radikalisme bisa kita cegah,” kata Tarmizi.
Sementara itu, dalam pemaparan materinya, Rohimin yang juga menjabat direktur pasca sarjana di IAIN Bengkulu mengemukakan transformasi teknologi yang begitu cepat ikut berperan dalam memunculkan gerakan radikalisme, apalagi saat ini banyal saluran media sosial dimanfaatkan oknum untuk menyebar kebencian dan berita hoax sehingga menimbulkan radikalisme. Peran imam dan khotib adalah menetralisir hal itu melalui kajian agama dengan metode yang tepat.
“Android cukup berperan, dengan mudah informasi menyebar. Kadang berita hoax disebar ke mana mana dan menimbulkan gejolak,” ujar Rohimin.
Dia juga menjelaskan gerakan radikalisme bisa dilihat dari ciri-cirinya, seperti mengkalim diri atau kelompok mereka.paling benar, ingin melakukan perubahan dengan cepat, melawan pemerintah yang sah, intoleran dan fundamentalis.
“Kita bisa melihat gerakan radikalisme melalui ciri-cirinya, jika imam atau khotib menemukan hal itu maka kedepankan dialog dan musyawarah,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya melalui MUI juga terus menginventaris paham dan gerakan yang berpotensi radikal, sebagai upaya mencegah mereka melakukan pendekatan perauasif dengan membuka ruang dialog dan musyawarah. (tan)