Golput Tinggi, Akibat Paslon Malas Kampanye

Golput Tinggi, Akibat Paslon Malas Kampanye

BERBAGI:

RBO,BENGKULU – Hingga saat ini masyarakat Bengkulu belum merasakan adanya kemeriahan pilwakot. Pasalnya pergerakan paslon (pasangan calon) walikota dan wakil walikota pun masih belum banyak dirasakan masyarakat. Akibatnya fatal, angka golput alias tidak memilih bakal besar.
Pengamat politik dari Universitas Bengkulu Drs Azhar Marwan, M.Si mengatakan paslon harus melakukan pola lain dalam kampanye. Terlebih lagi adanya perubahan regulasi dari KPU, sehingga besarnya APK (Alat Peraga Kampanye) membuat para calon tidak dipublis. Selain itu, masyarakat sendiri sudah biasa menghadapi sosialisasi paslon yang langsung terjun ke masyarakat. “Bisa saja golput akan besar, sehingga disarankan kepada para paslon untuk merubah pola namun tidak terbentur pada aturan yang ada. Durasi dan intensitas orang melihat pasangan calon itu dipajang akan berpengaruh pada ingatan para pemilih. Belum lagi bila kita kaitkan dengan bentuk dan kualitas alat peraga kampanye yang dipasang, kekuatannya juga beda dalam mempengaruhi para pemilih. Dengan pola penyeragaman seperti ini, maka pertimbangannya lebih ke efektivitas, efisiensi dan penyederhanaan. Bukan pada pertimbangan daya tarik untuk menggugah perhatian dan semangat pemilih,” terangnya.

https://www.radarbengkuluonline.com/2018/03/20/kota-bengkulu-sudah-tua-masalah-masih-banyak-dihadapi/
“Ke depan diperlukan evaluasi menyeluruh, urusan pemasangan tanda gambar, baliho dan APK serahkan pada pasangan calon itu sendiri. Karena yang akan mengikuti pesta demokrasi ini adalah mereka, kalau tujuannya untuk mengurangi cost politik pada para kandidat, juga tidak banyak pengaruhnya. Cost politik juga tetap besar,” tambahnya.
Lebih lanjut, menurutnya dengan kurangnya pergerakan para paslon ini akan berdampak pada elektabilitas nya. Sebab masyarakat saat ini menilai jika suaranya masih sangat diperlukan. Hal ini dapat berdampak pada membangun partisipasi dalam demokrasi itu sendiri.
“Kurang gebyar dan kurang gairah kesan yang ditampilkan para pasangan calon, akan berdampak pada kurang gairah juga para pemilih. Sebab para pemilih kita ini masih berpikir bahwa mereka yang dibutuhkan, belum berpikir bahwa mereka membutuhkan pemimpinnya. Hal ini bisa berbahaya dalam rangka kita ingin membangun partisipasi dalam demokrasi,” pungkasnya. (cw1)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

17 − four =