Hari Ini, Rakontek Persoalan Kesehatan Bengkulu

Hari Ini, Rakontek Persoalan Kesehatan Bengkulu

BERBAGI
Ronal/RBO Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni

RBO >>  BENGKULU >>  Dinas  Kesehatan Provinsi Bengkulu menggelar Rapat Koordinasi Teknis  (RAKONTEK) Bidang Kesehatan  Masyarakat Tahun 2018  pada 26–29 Maret 2018 di Grage Hotel Bengkulu. Rakontek ini diikuti peserta perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota masing – masing sebanyak 6 (enam ) orang.

      Tahun ini dalam Rakontek mengangkat tema Sinergisme Provinsi dan Kabupaten /Kota   khususnya dalam mewujudkan  Universal Health Coverage melalui percepatan Penurunan angka stunting (pendeK) pada anak balita serta peningkatan capaian  indikator – indikator yang ada  di Bidang Kesehatan Masyarakat.

      Dalam Rakontek juga akan dibahas terkait stunting (pendek).  Masalah ini telah menjadi perhatian Presiden Joko Widodo yang diungkapkan pada Rakerkesnas 2017 lalu di Pusat, saat itu Presiden Jokowi mengatakan bahwa tidak boleh ada lagi gizi buruk terjadi di Indonesia.

      Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu H. Herwan Antoni melalui Kabid Kesmas, Nelly Alesa, M.Si berdasarkan data mengatakan, di Provinsi Bengkulu sendiri angka stunting dari hasil Survey Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun berturut-turut mengalami kenaikan. Yaitu, tahun 2015 sebanyak (18,1 %); Tahun 2016 sebanyak (23 %) dan Tahun 2017 sebanyak (29,5 %).

      Pada 2010 WHO membatasi masalah stunting sebesar 20 %. Banyak faktor yang menyebabkan stunting diantaranya dari faktor ibu yang kurang gizi dimasa remajanya, masa kehamilan, pada masa menyusui  dan infeksi pada ibu.

      Faktor lainnya berupa kualitas pangan yaitu rendahnya asupan vitamin dan mineral (dari Sayuran dan buah-buahan ), buruknya keragaman pangan dan sumber protein (lauk pauk ) baik hewani dan nabati (dari kacang-kacangan), dan faktor lain  seperti ekonomi, tingkat pendidikan, pengetahuan infrastruktur, budaya dan lingkungan.

      Untuk mengatasi hal tersebut perlu intervensi ( penyelesaian masalah) spesifik gizi  (kegiatan yang ada di sektor Kesehatan) pada remaja, ibu hamil , bayi 0-6 bulan, ibu menyusui, bayi 7 – 24 bulan.

      Selain itu diperlukan intervensi gizi sensitive dari lintas sektor dan lintas program terkait  seperti : ketersediaan pangan oleh Dinas Ketahanan Pangan.  Akses jalan dan Ketersediaan Air Bersih Oleh Dinas Pekerjaan Umum dan lain sebagainya.

      Dalam kegiatan RAKONTEK ini selain adanya pemaparan pelaksanaan kegiatan masing-masing program  Tahun Anggaran 2018 dan Perencanaan Kegiatan Tahun Anggaran 2019 oleh Narasumber Pusat, juga ada pemaparan dari lintas Program Dinas kesehatan Provinsi Bengkulu, yaitu Bidang P2P dan Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Tema RAKONTEK  ini adalah “Penggerakan dan Sinergitas Kesehatan Masyarakat Dalam Rangka Penurunan Stunting, Eliminasi TBC dan Peningkatan Mutu   Imunisasi.“

Diakhir kegiatan Pendalaman Materi dan Diskusi yang membahas masalah dimasing-masing Kabupaten/ Kota sekaligus membahas Rencana Tindak  Lanjut terutama Rencana Tindak lanjut untuk desa – desa lokus Stunting yang  Puskesmasnya telah ditentukan  oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.

      Disisi lain, terkait  desa – desa lokus stanting yang telah di tentukan oleh masing-masing Kabupaten / Kota berdasarkan Puskesmas yang telah di tentukan, selanjutnya penanggung jawab kesehatan masyarakat masing-masing Kab/Kota harus melengkapi data masing-masing desa yaitu data sasaran seperti data bayi, anak baduta dan balita 24 – 59 bulan, ibu hamil, remaja putri dan data-data fasilitas kesehatan yang ada seperti Posyandu, Poskesdes dsbnya.

Harapan setelah kegiatan RAKONTEK ini masing-masing Kabupaten /Kota dapat lebih tajam lagi melakukan kegiatan pencegahan dan penanggulangan stunting, eliminasi TBC dan Peningkatan capaian dan mutu imunisasi disesuaikan dengan lokal daerah masing-masing.

Usulan penajaman program penting di lakukan yaitu berupa peningkatan pengetahuan, pendidikan  mengennai perilaku dan pola hidup sehat kepada masyarakat serta advokasi kepada pimpinan wilayah dan membangun system surveilans  program yang kuat untuk deteksi kejadian kesakitan sehingga dapat cepat untuk di cegah, karena itu sangatlah penting  upaya preventif dan  promotif.(ae2/rls)