Demo, Terjadi Pembunuhan Karakter Warek III IAIN

Demo, Terjadi Pembunuhan Karakter Warek III IAIN

BERBAGI:

Kejadian Sebenarnya Bukan
Seperti Kabar yang Beredar

RBO,BENGKULU – Ini klarifikasi resmi dari IAIN Bengkulu. Tampaknya aksi yang dilakukan HMI terhadap kampus IAIN Bengkulu sudah dipolitisir. Keributan HMI dan Warek III IAIN Bengkulu hanya soal miskomunikasi saja.
Wakil Rektor III IAIN Bengkulu DR. Samsudin, M.Pd angkat bicara soal kisruh penertiban atribut HMI yang disebutkan terjadi perampasan, penghinaan dan mengkriminalisasi organisasi.
Berita terkait perampasan atribut HMI sama sekali tidak benar. Dengan beredarnya berita sepihak tersebut, saat ini telah terjadi pembunuhan karakter Warek III, Dr Samsudin.
Menurut Wakil Rektor III IAIN, Ia telah melaksanakan tugas dan kewenangannya sebagai Wakil Rektor. Ia pun menceritakan kronologinya. “Ini Penertiban, bukan perampasan. Tidak seperti yang diberitakan dan berita yang telanjur beredar.
Tidak ada namanya perampasan, tidak ada paksaan. Semua atribut HMI tidak ada yang rusak. Bendera HMI tidak robek, begitu juga dengan spanduknya masih utuh semua sampai talinyapun. Dan perlu saya tekankan disini, tidak ada pembubaran stand LK HMI. Wong standnya memang tidak ada, yang ada hanya spanduk dan bendera HMI saja,” jelasnya.

Samsudin menyangkan sekali kejadian ini.
Jangan mudah terprovokasi oleh kalimat dan bahasa – bahasa perampasan tidak ada kata serobot, menggusur. Dan ini bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan. Sebelum melontarkan kalimat itu ketahui dulu duduk persoalannya.
“Institusi dan Saya pun dirugikan akibat kejadian ini, saya disebut “Racun Demokrasi, Pembredel Demokrasi dan lain-lain. Apanya yang racun? Apanya yang pembredel demokrasi, kami pihak kampus, saya warek bidang kemahasiswaan memberikan seluas luasnya bagi mahasiswa berorganisasi dan kami tidak pernah melarang mahasiswa untuk ikut organisasi. Mari kita harus melihat sesuatu hal itu secara objektif. Saya yakin masyarakat sudah cerdas, tahu mana yang baik,” ucapnya.
“Secara personal saya meminta maaf bagi orang-orang yang merasa terusik. Tapi ketahuilah saya melaksanakan tugas dan wewenang saya sebagai Wakil Rektor. Sayapun bekerja sesuai dengan aturan. Karena ini kampus tempatnya orang-orang intelektual jadi tidak mungkin sembarang,” tegas Samsudin. Biar paham, begini kronologinya.
Penertiban Spanduk yang dilakukan Waki Rektor III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu pada Rabu (28/3) dibantu oleh petugas keamanan (29/3). Kejadian tersebut berawal ketika Wakil Rektor III melihat banyaknya Spanduk yang terpasang di halaman depan gerbang IAIN Bengkulu. Atas Keputusan Rektor yang dikeluarkan pada tahun 2013 tentang Etika dan Disiplin Mahasiswa IAIN Bengkulu pada Pasal 3 yang berbunyi bahwa Setiap mahasiswa wajib menjaga ketertiban, keamanan, dan ketenangan untuk menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan IAIN Bengkulu. Maka dari itu, beliau meminta Gangga salah seorang security kampus untuk menurunkan beberapa spanduk yang terpasang di pohon depan halaman gerbang IAIN Bengkulu.
Pada saat penertiban terdapat spanduk yang berisikan penerimaan siswa PIAUD, spanduk mie ayam, spanduk Bengkulu Run, spanduk Gerakan Pramuka serta spanduk yang dimiliki oleh HMI. Saat kejadian tidak ada bentuk stand penerimaan kader HMI kecuali spanduk dan bendera HMI yang terpasang, serta tidak ada seorangpun mahasiswa yang menjaga spanduk tersebut kecuali dua orang mahasiswa yang barada dekat dengan spanduk mie ayam.
Dengan dua orang itulah Wakil Rektor III menanyakan kepemilikan spanduk tersebut, namun tidak ada satupun yang mengakui atas kepemilikan spanduk.
Saat spanduk HMI diturunkan oleh security kampus, terdapat seorang pemuda dengan menggunakan sepeda motor menghampiri Wakil Rektor III sembari bertanya “Kenapa diturunkan pak”, beliau langsung menjawab “Akan ditertibkan karena selain mengganggu keindahan, ada aturan untuk mejaga ketertiban di lingkungan kampus”, ungkap Dr. Samsudin, M.Pd selaku Wakil Rektor III.
Pemuda tersebut yang diindikasi merupakan mahasiswa IAIN Bengkulu langsung mengendarai kendaraannya masuk ke dalam kampus tanpa adanya perlawanan, perampasan, perusakan serta tidak ada stand pendaftaran kader HMI seperti yang telah dituduhkan oleh pihak HMI kepada Wakil Rektor III dan dimuat dalam pemberitaan cetak dan online beberapa waktu lalu.
Setelah penertiban dilakukan Dr. Qolbi Khoiri dan Dr. Imam Mahdi selaku senior HMI menemui Wakil Rektor III untuk menanyakan alasan penurunan Spanduk, dan tidak ada percakapan untuk memediasi atas penurunan spanduk HMI tersebut.
Selanjutnya kembali datang beberapa anggota HMI yang datang langsung menemui Wakil Rektor III di ruangan yang berada dilantai 2 Gedung Rektorat untuk kembali bertanya maksud dari penurunan spanduk dan bendera HMI tersebut.
Dengan gaya kesederhanaannya beliau menjawab “Organisasi Ekstra kampus dilarang memasang spanduk atau bendera di lingkungan IAIN Bengkulu tanpa terkecuali serta mengganggu keindahan dan lalulintas”. Tanpa basa basi mereka turun meninggalkan ruangan Wakil Rektor III tersebut.
Selang beberapa waktu datanglah Ketua Cabang HMI menemui Wakil Rektor III di ruangannya untuk meminta beliau turun menemui anggota HMI yang telah berkumpul di halaman parkir Rektorat IAIN Bengkulu. Setelah sampai salah satu anggota HMI kembali bertanya maksud dari penurunan spanduk dan bendera HMI dan menyangkal bahwa ada organisasi ekstra kampus lainnya yang diperbolehkan.
Beliau langsung menjawab “Kapan dan siapa”, tidak ada satupun anggota HMI yang bisa menjawab. Tidak berselang lama datanglah Poppy Damayanti, M.Si dosen IAIN Bengkulu yang juga salah seorang senior HMI dan juga dosen IAIN Bengkulu yang langsung membubarkan anggota HMI tersebut.
“Harusnya persoalan miskomunikasi ini selesai ketika mahasiswa mendengarkan saya, bukan mengikuti arahan Popy Damayanti ini untuk membubarkan diri tanpa mendengarkan penjelasan. Dan akbibatnya berujung seperti ini,” ucapnya lagi.
Pada Kamis (29/3) pukul 09.00 datanglah Soprian Ardianto salah seorang anggota HMI yang merupakan mahasiswa drop out (DO) IAIN Bengkulu menemui Sri Ihsan, M.Pd selaku Kasubbag Humas IAIN Bengkulu. Soprian menyampaikan meminta Wakil Rektor III Dr.Samsudin, M.Pd menemui massa pendemo dari HMI yang telah berkumpul di depan gerbang IAIN Bengkulu. Kasubbag Humas menyampaikan Wakil Rektor III sedang melakukan perjalanan dinas ke Pekan Baru Riau dan menanyakan surat pemberitahuan dari kepolisian atas aksi yang dilakukan.
Soprian dengan tegas menyatakan sudah ada surat pemberitahuan yang ditujukan ke Kepolisian Sektor Kecamatan Selebar atas aksi demo yang HMI lakukan. Atas Keputusan Rektor tahun 2013 Bagian Kesepuluh Kasubbag Humas membacakan peraturan tentang Politik Praktis dan Organisasi Ekstra Kampus Pasal 16 ayat 2 dan 3 yang berbunyi Setiap mahasiswa dilarang melakukan kegiatan yang membawa nama atau pengatasnamakan Organisasi Ekstra Kampus serta setiap mahasiswa dilarang memasang Pamplet, membuka Stand, dan memasang bendera di dalam kampus IAIN Bengkulu yang mengatas namakan Organisasi Ekstra Kampus.
Termasuk massa dari pendemo yang dilakukan HMI dilarang untuk memasuki kawasan IAIN Bengkulu.
Tanpa mengindahkan peraturan tersebut, selang beberapa waktu pendemo sudah memasuki kampus menuju Rektorat IAIN Bengkulu dengan menyuarakan penurunan Wakil Rektor III atas tindakannya menertibkan spanduk dan bendera HMI serta spanduk-spanduk lain yang juga ikut ditertibkan.
Ujung dari demo yang dilakukan oleh HMI Bengkulu di dalam lingkungan IAIN Bengkulu tersebut berujung pada pemukulan salah satu anggota Security IAIN Bengkulu Syahroni (22) yang menyebabkan memar berdarah di bagian pelipis mata sebelah kiri. Selain itu demo yang dilakukan ternyata tidak ada pemberitahuan dari pihak kepolisian tersebut telah melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan Pendapat di Muka Umum Pasal 10 ayat 1, penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 wajib diberitahukan secara tertulis kepada polri.(ae2)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

11 − three =