Motor RM Sidak Jatuh Ada Kaitan Kasus Korupsi Enggano

Daerah Ekonomi & Bisnis Featured KORUPSI Nasional

RBO,BENGKULU – Ini ada info baru terkait Gubernur Bengkulu nonaktif Dr H Ridwan Mukti, MH (RM). Namanya disebut-sebut dalam sidang kasus korupsi pembangunan jalan Pulau Enggano kemarin. Yaitu soal motor besar yang dipakai RM sidak sebelum jatuh dan masuk penjara dulu.
Mantan Kepala Dinas PUPR Provinsi Bengkulu, Kuntadi saat bersaksi di persidangan kasus korupsi proyek Enggano Rabu, (4/4) ungkapkan Dia mendapat 1 Unit Speda motor Kawasaki dengan harga Rp 150 Juta. Dimuka persidangan itu, Ia mengaku bahwa Sepeda Motor tersebut juga digunakan oleh Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti saat melakukan sidak pembangunan Jalan infrastruktur saat menjadi Gubernur aktif pada awal 2017 lalu.
Sidang dengan agenda keterangan saksi enam terdakwa yakni, Efina Rafidah, Syaifudin Firman, Tamimi Lani, Muja Asman, Lie Eng Jun, dan Syamsul Bahri itu dipimpin oleh Majelis hakim Dr Jonner Manik SH, MH didampingi hakim anggota I Heny Anggraini SH, MH dan hakim anggota II Nic Samara SH, MH. Dalam persidangan itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu menghadirkan lima orang saksi yaitu, Mantan Kadis PUPR Provinsi Bengkulu, Kuntadi, dua orang staf pada Dinas PUPR itu Emilson Padalas, Cosman Simajuntak, dan dua orang dari swasta yakni, Andreo Noven, dan Zulkarnain. Lima orang saksi yang dihadirkan itu diperiksa secara bergantian.
Ketua Satgas JPU, Adi Nuryadin Sucipto SH, MH dalam persidangan itu menanyakan kepada saksi, Kuntadi apakah memang benar ada keterlambatan dalam progress proyek Enggano? Dimuka persidangan itu Kuntadi mengaku bahwa memang ada keterlambatan progres pengerjaan proyek tersebut.
“Ya, memang Progres fisik proyek Enggano itu ada sedikit keterlambatan,” tandasnya.
Kemudian pertanyaan selanjutnya dari Adi Nuryadin, sebelum mencuatkan kasus proyek Enggano ini apakah sebelumnya ada temuan BPK dalam pengerjaan proyek tersebut? Dimuka persidangan itu Kuntadi membeberkan, ia membenarkan adanya temuan BPK itu. Lantas dia pun langsung mengambil langkah agar temuan BPK itu dikembalikan.
“Ya, saat itu memang ada temuan BPK yaitu sekitar Rp 7,1 Miliar. Saya selaku Kadis saat itu langsung memerintahkan rekanan agar mengembalikan temuan BPK itu. Bahkan saya juga mengadakan rapat di Pemda Provinsi yang dihadiri oleh pihak Insfektorat, Sekda, dan tim rekanan lainnya. Dalam rapat itu saya perintahkan semua temuan BPK itu dikembalikan,”bebernya.
Selanjutnya pertanyaan pemungkas Adi Nuryadin Sucipto, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Lie Eng Jun pada Desember 2017 lalu, pernah memberikan uang Rp 150 Juta kepada saksi Kuntadi melalui Syaifudin Firman apakah itu benar? Saat itu juga Kuntadi langsung membantah bahwa dirinya tidak pernah menerima uang Rp 150 Juta itu secara tunai dari terdakwa Syaifudin. Namun ia membenarkan adanya pemerian 1 Unit Sepeda motor dari Syafudin Firman, dan Sepeda motor tersebut dibayar dengan cara dicicil, sepengetahuannya Rp 75 Juta kemudian Rp 25 Juta kemudian cicilan selanjutnya dirinya mengaku tidak ingat dan tidak tahu lagi. Dan Kuntadi juga mengaku tidak mengetahui asal muasal uang pembelian motor oleh Syaifudin tersebut.
“Ya, kalau 1 Unit Sepeda motor merek Kawasaki 600 CC memang pernah dibelikan oleh Syaifudin. Dan Sepeda motor yang dibelikan itu adalah atas nama anak saya yaitu Febrianto. Motor yang dipakai oleh pak Gubenur (Ridwan Mukti red) dalam sidak Jalan ke Lebong, dan ke Kepahiang dulu,”pungkasnya. (ide)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *