Lomba Kreasi Audio Visual Sejarah Membawa Siswa MAN Insan Cendekia Bengkulu...

Lomba Kreasi Audio Visual Sejarah Membawa Siswa MAN Insan Cendekia Bengkulu Tengah ke Medan

BERBAGI:

RBO,MEDAN- Tiga siswa MAN Insan Cendekia Bengkulu Tegah, yakni Ariq Naufal Ramdhan, Arif Kurniawan dan Revvoh Yunadi A.P.  terpilih sebagai utusan Provinsi Bengkulu yang lolos seleksi untuk mengikuti kegiatan workshop lomba kegiatan audio visual sejarah regional 1 yang dilaksanakan di Medan pada tanggal 22 April 2018 sampai dengan 27 April 2018. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan yang bertemakan Pemuda Melek Sejarah ini betujuan untuk  membentuk pemuda bangsa Indonesia yang mencintai sejarah  dan dapat membawa kemajuan dalam membanggakan dunia perfilman Indonesia.

Kegiatan tersebut berisikan tentang pelatihan untuk mebuat film terutama film dokumenter yang baik dan benar. Di dalam kegiatan tersebut siswa terpilih diajarkan tentang kiat-kiat yang harus dipenuhi untuk membuat suatu film dokumenter yang baik dimulai dari pembuatan narasi dan skenario film termasuk teknik kamera dan proses editing juga diajarkan oleh pematerinya. Pemateri yang didatangkan pun juga bukan sembarangan, melainkan direktur film Indonesia, sutradara film nasional, camera men, dan kru film nasional serta pemateri lainnya termasuk ibu Direktur Direktorat Sejarah juga ikut memberikan kata sambutan di dalam acara tersebut.

Acara tersebut diselenggarakan dalam 5 sesi yang dilakukan dalam 5 hari. Hari pertama diisi dengan pembukaan dan acara ramah tamah. Seluruh peserta yang berasal dari berbagai daerah dipertemukan dan saling memperkenalkan daerah masing masing. Pada hari kedua, setiap peserta diberi materi tentang proses awal pembuatan suatu film yaitu penulisan naskah dan scrip film. Materi tersebut di sampaikan langsug oleh produser film ternama di Indonesia, yaitu Bapak Abduh yang merupakan produser dari salah satu filmnya, yatu Banda, film dokumenter yang sangat terkenal di Indonesia. Selanjutnya,  peserta diberi materi teknik dalam  penggunaan kamera.bukan hanya sekedar teknik dalam penggunaannya tapi juga diajarkan  penerapan dalam membuat bahasa film yang bisa dimengerti oleh penonton. Hari ketiga, para peserta dibawa langsung terjun ke lapangan unuk menerapkan materi yang telah disampaikan.sebelumnya. Peserta benar-benar tidak diberitahu apapun tetang target lokasi yang akan mereka datangi dan hanya diberi tahu bahwa lokasi mereka untuk mebuat film adalah di Istana Maimoon Kota Medan. Hal tersebut sengaja dilakukan agar dapat membentuk dan mengasah kemampuan peserta dalam membuat skenario dan mengambil gambar dalam waktu yang telah dibatasi yaitu hanya sekta 3-4 jam saja Setelah itu peserta dibawa pulang kembali ke hotel untuk melakukan proses editing. Pada proses ini, para peserta dibimbing langsung oleh editor-editor ternama di Indonesia yang tergabung dalam ikatan perfilman Indonesia. Hal tersebut juga di lakukan peserta dalam waktu yang dibatasi yaitu hanya 4 jam saja untuk proses pengeditan. Hari keempat, masing masing hasil dari setiap tim peserta di presentasikan di depan seluruh pemateri dan peserta LKAS lainnya.Setelah presentasi seluruh film yang telah dibuat diberikan masukan dan  komentar dari masing masing pemateri.

Kegiatan ini memberikan pengaruh positif terhadap para pemuda yang memegang masa depan bangsa untuk  lebih mencintai sejarah dan dapat membawa arti penting dalam memajukan dan membanggakan dunia perfilman indonesia  terutama dalam bidang film dokumenter sejarah Indonesia. (rls)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

twelve − nine =