Warga Minta Gub Keluarkan Kebijakan Soal Batubara Sungai

Bengkulu Tengah Ekonomi & Bisnis Featured Hukum & Kriminal Pemda Provinsi

RBO, BENGKULU – Warga meminta Guberbur Bengkulu, Dr. Drh, H. Rohidin Mersyah, MMA untuk mengeluarkan kebijakan terkait dengan batubara sungai yang telah dikumpulkan warga dari sungai Muarabangkahulu.

Perwakilan warga dari Desa Pasar Pedati Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), Sudirman mengatakan setidaknya ada 2000an lebih warga yang mengantungkan hidupnya dengan mengumpulkan batubara di sungai Muarabangkahulu. “Kami minta kebijakan dari Gubernur Bengkulu, terkait dengan batubara yang sudah dikumpulkan warga dari sungai yang saat ini betumpuk dipinggir jalan,” kata Sudirman kepada jurnalis saat menggelar jumpa pers, Kamis.

Dijelaskan dia, ada sekitar 2000an warga yang selama ini mengantungkan hidupnya dari mengumpulkan batubara yang ada disungai menjadi jelas dan perekonomiannya dapat berjalan. “Jika ada kebijakan dari Gubernur, tentu akan ada kejelasan mengenai nasib sekitar 2000an warga lebih ini,” jelas dia.

Intinya warga minta pemerintah dalam hal ini Gubernur Bengkulu untuk berpihak pada warga dan melegalkan aktifitas warga mengumpulkan batubara disungai tersebut. “Kami minta pemerintah untuk melegalkan aktifitas warga ini, sebab jika tidak dilegalkan, maka warga menjadi tidak leluasa mengambil dan menjual hasil dari mengumpulkan batubara disungai,” jelas dia.

Warga tidak ingin saat melaksanakan atifitasnya mengumpulkan dan menjual batubara hasil dari yang dikumpulkan tersebut lalu ditingkap polisi karena di anggap melakukan kegiatan illegal. “Kami pernah coba mengurus perizinan namun tidak dikeluarkan oleh pihak yang berkompeten,” jelas dia.

Memang jika dilihat dari sejarahnya dulu, Sebelum adanya aktifitas pertambangan di daerah hulu sungai, masih digunakan oleh warga untuk beraktifitas Mandi Cuci Kakus (MCK), namun sejak adanya aktifitas penambangan di daerah hulusungai, sama sekali tidak dapat digunakan. “Kami juga ingin sekali sungai yang dulunya banyak kenangan indah tersebut dapat kami gunakan lagi, oleh karenanya, kami juga membantu pemerintah untuk ikut melakukan normalisasi sungai, dengan mengambil apa yang kami anggap limbah dari batubara tersebut yang belakangan bernilai ekonomis,” ujar dia.

Sementara itu warga lainnya, Hendri mengatakan pernah ditangkap polisi, karena menjual batubara sungai tersebut. “Kami tidak ingin hal ini terjadi lagi, oleh karenanya kami ingin sekali pemerintah dapat melihat secara jernih persoalan ini, agar semua pihak bisa tenang dalam beraktifitas,” katanya.

Baik Sudirman maupun Hendri sepakat meminta kepada pemerintah untuk melegalkan aktifitas mereka, yakni mengumpulkan dan menjual batubara yang diambil dari aliran sungai Muarabangkahulu tersebut. “Kami minta ada ketegasan dari pemerintah berupa payung hukum untuk kami melakukan aktifitas ini,” ujar dia.

Karena sepengetahuan pihaknya tidak kurang dari 20 hingga 25an desa yang warganya sebagian mengantungkan hidup dari mengumpulkan batubara disungai. “Sepengetahuan kami ada 20 sampai 25an desa yang warganya sebagian mengantungkan hidupnya dengan mengumpulkan batubara disungai muarabangkahulu tersebut, tolong dipikirkan oleh pihak pengambil kebijakan,” tutup dia. (hcr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *