Riri: Perkuat Literasi dan Interaksi Sosial Untuk Antisipasi Dampak Negatif Internet

Riri: Perkuat Literasi dan Interaksi Sosial Untuk Antisipasi Dampak Negatif Internet

BERBAGI
Iwan/RBO: Senator Riri Damayanti John K Latief S.Psi.
BERBAGI:

RBO, BENGKULU – Maraknya aksi-aksi teror dan konten-konten negatif di media sosial mengundang keprihatinan anggota DPD RI, Riri Damayanti John K. Latief. Menurutnya, hal ini tak terlepas dari pengaruh negatif internet yang membuat turunnya kerja otak manusia. “Internet identik dengan kecepatan. Kalau kecepatan sudah mengalahkan kemampuan untuk tenang dan berpikir kritis, maka saat itu orang hanya akan menerima informasi sepotong-sepotong. Orang menjadi mudah percaya hoax,” ungkap Riri Damayanti, kepada RADAR BENGKULU Jumat (25/5).

      Anggota Komite III DPD RI itu mengungkapkan, meningkatnya candu game online seiring dengan menurunnya kemampuan akademik dan pergaulan sosial di kalangan remaja akan membawa dampak buruk di masa yang akan datang.”Ketika prestasi mereka mulai anjlok, orang akan mudah menjadi minder. Kecenderungan untuk menerima paham radikalisme agama menjadi semakin besar. Generasi muda yang seperti ini yang jadi sasaran empuk gerakan radikal melalui internet dan medsos,” terangnya.

      Oleh karenanya, senator termuda Indonesia ini mengimbau kepada generasi muda untuk lebih aktif memperkuat literasi, khususnya yang menawarkan pembelajaran secara kolektif. Dengan demikian, lanjut Riri, interaksi sosial dapat terjalin dan kondisi psikologis seperti kesendirian, perasaan minder, dan tidak berarti yang menjadi lahan subur benih radikalisme berkembang dapat dicegah. “Radikalisme tumbuh dari cara pandang hidup yang picik, sempit, utopis, menyederhanakan setiap persoalan hidup yang komplek dengan solusi ekstrim. Kita harus menangkalnya dengan cara mengembangkan pendidikan yang membangun cara pandang pluralis, objektif, dalam bingkai komunal kebangsaan,” paparnya.

      Riri memberikan contoh organisasi Komunitas Menulis Bengkulu yang baru saja terbentuk. Menurutnya, organisasi ini merupakan salah satu wadah yang tepat untuk memperkuat literasi guna melawan hoax dan radikalisasi.”Meski namanya Komunitas Menulis Bengkulu, namun isiannya bukan hanya sekadar menulis. Di sini setiap orang dapat membangun persahabatan, menyelami dunia literasi, bahkan jurnalistik. Wadah yang cocok untuk menanamkan benih-benih penangkal hoax dan radikalisme,” pungkasnya. (idn)