PWNU Bengkulu Berhasil Mendirikan Perguruan Tinggi

Featured Pemda Provinsi Pendidikan

RBO, BENGKULU – Dipimpin Prof. Dr. H. Sirajuddin M, M.Ag, MH, Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Bengkulu periode 2013 – 2018 berhasil mendirikan satu perguruan tinggi di Bengkulu. Yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam NU (STIESNU).

      Prof. H. Sirajudin mengharapkan kepengurusan NU yang  baru dapat melanjutkan pengembangan STIESNU tersebut.

      Dijumpai usai menyatakan diri tidak mencalonkan diri dan tak bersedia lagi ditunjuk sebagai ketua PWNU Bengkulu dalam Konferwil Wilayah VIII NU pada (27/5), Prof. H. Sirajuddin mengatakan, “Saya tidak lagi mencalonkan diri sebagai ketua dan jangan saya dipilih lagi, dengan berbagai pertimbagan tidak akan mencalonkan diri sebagai ketua PWNU.”

      Prof. Siraj menuturkan, pada periode pengurus NU 2013- 2018 ada beberapa hal yang telah dilakukan. Seperti halnya mendirikan perguruan Tingi dan menata beberapa hal dari sisi administarsi. “Inikan organisasi besar. Orientasi kita harus besar. Kita distribusikan kebesaran itu ke masyarakat.’’

        NU ini harapan umat, ditambah lagi dengan adanya perguruan tinggi NU. Manfaatnya bukan hanya bagi organisasi saja, namun juga bagi masyarakat Bengkulu kedepan.

      ‘’STIESNU , kita sudah memulai untuk berkiprah dibidang pendidikan secara nyata. Kita harapkan ini sebuah investasi. Karena ini bukan hanya kepentingan NU saja, namun juga kepentingan daerah. Bayangkan saja di kemudian hari ada universitas NU selain Muhammadiyah. Jadi imbang sesama organisasi negeri ini di bidang pendidikan dan kesehatan dan lain lain,” ujarnya.

      Prof. Siraj yang juga menjabat sebagai Rektor IAIN Bengkulu ini juga berpesan,  inikan harapan semua umat. Kalau hanya berikan harapan kosong terlalu besar pertanggung jawabannya nanti dunia akhirat. Pengurus akan datang diharapkan bisa lebih baik. Jangan terulang beberapa kelemahan yang sudah berlalu.

      Lanjut mantan Ketuan PWNU ini, “Saya secara pribadi masih pegang prinsp, bahwa NU itu tidak berpolitik, kalaupun ada itu individu. Inilah kadang – kadang yang susah kita  membedakan. Mana pribadi sebagai NU yang berpolitik dan yang ia membawa organisasi NU itu sendiri. Saya melihat ada gejala untuk susah membedakan itu.  Mudah-mudahan organisasi ini tidak dijadikan alat kepentingan.”

Sementara itu, mewakili Ketua PBNU, KH Robikin mengatakan, apapun yang dilakukan teman-teman itu telah berkhidmat selama 5 tahun, dan masih banyak yang bisa dikembangkan. Pengrus akan datang harus kembangkan program orginasi, setidaknya untuk perkuat dua hal. Pertama, yakni perkuat Islam yang moderat ramah, bukan Islam radikal. Liberal, bukan Islam yang diperlukan untuk kepentingan. Kedua, perlu dijaga NKRI tidak boleh diganggu gugat. Selanjutnya lagi adalah merawat kebhinnekaan dan wujudkan keadilan dan kesejahteraan. (ae2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *