’Petani Bukan Objek Pembangunan’’

’Petani Bukan Objek Pembangunan’’

IST - Sawah Petani
BERBAGI:

Oleh: Fathimah Sholihah
Mahasiswa Pascasarjana Magister Sains Agribisnis IPB

RASANYA banyak pihak akan bersepakat bahwa salah satu cara untuk menjaga kedaulatan pangan agar mampu mandiri dari impor adalah dengan menjaga eksistensi kaum tani bukan hanya untuk saat ini tapi juga untuk masa depan. Namun, yang terjadi sekarang justru sebaliknya bukan? Kemajuan pembangunan seolah-olah dilihat ketika jumlah petani menurun, dan meningkatnya jumlah pekerja di perkantoran.

Para anak-anak petani justru diarahkan oleh orang tua mereka untuk meninggalkan sektor pertanian dan beralih ke sektor lain yang lebih baik. Mengapa begitu? Seberapa buruk kah sektor pertanian bagi petani itu sendiri?

Kondisi saat ini di Indonesia adalah petani masih dijadikan sebagai objek dalam pembangunan. Hal ini berarti petani hanya dijadikan sebagai salah satu pihak yang bertugas menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tanpa petani diminta untuk bersuara.

Kesejahteraan petani seolah hanya ditentukan seberapa besar kebijakan yang dibuat pemerintah tersebut berpihak pada petani.

Konsep pembangunan dalam sektor pertanian mestinya di arahkan kepada konsep pertanian modern yang berarti menggunakan prinsip bahwa kemanusiaan sebagai subjek dari pembangunan itu sendiri. Segala kebijakan pertanian tidak dipandang lagi sebagai kebijakan yang memiliki aliran top-down, namun sebaliknya pertanian merupakan konsep kebijakan bottom-up dimana petani berhak menyuarakan akan bagaimana pertanian yang diusahakannya dan tugas pemerintah untuk mendengarkan dan memberikan perlindungan yang bisa mendukung keputusan yang telah dipilih petani.

Saat ini pemerintah sedang menjalankan program swasembada pangan dan yang dijadikan tolak ukur dari keberhasilan program ini adalah output yang sebanyak-banyaknya, begitukah seharusnya? Jika kita kembali kepada konsep pertanian modern maka yang seharusnya menjadi tolak ukur keberhasilan swasembada pangan bukan hanya seberapa banyak outputnya tapi juga seberapa besar swasembada pangan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal ini dikarenakan banyaknya output yang dihasilkan dari sektor pertanian belum tentu sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Adapun yang menjadi tolak ukur kesejahteraan petani adalah harga-harga yang berlaku, apakah berpihak pada petani atau tidak.

Petani masih merasa bahwa sektor pertanian itu adalah sektor yang berpenghasilan kecil dan tidak menentu. Kesejahteraan petani masih menjadi hal yang dipertanyakan saat ini. Hal ini lah yang membuat regenerasi petani di Indonesia masih dikatakan belum berjalan dengan baik.

‘’Jika ingin menjadi kaya maka jangan jadi petani’’ rasanya itu cukup bisa menggambarkan bagaimana pandangan petani mengenai sektor pertanian itu sendiri. Eksistensi kaum tani di masa depan akan sangat di tentukan dari seberapa besar kesejahteraan petani saat ini. (***)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

ten − four =