Petani Kopi Ragukan Program Pemkab Kepahiang

Featured Kepahiang

RBO >>  KEPAHIANG >>  Program sejuta kopi sambung yang dicanangkan Pemkab Kepahiang hingga saat ini belum dikenal begitu luas oleh petani kopi. Bahkan program yang digadang-gadang akan menambah produksi kopi tersebut belum diketahui cara mendapatkan bantuan tersebut. Sebab itu sosialisasi harus lebih di massifkan lagi.

“Kami belum tahu kalau ada program bantuan kopi sambung dari pemerintah. Kami juga tidak tahu bagaimana cara mendapatkan bantuan itu,” ujar petani kopi Desa Taba Air Pauh, Kecamatan Tebat Karai, Raham saat ditemui radarbengkuluonline.com kemarin.

Dia juga meragukan program tersebut dapat barhasil. Sebab kopi sambung yang ia lakukan secara mandiri hasil panennya kurang memuaskan lantaran berat biji kopi tidak seberat biji kopi yang tidak disambung.

“Saya punya kebun stek (kopi sambung) buahnya memang lebat. Tapi beratnya tidak memenuhi standar. Bisa dibilang menang pada buah, namun kalah pada timbangan. Kalau yang disalurkan pemerintah sama seperti itu, maka saya meragukan peningkatan produksi kopi akan berhasil,” ujar Raham.

Dia justru meyarankan Pemkab Kepahiang menyalurkan bantuan pupuk atau pestisida yang lebih dibutuhkan petani. Selain itu, infrastruktur seperti jalan sentra produksi juga dibutuhkan petani untuk mempermudah akses ke kebun dan mengangkut hasil panen.

“Sepertinya pestisida atau pupuk lebih dibutuhkan petani. Begitu juga dengan jalan daripada bibit kopi sambung. Belum lagi nanti waktu menunggu besar untuk panennya. Paling tidak butuh waktu 3 tahun untuk menunggu hasil. Lalu sambil menunggu panen, petani sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Oni juga yang menjadi bahan pemikiran bersama,” ujar petani yang sudah puluhan tahun menekuni budidaya kopi. (tan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *