Harga Getah Karet Masih Anjlok di Bengkulu Tengah

Harga Getah Karet Masih Anjlok di Bengkulu Tengah

BERBAGI
Kantor Bupati Bengkulu Tengah
BERBAGI:

RBO >>  BENTENG >>  Bukan hanya harga sawit, namun harga komoditi karet milik petani di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) juga masih terpuruk. Para petani karet belum bisa bernapas lega. Karena masih menghadapi situasi sulit, sebab harga getah tidak kunjung membaik.

”Harga karet ditetapkan pedagang pengumpul tertinggi Rp 5.000-6.500 per kilogram. Padahal bulan lalu masih kisaran Rp 8.000 hingga Rp 11.000 per kg, ” kata Amran, petani karet Desa Karang Tengah, Kecamatan Taba Penanjung saat ditemui radarbengkuluonline.com yang sudah lulus Uji Komptensi Wartawan (UKW) dari Dewan Pers Pusat itu di rumahnya  tadi siang .

Menurut dia, beberapa bulan lalu harga karet mingguan tertinggi masih kisaran Rp 8.000 per kg. Dan setelah itu terus bergerak turun hingga ke titik terendah. Yakni Rp 5.500 per kg.

Dikemukakannya, turunnya harga karet tersebut dampaknya sangat dirasakan para petani yang mata pencaharian hanya mengandalkan dari hasil menyadap karet.

“Harga karet sekarang ini tidak sebanding dengan biaya hidup yang dikeluarkan sehari-hari. Terutama untuk membeli kebutuhan bahan pokok di pasaran yang cenderung tinggi,” katanya.

Ia membandingkan, kalau kondisi lima bulan lalu harga karet masih di atas Rp 12 ribu per kg. Satu kg karet sudah bisa membeli jenis beras yang harganya Rp 12.000 per kg.

Menurutnya, kalau harga sekarang ini, satu kg karet belum cukup untuk membeli beras satu kg. Belum lagi kebutuhan lainnya yang harus dipenuhi.

Selain itu, kata dia, hasil sadapan getah yang biasa diperoleh setiap minggunya juga menurun karena pengaruh cuaca.

“Biasanya hasil sadapan dalam sepekan bisa memperoleh getah mencapai 50 kg. Sekarang, untuk mendapatkan sekitar 35 kg saja sulit,” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Karang Tengah, Usman mengatakan, saat ini kehidupan petani di desanya cukup memprihatinkan karena dampak dari anjloknya harga getah karet sejak beberapa bulan terakhir.

Dikatakannya, dampak dari harga getah karet turun itu, sejumlah warga petani di desanya sebagian terpaksa ada yang beralih profesi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Selain mengandalkan pendapatan dari hasil menyadap karet, petani di Desa Karang Tengah sebagian juga melakoni profesi lain. Ada sebagai petani padi maupun buruh panen petani sawit. Hal ini mereka lakukan guna untuk memenuhi kebutuhan hidup sehar-hari. Kami berharap, Pemerintah Kabupaten Benteng melalui dinas terkait bisa cepat tanggap dalam menanggulangi masalah ini,” harapnya. (ags)