Perluasan Lahan Sawit Ancam Keberadaan Air Terjun Mandi Angin

Perluasan Lahan Sawit Ancam Keberadaan Air Terjun Mandi Angin

BERBAGI
Seno/RBO Inilah lokasi Air Terjun Mandi Angin, Mukomuko yang indah dan menakjubkan itu

Catatan dari Perjalanan Jurnalis Touring Yayasan Genesis – Pundi Sumatra di Mandi Angin:

PERLUASAN  lahan perkebunan sawit di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Desa Air Berau, Kecamatan Pondok Suguh, khususnya areal Air Terjun Mandi Angin semakin menjadi-jadi. Penebangan hutan untuk kebun sawit ini seakan tidak terkendalikan. Ini adalah hasil kunjungan jurnalis di Mukomuko 2 Agustus 2018 kemarin. Baca liputan wartawan radarbengkuluonline.com yang ikut rombongan itu berikut ini.

                         SENO AGRITINUS  – Mukomuko

Wisata Air Terjun Mandi Angin yang berada di Desa Air Berau, Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko keindahannya memang tak terbantahkan lagi. Dengan keindahannya, Mandi Angin menjadi wisata kebanggaan masyarakat Mukomuko, khususnya masyarakat Pondok Suguh.

      Saat ini, bagi masyarakat yang berminat mengunjungi air terjun ini masih bisa menikmati suasana sejuk alamnya. Ini karena alam disekitar Air Terjun Mandi Angin masih alami. Penuh dengan pepohonan yang menjulang.

Sayangnya, air terjun yang lekat dengan legenda masyarakat Air Berau ini terancam keberadaanya akibat perluasan lahan perkebunan kelapa sawit milik oknum masyarakat.

      Penebangan kawasan HPT terus menyisir mendekati lokasi Air Terjun Mandi Angin. Ini diketahui setelah penulis kembali mengunjungi Mandi Angin, Kamis (2/8) lalu dalam acara Jurnalis Touring yang diadakan Yayasan Genesis bekerjasama dengan Pundi Sumatra. Sebelumnya penulis sempat mengunjungi air terjun ini pada pertengahan 2017 lalu.

      Dari pengamatan penulis, pada 2017 lalu, pintu rimba menuju air terjun, tepatnya di lokasi Karang Taruna setempat memasang papan merek, hutannya masih alami, pepohonan masih banyak berdiri. Sayangnya saat keduakalinya penulis kelokasi ini, hutan disitu sudah ditumbangkan. Bahkan papa merk yang menunjukan pintu rimba Air Terjun Mandi Angin juga menjadi korban, sudah berjatuhan ketanah akibat penebangan.

Kondisi ini sungguh ironis. Disaat ratusan ribu masyarakat Kabupaten Mukomuko bangga dengan keberadaan Mandi Angin di daerahnya, disisi lain nafsu oknum-oknum untuk berkebun sawit dikawasan itu tidak tertahankan. Terus “memperkosa” hutan yang seharusnya dilindungi.

      “Untung saja kontur hutan menuju air terjun ini terjal. Kalau tidak, mungkin saja sudah jadi kebun sawit,” celetuk dalam hati penulis saat kedua kali mengunjungi Mandi Angin.

      Jika ini tidak bisa dihentikan, bukan tidak mungkin Mandi Angin hanya akan menjadi sebuah dongeng bagi anak cucu kita nanti.

Mandi Angin Tidak “Mandi Angin” Lagi

Kenapa Air Terjun di Desa Air Berau ini dinamakan Mandi Angin? Mungkin sebagian pembaca sudah tahu. Tapi kembali penulis uraikan dalam tulisan ini, alasan masyarakat menamakan air terjun ini Mandi Angin. Salah satu alasan yang berhasil terhimpun adalah tidak lain dari kondisi alamnya.

 

Seno/ RBO
Air Terjun Mandi Angin salah satu destinasi andalan Mukomuko

Apa maksudnya? Ya, dulu, pengunjung air terjun ini jangan berharap bajunya bisa bertahan kering. Pasalnya hembusan embun yang muncul dari hempasan air yang jatuh sudah bisa dirasakan dari jarak ratusan meter, beberapa menit saja pengunjung dipastikan basah kuyup bak sedang mandi, dimandikan oleh angin, angin yang datang dari air terjun membawa butir-butir embun.

      Penulis patut bersyukur, pada 2017 lalu masih bisa merasakan sensasi “mandi angin” itu. Tapi penulis juga terenyuh, sensasi itu tak berulang. Saat Jurnalis Touring Kamis (2/8) lalu sensasi “Mandi Angin” menghilang. Hilang entah kemana kemana? Mandi Angin tidak memandikan kami dengan anginnya lagi.

      Penulis menduga, ini terjadi karena debit sungai aliran air terjun Mandi Angin sudah berkurang. Berkurangnya debit air ini patut diduga erat hubungannya dengan maraknya perluasan lahan perkebunan sawit di hulu sungai tersebut.

Menanti Peran Pemerintah

Tentu bagi yang mengagumi dan mencintai air terjun Mandi Angin, berharap ada pihak yang mampu meredam laju perluasan lahan perkebunan sawit diareal air terjun itu. Apalagi lokasinya berada di kawasan HPT.

      Harapan itu sekarang dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu khusunya Unit Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Mukomuko selaku instansi yang berwenang melakukan pengawasan di kawasan HPT.

      Saat dikonfirmasi, Plt. Kepala Unit KPH Mukomuko, M. Rizon, S.Hut. turut meyakini debit air sungai aliran air terjun Mandi Angin berkurang akibat hutan di hulunya sudah berganti tanaman menjadi sawit.

      Katanya, kedepan Unit KPH Mukomuko akan lebih menggalakan lagi pengawasan hutan di areal Air Terjun Mandi Angin. Selama ini pihaknya kerap melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berkebun di areal itu untuk tidak lagi menebang hutan di situ.

      Peringatan demi peringatan sudah disampaikan dengan pelaku penebangan. Bahkan, sambung Rizon, pada 2015 lalu, pihaknya sempat memusnahkan tanaman sawit milik masyarakat yang berada di hulu aliran sungai air terjun Mandi Angin tersebut.

      Namun kendala jumlah personel, Unit KPH Mukomuko tidak bisa melakukan pengawasan secara intensif. Apalagi beberapa tahun ini KPH sedang dalam masa transisi usai kewenangan dialihkan dari Pemerintah Kabupaten ke Pemerintah Provinsi.

“Kedepannya kita akan tingkatkan lagi pengawasan di wilayah air terjun itu. Setahun belakangan KPH ini masa transisi, tapi sekarang sudah mulai kembali normal. Hal-hal yang berkaitan dengan tugas pengawasan KPH Insya Allah dapat terpenuhi,” ujarnya.

Rizon menegaskan, jika dengan cara persuasif tidak mempan untuk menghentikan perluasan lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan HPT khusunya di areal air terjun Mandi Angin, maka pihaknya akan mengambil langkah preventif.

“Kalau masih juga tidak mau menjaga kawasan, maka tindakan hukum akan kita lakukan,” tegas Rizon.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu boleh melakukan apa saja yang seharusnya dilakukan dengan segala kewenangannya untuk menjaga air terjun ini. Namun ancaman keberadaan air terjun Mandi Angin ini akan terus ada, selagi tidak ada kesadaran. Kesadaran dari oknum-oknum yang melakukan penebangan untuk berhenti, kesadaran semua masyarakat untuk mengingatkan pelaku perusak hutan agar mereka berhenti. Biarkan Mandi Angin terus memandikan semua pengunjungnya dengan angin yang bercampur embun. Jangan biarkan Mandi Angin hanya menjadi sebuah cerita bagi anak cucu kita nanti. Mereka berhak menikmati, menikmati dimandikan oleh angin air terjun Mandi Angin.

Tentulah tanggungjawab melindungi keberadaan air terjun Mandi Angin ini bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tugas kita semua. Kita yang mencintai Air Terjun Mandi Angin.(**)