Senator Riri Ajak Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan

Senator Riri Ajak Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan

BERBAGI
Ist/ Iwan/RBO Senator Hj. Riri Damayanti John Latief saat di Mekah bersama Agus Harimurty Yudhoyono

RBO >>  BENGKULU >>  Adanya kasus pencurian, pencabulan sekaligus percobaan pemerkosaan terhadap salah satu mahasiswi di Bengkulu dan pemulangan empat atlet Jepang di Asian Games karena menyewa jasa pekerja seks komersil (PSK) baru-baru ini mengundang keprihatinan banyak pihak. Senator muda Indonesia, Hj. Riri Damayanti John Latief S.Psi menilai, dua kasus yang terjadi di tempat yang berbeda tersebut harusnya membuka mata semua pihak terkait bahwa upaya untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak harus lebih diperkuat dan diperhebat.

       ”Saya sangat prihatin dengan dua peristiwa itu. Ibarat fenomena gunung es, pasti lebih banyak lagi kasus yang belum terungkap. Ini menunjukkan bahwa program-program untuk memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak memerlukan regulasi dan eksekusi yang lebih baik lagi,” ungkap Senator Riri Damayanti kepada radarbengkuluonline.com tadi sore  (24/8).

       Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini menjelaskan, semestinya pada perhelatan Asian Games 2018 ini membawa dampak perekonomian dan pariwisata. Namun, lanjut Senator Riri, adanya kejahatan terhadap perempuan dan anak dalam dua kasus di atas semakin menegaskan bahwa perilaku eksploitasi dan kejahatan terhadap perempuan dan anak di sektor pariwisata masih sangat tinggi.

“Kejadian-kejadian yang baru saja terjadi harus menjadi alarm agar kita meningkatkan kewaspadaan. Pelaku bisa jadi menggunakan banyak modus. Apalagi sekarang ruang pergaulan semakin terbuka lebar dengan kehadiran media sosial dan kejahatan terhadap perempuan itu tidak lagi hanya bisa terjadi di tempat-tempat hiburan, tapi juga di tempat-tempat tak terduga seperti hotel, apartemen, hingga rumah pribadi. Jadi warga masyarakat harus terlibat aktif. Segera laporkan bila ada hal-hal yang janggal terjadi di sekitar kita,” jelasnya.

       Perempuan yang lahir 4 Februari atau selisih sehari dari pahlawan nasional Fatmawati Sukarno yang lahir pada 5 Februari ini menilai, budaya konsumtif memperparah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi saat ini. Dimana korban biasanya diberikan bujuk rayu dengan iming-iming uang atau kebutuhan materi yang besar.

      “Makanya saya bilang tadi ini butuh perhatian semua pihak. Tak cuma Pemerintah. Setiap keluarga, khususnya orang tua, mesti sering-sering mengarahkan anaknya dalam pengasuhan dan pengawasan positif agar tidak terjebak menjadi korban eksploitasi,” tegas  Riri.

       Selain itu, Riri memberikan apresiasi kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang telah menanandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan ketahanan keluarga dengan Wakil Presiden Iran urusan Perempuan dan Keluarga Masoumeh Ebtekar, Senin 30 Juli 2018 yang lalu.

“Semoga kesepakatan tersebut dapat mengantisipasi segala bentuk kekerasan dan pelecehan, termasuk pengaruh media digital dan lain-lain yang berdampak buruk terhadap perempuan dan anak dalam bentuk peningkatan partisipasi perempuan dalam politik serta penguatan ekonomi bagi kesejahteraan melalui pemberdayaan dan penyediaan teknologi informasi dan komunikasi yang positif dan ramah terhadap perempuan dan anak,” tutupnya. (idn)