Lurah Anggut Atas Mengadu ke Polda Bengkulu

Lurah Anggut Atas Mengadu ke Polda Bengkulu

BERBAGI
Dedi/RBO Ansori korban pengeroyokan (kiri) didampingi pengacaranya saat memberikan keterangan terkait dengan kejadian dan laporannya ke Polda kemarin

RBO >>  BENGKULU >>  Lurah Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Ansori bonyok. Sehingga Kamis malam, (13/9) ia mendatangi SPKT Polda Bengkulu. Ia melaporkan kasus dugaan pengeroyokan yang dialaminya. Terlapor dalam kejadian tersebut yakni berinisial RH (kakak ipar pelapor atau suami dari salah seorang oknum dewan Kota Bengkulu) JG (adik ipar pelapor) dan SH (kakak ipar pelapor). Peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Kamis sore, 13 September 2018 di rumah pelapor di kawasan Kelurahan Penurunan, Kota Bengkulu. Akibat dari kejadian tersebut, pelapor mengalami luka memar dan lebam di bagian pelipis mata sebelah kanan akibat pukulan dari terlapor.

      Diungkapkan Joni Iskandar SH selaku Penasihat Hukum (PH) pelapor, kejadian ini awalnya tiga orang terlapor tersebut mendatangi rumah korban atau kliennya. Saat itu kliennya kebetulan baru pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah terlapor langsung menuding klainnya melakukan perselingkuhan. Tanpa ada konfirmasi dan tanpa berbicara dengan baik-baik. Tetapi seolah-olah terlapor menekan bahasanya. Terhadap tudingan tersebut, pelapor menjawab dengan baik sewajarnya.

      Namun bahasa dari terlapor ini sudah sedikit mengintimidasi. Kliennya merasa punya rumah, dan tamu yang datang ini tidak sopan akhirnya pelapor ini bertindak berdiri. Namun terlapor RH langsung melayangkan tangannya ke arah kliennya.  Kliennya saat itu sempat menangkis pukulan tersebut, namun terlapor SH merupakan adik ipar dari kliennya langsung mendekam kliennya di kursi. Sehingga terlapor RH leluasa melakukan pemukulan.

      “Kalau pukulan yang dilayangkan oleh terlapor RH ini sudah tidak terhitung kalinya lagi. Karena di seluruh bagian muka, termasuk terlapor JG juga melakukan pemukulan. Yang melayangkan pukulan ke korban ini dua orang. Yaitu RH dan JG. Sementara SH mendekap korban di kursi,” ungkap Joni saat Jumat,(14/9).

      Lanjutnya, pada saat itu korban sempat melakukan perlawanan berupaya menangkis pukulan dari para terlapor. Namun karena lawan tidak seimbang dan ditambah sudah tersudut di kursi, akhirnya korban pasrah. Kemudian melarikan diri ke Polsek Ratu Samban untuk minta pengamanan. Saat itu korban berlumuran darah, sehingga pihak Polsek menyarankan korban agar ke rumah sakit dulu untuk berobat.

      “Pemicu utamanya kejadian ini karena adanya tuduhan perselingkuhan. Sebenarnya ini hanya permasalahan rumah tangga yang sudah lama sudah tidak harmonis lagi. Karena sebelumnya korban ini sudah diusir oleh istrinya dari rumah. Tetapi korban ini tidak melarikan diri jauh-jauh. Karena mengingat anak dan jabatannya sebagai Lurah di Kelurahan Anggut Atas. Sehingga dia ngontrak di salah satu kontrakan yang ada di Kota Bengkulu ini,” bebernya.

Ditambahkan Ansori, pukulan awal dari terlapor sempat ditahan dengan kaki. Karena saat itu dirinya sedang dalam posisi duduk di atas kursi. Terlapor yang melihat korban menahan dengan kaki, sehingga tambah emosi, dan akhirnya sekuat tenaga terlapor melakukan pukulan.

      “Yang saya rasa pukulan itu di bagian mata sebelah kanan, telinga, kepala bagian belakang. Selain dari pukulan tangan, juga ada pukulan dari kaki. Setelah kejadian ini saya juga merasa perut saya neg,” tambahnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Bengkulu, AKBP Sudarno S.Sos, MH saat dikonfirmasi terkait dengan laporan tersebut membenarkannya. Saat ini laporan tersebut sedang didalami dan ditindaklanjuti oleh Subdit Jatanras Reskrimum Polda Bengkulu.

“Ya, laporannya memang sudah masuk dan sudah kita terima. Yang jelas anggota masih melakukan penyelidikan dan pendalaman serta akan memanggil korban dan terlapor dalam waktu dekat ini. Intinya, kasus ini akan kita selesaikan secara profesional,” demikian imbuhnya.(ide)