Pemkot Respon Cepat, Doni Dapat Program Bedah Rumah

Ekonomi & Bisnis Featured Kota Bengkulu Sosial & Budaya

RBO, BENGKULU – Setelah mendapatkan laporan dari warga dan melihat langsung kondisi rumah Doni Sagita (32) yang sangat memprihatinkan, membuat Pemda Kota Bengkulu di bawah kepemimpinan Walikota Bengkulu, H. Helmi Hasan, SE dan Dedy Wahyudi, SE, MM langsung bergerak cepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Kami sudah mengirimkan tim untuk melihat langsung rumah saudara kita Doni Sagita, memang kondisinya cukup memprihatinkan dan atas perintah pak Wali Kota, H. Helmi Hasan, kita langsung respon dan akan membangunkan rumah untuk Doni bersama istri dan ketiga anaknya,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bengkulu, Syafriandi, SE, M.Si kepada jurnalis, (Senin 29/10).

Topher/RBO: Istri Doni, Dewi bersama anaknya

Menurut Andi Panggilan Akrab Syafriandi, terkait dengan lokasi lahan yang akan dibangun secara administrasi sudah lengkap dan siap untuk dilakukan pembangunan. “Lahan beliau ada, luasnya 5×13 dan rencananya akan kita bangun dengan bangunan tipe 21, sesuai dengan luasan lahan yang dimilikinya,” ujar dia.

Pada prinsipnya, Lanjut Andi pemerintah Kota Bengkulu sangat merespon hal-hal yang demikian dengan syarat secara administrasinya lengkap. “Kami tidak mau dikemudian hari ada permasalahan, maksud kita ingin membantu namun ada permasalahan dikemudian hari ini yang kami hindari, jika secara administrasi lengkap, maka rencana pembangunan bisa segera dilaksanakan,” sampai dia.

Topher/RBO: Doni dan keluarga saat makan pagi

Sebelumnya Doni Sagita (32) bersama istri Ni Ketut Sartika Dewi (26) dan ketiga anaknya, Rahman Al Aziz (7), Rohim Al Malik (5) dan Insan Salamullah (1,5 ) yang merupakan warga jalan Danau Raya RT 1 RW 1 Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, diberitakan tinggal di gubuk yang tidak layak huni, dan itu berada di dalam Kota Bengkulu.

Pasangan suami – istri dan ketiga anakanya ini, tinggal di gubuk reot yang berukuran 4,5 meter x 2,6 meter, yang kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya terbuat dari daun rumbia, mulai lapuk dan bocor bila hujan melanda, dindingnya dari kayu bekas saumil sumbangan para tetangga, kamar tidur, terletak di bagian belakang, sedangkan dapur di bagian depan, tidak ada ruang tamu.

Lokasi rumah yang di tinggali Doni dan keluarganya tidak jauh dari obyek wisata Danau Dendam Tak Sudah, masuk gang sekitar 75 meter dari jalan aspal. Keseharian Doni yang berkerja serabutan dan membantu mengurus kambing milik salah seorang pengusaha di Kota Bengkulu.

“Saat ini kambing yang saya urus tinggal 9 ekor lagi, kalau dulu mencapai 20-40 ekor, kalau ada laku kambingnya, saya mendapatkan insentif dari penjaualan kambing itu,” ujar dia.

Sementara mengenai penghasilan harian tidak menentu, kadang Rp 20 ribu, kadang Rp 50 ribu jelas sangat tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk memenuhinya, Doni juga kerja serabutan, dan bahkan pernah tidak mendapatkan uang sama sekali.

“Pernah sama sekali tidak punya uang untuk beli beras untuk dimasak, dan kami hanya makan tanaman sayuran dan buah pisang yang ada disekeliling kami,” kata Doni usai memberikan makanan kambing yang diurusnya.

Diakhir perbincangan Doni berharap kepada Allah SWT agar selalu diberikan kesehatan agar dapat menjalankan perintahnya dan bekerja yang halal untuk kebutuhan istri dan anak-anak.

“Kami berharap Allah selalu memberikan kesehatan baik lahir dan batin agar dapat beribadah dan bekerja,” singkat dia.

Apalagi anak yang pertama Rahman Al Aziz (7) sudah bersekolah di salah satu SD di Kota Bengkulu dan diharapkan memiliki masa depan yang cerah dan mampu merubah nasib untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. (hcr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *