Diminta Jadi Narsum Acara PKK, Bupati MM Cerita Pengalaman Perang

Featured Mukomuko Peristiwa Sosial & Budaya

RBO, MUKOMUKO – Pada saat mengisi materi di kegiatan PKK, Kamis (13/12) di gedung Darma Wanita, Bupati Mukomuko, H. Choirul Huda, SH berbagi pengalaman dirinya saat menggempur Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Timor-Timur tahun 1990 an saat ia masih aktif sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.

Katanya, pada saat penggempuran tersebut, ia dihadapkan dengan kondisi penuh kegalauan. Ia bersama 14 anak buahnya harus memilih lari dari pertempuran atau tetap menyerbu. Pada saat itu katanya, regunya hanya berjumlah 15 prajurit. Sedangkan gerombolan GPK yang akan diserbu jumlahnya hitungan sekampung.

“Waktu itu anak buah saya nanya terus, gimana Danton? Gimana Danton? GPK masih pesta, waktu sudah pukul 03.00 dini hari. Kalau saya ajak mereka mundur malu saya. Mereka panggil saya Danton. Kita putuskan untuk menyerbu,” ujarnya.

Saat baku tembak, ratusan bahkan mungkin ribuan peluru menyarankan kearah kelompoknya. Regu yang ia pimpin juga dihujani dengan granat. Satu anak buahnya terkena ledakan granat didepan mata kepalanya sendiri. Diungkapkannya itu waktu yang sangat mendebarkan.

Namun katanya, jika didalam jiwa prajurit tidak ditanamkan rasa cinta tanah air, siap menaruhkan nyawa demi bangsa, sudah pasti kami lari. Berkat pendidikan sebagai Tentara, Negara harus dibela. Tidak ada kata mundur, maju bertempur, pilihannya cuma menang dan mati.

“Kami dikirim ke medan perang untuk bertemu musuh. Bukan menghindari musuh,” tegasnya.

Wajar Bupati Mukomuko menyampaikan pengalaman perang ini, karena ia diminta mengisi materi kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara yang diselenggarakan TP PKK Kabupaten Mukomuko.

Menurutnya, Bela Negara tidak hanya untuk Tentara. Bela Negara ini harus ditanamkan kepada semua anak bangsa. Termasuk kaum perempuan.

Khusus para ibu-ibu dapat mengimplementasikan Bela Negara ini dengan cara membentengi anak dari paham radikal yang dapat mengurangi kadar kecintaan terhadap NKRI.

“Bela Negara tidak harus ke medan perang. Ibu-ibu bisa melakukan bela negara dengan membimbing anak supaya tidak terpengaruh paham radikal yang dapat mengganggu ketentraman NKRI. Menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak, itu sudah bagian dari Bela Negara. Situasi tanah air saat ini dihadapkan dengan pemikiran-pemikiran ekstrim yang harus dibendung,” demikian Huda. (sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *