Masa Kepemimpinan Malikin Sakti

Bengkulu Selatan Featured

Mengenal Marga VII Pucukan Bengkulu Selatan (8)

MARGA VII Putjukan (Pucukan-red) merupakan salah satu marga yang ada di Bengkulu Selatan. Untuk mengetahui sejarah Marga VII Pucukan ini, baca terus laporan bagian e delapan dari 13 tulisan yang ditulis wartawan radarbengkuluonline.com yang telah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diadakan Dewan Pers Pusat berikut ini.

AZMALIAR ZAROS – Manna, Bengkulu Selatan

SETELAH kepergian Puyang Ketunggalan itu, Marga VII Pucukan ini dipimpin oleh Malikin Sakti. Pada masa kepeminpinannya ini, dusun ini aman dan tenteram. Tidak ada terjadi peperangan di dusun ini. Penduduknya pun senang.

Masa kepemimpinan Malikin Sakti ini, dia mengatur daerah ini dengan penuh musyawarah. Ia mengatur segala sesuatunya untuk ditanam. Ia lebih fokus untuk mengatur soal cocok tanam. Dia mengatur cara berladang. Ia anjurkan penduduknya bertanam kapas. Kemudian, dia juga mengatur cara menenun kain secara alami.

Karena kerjanya bagus memimpin daerah ini, maka tersebarlah kabar itu kemana-mana. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut secara bersambung. Kabar itu mengalir bagai air saja. Tak terbendung. Bahkan, kabar itu sampai ke daerah yang jauh sekalipun.

Setelah kabar itu tersebar kemana-mana, maka secara berangsur-angsur datanglah orang ke Marga VII Pucukan ini. Termasuk anak cucu ketujuh Puyang ini juga datang ke tempat ini. Termasuk keluarga dan familinya yang ada di Minang Kabau, Sumatera Barat.

Yang banyak datang familinya adalah dari IV Lanang dan tanah Pasemah. Akibat banyaknya orang yang datang, maka tanahnya menjadi sempit. Bahkan, tak bisa lagi menampung orang itu untuk menetap di dusun itu.

Lalu, mereka akhirnya menempatkan familinya itu ke daerah yang dekat dengan dusun atau Marga VII Pucukan itu. Seperti ke Ulu Air Manna. Seperti Dusun Merambung yang sekarang telah masuk ke dalam Marga Ulu Manna Ulu dan Dusun Ulak Lebar Pauh. Sedangkan Talang Gujun dimasukkan ke Ulu Manna Ilir.

Karena pengaturan dusun tersebut yang begitu baik, maka timbullah rasa cemburu dari Puyang Gedung Agung yang waktu itu tinggal di Ganting Ulu Manna. Rasa cemburu itu berlanjut jadi perselisihan yang hebat.

Beruntung, perselisihan itu dapat dimusyawarahkan dengan bijaksana dan damai oleh kedua belah pihak Puyang tersebut. Mereka membuat perjanjian dengan cara dan mufakat yang baik baik.

Hasil dari perjanjian itu, disepakatilah bahwa Marga VII Pucukan diberikan tempat disebelah ilir. Sedangkan segala dusun-dusun yang ada di sebelah Ulu Manna jadi milik Puyang Gedung Agung. Setelah itu, Puyang Malikin Sakti wafat. Maka diangkatlah penggantinya dari anaknya sendiri yang bernama Mas Tembelang Megang Bumi.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *