Ekspor Kopi & Ikan Bengkulu Tak Tercatat di Bea Cukai

Ekonomi & Bisnis Featured Hukum & Kriminal Pemda Provinsi Pertanian Sosial & Budaya
Ekspor Bengkulu Turun 
RBO, BENGKULU – BPS Provinsi Bengkulu merilis ekspor Bengkulu pada bulan Desember turun. Terkait ekspor, ada temuan baru. Ternyata kopi Bengkulu dan ikan Bengkulu yang diekspor ke luar tidak tercatat di bea dan cukai. Dari pencatatan statistik tidak terdatanya ekspor kopi dan ikan membuat Bengkulu merugi.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah melalui Kabid Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu, Budi Hardiyono, S.Si, ME usai rilis menyatakan bahwa kopi Bengkulu dan ikan yang digaungkan ekspor, go internasional selama ini ternyata tidak tercatat aktivitas ekspornya keluar.
BPS mengendus ini sejak rilis bulan lalu. Karena ada kejanggalan, makanya kami konfirmasi dengan Bea Cukai Bengkulu. Timbul pertanyaan, kenapa para eksportir Bengkulu tak melaporkan ke Bea dan Cukai setempat? Menurut Budi Hardiyono, kemungkinan ekspor kopi Bengkulu ini dilalukan oleh pihak kedua. Jadi petani kopi Bengkulu ini menjual kopinya ke pihak kedua. Lalu pihak kedua ini yang mengekspornya keluar. Misalkan saja kopi Bengkulu dijual ke Lampung, lalu orang Lampung mengekspornya melalui Tanjung Priok dan tercatat di Bea dan Cukai sana sebagai komoditi asli sana.
Begitu juga dengan ikan. Ikan-ikan di Pulau Baai ini saja tak tercatat ekspornya di Bea Cukai Bengkulu. Demkian juga yang disampaikan Kanwil Perdangangan kita. Itu di Bengkulu ada ekspor ikan. Ternyata juga tidak  tercatat di Bea dan Cukai Bengkulu.
Menurut keterangan mereka, Bea Cukai, itu ternyata  eksportir ikan kita itu menjual ikannya ke Riau. Disana pengusaha Riau itu yang ekspor keluar luar negeri.
“Ya, harapan kita eksportir kita ini, ekspor lah melalui Bea dan Cukai Bengkulu. Atau boleh melalui pelabuhan lain, tapi dia langsung yang mencatatkan ekspornya sebagai produk Bengkulu di Bea Cukai setempat. Dengan tidak tercatatnya ini, ya merugikan kita. Secara statistik tidak tercatat di kita.’’
Potensi Provinsi Bengkulu tidak terlihat oleh pihak luar. Jika ini terjadi terus, ya tak dilirik kita. Sebab, mereka tak tahu potensi kita dan tak terbaca oleh orang luar.
‘’Dengan tercatat di statistik kita, maka terpetakan potensi Bengkulu. Sehingga pedagang beli produk kita. Meningkatkan pendapatan produksi petani kita,” kata Budi.
Disisi lain, ekspor Bengkulu turun dari 20,15 juta us Dolar turun 3,26 persen bila dibandingkan dengan bulan November 2018. Dilihat dari pelabuhan asal ekspor Pulau Baai masih melakukan ekspor terbesar yakni 55,06 persen. Kemudian dari Teluk Bayur 18, 33 persen, Sungai Musi 16,53 persen dan dari Tanjung Priok 10,07 persen.
Ekspor terbesar adalah batu bara. Pada bulan Desember 10,45 juta US dolar dengan negara sasaran India, Tiongkok, Belanda. (ae2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *