Kemendes PDTT Latih Petani Kopi Bengkulu

Desa Ekonomi & Bisnis Featured Lingkungan Pertanian Sosial & Budaya
RBO, BENGKULU – Wilayah Indonesia termasuk salah satu negara penghasil kopi terbesar nomor 3 di dunia. Dengan besarnya penghasilan kopi tersebut, untuk memenuhi permintaan pasar kopi di Asia Tenggara saat ini, berasal dari Indonesia.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI bekerjasama dengan StarBucks kopi paling besar di Asia Tenggara.
“Tepatnya yang di Bali, untuk membantu memberikan pelatihan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), agar dalam penanganan pasca panen kopinya memenuhi standar. Sehingga nantinya dapat memberikan nilai tambah lagi bagi petani,” kata Menteri Desa, PDTT RI, Eko Putro Sandjojo di sela-sela kegiatan Kampung Kopi Bengkulu, di Bengkulu kemarin.
Menurutnya, dengan besarnya potensi kopi di negeri ini, termasuk dari Bengkulu sendiri, memang diperlukan berbagai kegiatan untuk menumbuh kembangkan minat masyarakat agar mengkonsumsi kopi. Mengingat prinsipnya, kopi itu bukan saja mengetahui pada proses penanaman saja, melainkan juga pengelolaan pasca panennya dan menciptakan barista-barista baru.
“Jika sudah banyak barista-barista kopi dengan banyaknya berdiri caffe, sehingga masyarakat yang sekarang pola hidupnya sudah mulai cenderung berpikir pada penampilan, karena saya rasa kopi bagian dari gaya hidup dan juga sekaligus bisa memperkerjakan masyarakat, serta memberikan nilai tambah bagi petani sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh mengenai prospek kopi Bengkulu diakui Mendes, potensinya cukup banyak dan menjanjikan. Apalagi mayoritas masyarakat petani menanamnya di lahan tinggi. Seperti di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.
Sehingga kedepannya yang perlu dipikirkan terkait pasca panennya, apakah sudah masuk dalam standar nasional, bahkan internasional atau belum.
Pasalnya jika belum, pihaknya berencana untuk memberikan pelatihan kepada para petani nantinya.
“Kita akan memberikan pelatihan pasca panen melalui BUMDes yang dihubungkan dengan pengusaha kopi nantinya. Sehingga bisa memberikan nilai tambah lebih baik lagi bagi petani dan produksinya berstandar internasional,” tukasnya. (idn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *