Panca Darmawan, SH, Tokoh Termirip Soekarno Siap Mengabdi Untuk Bengkulu

Featured Kota Bengkulu Politik

RBO, BENGKULU – Panca Darmawan SH pemenang kontes tokoh mirip sang proklamator RI Soekarno tahun 2008 kembali untuk mengabdi kepada masyarakat Bengkulu.

Selama ini pengabdian yang dilakukan melalui jalur lawyer, agar lebih maksimal dan masyarakat lebih banyak yang mendapatkan manfaatnya, Panca Darmawan SH memutuskan untuk terjun langsung dalam kontes politik tahu 2019 menggunakan perahu partai Hanura dari Dapil IV Ratu Agung-Ratu Samban nomor urut 2.

Ada beberapa alasan yang membuat Panca Darmawan, SH yang juga seorang pengacara kawakan Kota Bengkulu ini untuk terjun kedunia politik di Kota Bengkulu. “Saya ingin memaksimalkan potensi diri saya, sebab ada beberapa pemikiran Bung Karno yang saya jiwai,” kata dia kepada jurnalis saat menemuinya di rumah kediamannya, Padang Dedok Kota Bengkulu.

Pemikiran – pemikiran Bung Karno tersebut salah satunya mengenai gotong royong, dimana pemikiran tentang gotong royong ini diambil dari budaya bangsa Indinesia yang sangat memelihara kekeluargaan dan lebih suka menyelesaikan suatu permasalahan dengan musyawarah mufakat dan  sangat suka bergotong royong.

“Budaya bangsa kita salah satunya adalah suka bergotong royong dan ini ada dalam pemikiran Bung Karno dan tepat jika diterapkan di Kota Bengkulu yang mulai mengarah kepada individualistic,” kata pria kelahiran 10 November 1959 ini.

Dijelaskan Panca walaupun dirinya sebagai seorang lawyer atau pengacara, namun terkait dengan suatu permasalahan lebih baik di selesaikan dengan jalan musyarah mufaat dan duduk bersama setepung setawar, karena dengan demikian ada sanksi social yang dirasakan oleh si pembuat salah tersebut. “Walaupun saya pengacara namun saya lebih suka menyelesaikan masalah dengan musyawarah mufakat, jika tidak ada solusi lain baru diselesaikan keranah hukum,” tutur anak kelima dari sembila bersaudara tersebut.

Lalu pemikiran mengenai Marhaenisme juga sangat disukai oleh Panca. Marhaenisme adalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Ideologi ini dikembangkan oleh Presiden pertama Negara Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dari pemikiran Marxisme yang diterapkan sesuai natur dan kultur Indonesia. Soekarno mencetuskan Marhaenisme yakni untuk mengangkat harkat hidup Massa Marhaen (terminologi lain dari rakyat Indonesia), yang memiliki alat produksi namun (masih) tertindas. Meski demikian, pengertian Marhaen juga ditujukan kepada seluruh golongan rakyat kecil yang dimaksud ialah petani dan buruh (proletar) yang hidupnya selalu dalam cengkeraman orang-orang kaya dan penguasa/Borjuis/Kapitalis. (Wikipedia)

“Saya juga suka pemikiran mengenai marhaenisme dari Bung Soekarno, akan tetapi dalam kontek ini saya tidak akan masuk secara mendalam ke ranah pemikiran ini,” ujar ayah dari empat orang anak.

Terkait dengan kondisi Kota saat ini, Panca Darmawan mengakui ada sesuatu yang kurang dalam perjalanan pemerintahan di Kota Bengkulu. Misalnya mengenai pengembangan kawasan atau tata kota yang bisa dibilang kurang maksimal dan tidak memikirkan efek jangka panjang.

“Misalnya mengenai siring saja, jika saya mendapatkan kepercayaan masyarakat, saya akan usulkan mengenai garis sempadan siring, karena hal ini sangat mendesak, sebab di beberapa kelurahan itu sering dilanda banjir dan kesulitan untuk diatasi karena banyaknya sampah dan sebagainya,” jelas dia.

Namun yang jelas dari kesemua itu adalah keterpanggilan hati nurani untuk berbakti dan mengabdi kepada masyarakat Bengkulu. Dimana saat ini kondisi kota Bengkulu sepertinya kehilangan konsep dan arah pembangunan untuk jangka panjang. Oleh karenanya jika mendapatkan kepercayaan masyarakat melalui legislative, maka siap untuk menjadi penyambung lidah rakyat Kota Bengkulu. “Saya siap untuk menjadi penyambung lidah rakyat Bengkulu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di Kota Bengkulu,” tutup nya. (hcr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *